VI

1.9K 204 64
                                        

|Attention|

🎬5488 word🎬

🎬5488 word🎬

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Sayang kita perlu bicara"


Pharita dan Ruka serempak menoleh ketika mendengar suara bass itu. Jeno dengan pakaian rapinya menghampiri kedua orang itu dengan mata tajam yang tak lekang dari Ruka, laki-laki itu menggenggam tangan Pharita dan membawa calon istrinya itu ke atas.

Sesampainya di ruangan kerja Pharita pasangan itu duduk berhadapan, Pharita dengan ekspresi datarnya hanya diam menunggu tunangannya itu mengatakan sesuatu.

"Kenapa laki-laki itu ada di rumah kamu? Dia itu bahaya sayang" Ucap Jeno menggenggam kedua tangan Pharita dan mengusapnya lembut.

"Ruka bukan orang yang bahaya, adik kamu yang memulainya waktu itu" Ucap Pharita tidak terima jika laki-laki sipit itu di salahkan, padahal Ruka tidak sepenuhnya bersalah waktu itu.

"Oke sekarang kamu liat dia laki-laki yang baik-baik aja tapi kita nggak tau aslinya dia kayak gimana kan? Sebagai calon suami kamu aku khawatir sama kamu sayang" Jeno akan mengecup punggung tangan Pharita tapi Pharita lebih dulu menariknya hingga ia mencium telapak tangannya sendiri.

"Hanya saya yang kamu khawatirkan?" Tanya Pharita membuat Jeno seketika tergagap.

"Ma-maksud ak-aku semuanya kamu, Alden, Rora, Canny" Sahut Jeno membuat Pharita berdecih.

Wanita itu beranjak dari duduknya lantas bertanya tanpa menatap calon suaminya itu,"Sudah hanya itu yang mau kamu bicarakan dengan saya?"

Jeno ikut berdiri, menghadap ke arah Pharita dan kembali menggenggam tangannya yang jari jemarinya bersih tanpa ada cincin satu pun, bahkan cincin pertunangan mereka tidak Pharita kenakan.

"Bukan cuma itu, tujuan utama aku kesini karena mau kasih berita penting tentang pernikahan kita" Ucap Jeno menatap mata tajam Pharita,"Papa dan Papi kamu nyuruh kita buat cepet-cepet nikah, mereka udah nggak sabar pengen gendong cucu lagi"

"Kenapa harus menikah? Bahkan saya bisa memberikan mereka cucu tanpa menikah sekalipun" Sahut Pharita lalu melepaskan tangan Jeno dan keluar dari ruangannya.

Jeno yang bertujuan untuk membujuk Pharita supaya mau mempercepat pernikahan mereka pun mengikuti langkah wanita dingin itu.

"Rita please, mau sampai kapan kamu nunda pernikahan kita?" Tanya Jeno sedikit frustasi.

"Sampai Alden tidak takut dan tidak menganggap kamu monster lagi," Pharita menghentikan langkahnya lalu menatap laki-laki berambut pirang itu,"Jika dalam pernikahan kita kamu hanya menerima saya, saya tidak akan pernah menikah dengan kamu Jeno"

SECRETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang