S2. Rise

196 31 3
                                        

Seperti keseharian yang biasanya, Sebastian memasuki kamar tuannya dan membuka tirai kamar setelah memanggil tuan mudanya untuk bangun. Dengan terampil, ia menyeduhkan teh pagi hari, dan dilanjutkan menjelaskan jadwal Ciel sambil membantunya berpakaian. Kemudian Ciel menyantap sarapannya di ruang makan dan berlanjut ia mengerjakan dokumen.

Meski kediaman selalu saja ramai dengan tingkah Mey Rin, Baldroy, dan Finnian dengan Tanaka yang mengawasi, Sebastian dengan setia menyelesaikan masalah yang mereka perbuat. Dengan keramaian yang dibuat, suasana rumah telah berubah menjadi aneh setelah nona rumah itu tidak diketahui keberadaannya yang hidup atau mati.

Diruang kerja, Ciel sudah menyelesaikan tugas dokumennya. Karena tidak ada kegiatan lainnya, entah mengapa terlintas di kepalanya untuk membuka surat-surat dari kakaknya. Perhatiannya pun terfokus kembali pada satu kesimpulan....... Setiap surat ini memiliki bau yang berbeda dengan aroma parfum yang digunakan Cayena. Terlebih tulisan pesannya dengan nama pengirim memiliki jarak yang terlihat aneh.

"Tok tok tok..... Bocchan, ada surat dari madam red untuk anda."

"Ck mengganggu saja. Bawa masuk."

Surat khas bibinya yang selalu berwarna merah telah berada di tangannya. Sebastian yang paham tuannya ingin dia membacanya, segera dia bukakan dan membacanya.

"Bocchan, madam red akan datang berkunjung besok. Kemudian untuk masalah toko milik Cayena-sama sudah benar-benar milik anda, dan madam juga sudah mengaturnya."

"Hmm... Siapkan dengan baik.  Besok akan menjadi hari yang panjang."

"Yes my lord. "










































"Hem~ cara ini masih belum berhasil. Tapi sudah cukup lebih baik dari sebelumnya. Seharusnya setelah dilakukan ini berhasil."

Gumaman itu terus menerus diucapkan Undertaker yang ditemani oleh puluhan tubuh tak bernyawa.

Dengan eksperimennya ia terus berusaha mencari cara membangkitkan sang pujaan hati. Hingga suatu hari......

Gerakkan tubuh yang semulanya hanya diam mulai bergerak gelisah. Undertaker yang berada di sebelahnya, menggenggam tangannya erat erat. Perlahan tapi pasti, mata sang pujaaan hari mulai terbuka dan memperlihatkan kembali mata birunya yang cantik.

"My dear...... Aku merindukanmu"
Terasa tanpa beban Undertaker menggendongnya dalam pelukan hangatnya.

"Aku menepati janjiku Cayena. Jadi jangan tinggalkan aku." Lanjutnya.


Cayena yang tak bisa menggerakkan badannya, hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali tak mengerti ucapan Undertaker. Tubuhnya terasa lebih ringan namun sulit digerakkan, dan juga ia merasakan kaku di sekujur tubuhnya.

"Sudah lama aku menunggumu seperti saat ini."
Tak memperhatikan ucapan Undertaker, fokus Cayena teralihkan pada peti mati yang dihiasi banyak bunga yang berada di sebelahnya. Dengan cepat rasa nyeri menyerang kepalanya, seperti banyak ingatan yang masuk ke dalam kepalanya.

Undertaker yang paham Cayena dalam proses pengembalian ingatan, terus menemani dan tetap memeluknya.

"Sekarang kamu bukan Cayena Phantomhive, melainkan Cayena Hillrose .........
Istriku......
Dan kita selamanya bersama. "










TBC





never let you go againCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang