XIX

1.5K 167 153
                                        

|Attention|

🎬3445 word🎬

"Selamat pagi semuanya"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Selamat pagi semuanya"






"Oh Minji, selamat datang" Opa dengan sumringah menghampiri laki-laki yang di panggilnya Minji itu.

Merangkul bahunya seperti terlihat akrab dan mengajak nya duduk.

Sambil berjalan ke sofa Minji terus melirik Pharita yang masih berdiri menggendong Alden dengan wajah datar dinginnya.

"Mau minum apa?" Tanya Opa menawarkan.

"Apa saja Tuan" Jawab Minji tersenyum ramah lalu matanya kembali menatap Pharita yang akan pergi dari sana.

"Pharita tolong buatkan kopi untuk calon suami mu ini" Pinta Opa saat Pharita sudah menaiki tangga.

Mata Pharita memicing, dengan berani menatap tidak suka ke arah Opa yang seenaknya menyebut laki-laki itu adalah calon suaminya, padahal pak tua itu tau jika Pharita memiliki Ruka. Cih sialan.

"Pelayan dengar yang di perintahkan Tuan besar?" Tanya Pharita menoleh pada pelayan yang standby tidak jauh dari sana.

"Dengar Nyonya"

"Buatkan kopi untuk laki-laki itu" Pharita lanjut menaiki tangga.

"PHARITA! Dimana sopan santun kamu terhadap calon suami mu sendiri?!" Bentak Opa sambil beranjak dari duduknya, rahang nya yang mengeras sampai berkedut karena emosinya dengan mudahnya meluap.

"Tuan sudah tidak papa, mungkin Pharita ingin istirahat" Ucap Minji mencoba menenangkan pak tua itu.

"Saya sudah memilih calon suami saya sendiri, anda tidak berhak mengatur kehidupan saya walaupun anda adalah kakek saya" Ucap Pharita dingin lalu melanjutkan jalannya menuju ke kamarnya.

Sampai di kamar Pharita meletakkan Alden di ranjang dan memberikan IPadnya untuk di mainkan, bentakan Opa membuat anaknya semakin takut dan mungkin dengan bermain game bisa membuat Alden melupakan ketakutan nya itu.

Pharita lalu mencoba menghubungi Ruka karena sejak tadi malam kekasihnya itu sama sekali tidak mengabarinya.

"Ck kemana dia? Apa sedang quality time dengan ibunya?" Pharita berdecak frustasi karena saat melakukan panggilan handphone Ruka tidak berdering.

Karena percuma menghubungi Ruka yang bahkan nomernya tidak aktif akhirnya Pharita duduk di samping Alden, mengajari anaknya itu cara bermain game berhitung dengan benar. Alden yang dasarnya pintar dan jenius seperti Pharita pun sangat cepat sekali belajar, bahkan di usianya yang baru 3 tahun Alden bisa menghitung tambah dan kurang walaupun baru 1 sampai 10.

Tok! Tok!

Sedang asik mengajari Alden tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk, Pharita lalu beranjak dan membuka pintu. Di lihatnya Canny yang terlihat panik sambil meloncat-loncat kecil dan mengibaskan tangannya.

SECRETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang