"Saya cuma anak petani emang pantas buat bersanding sama orang kaya raya kayak Tante Rita?"- Aruka Cipto Prayoga
"Ketika kamu benar-benar mencintai seseorang, usia, jarak, tinggi, berat, harta... Itu hanya angka. Saya nggak peduli tentang semua itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo kenapa bisa berantem sama Rora sih? Pacaran aja belum udah berantem mulu" Heran Rama sambil menatap Aksa di sampingnya.
Pagi menjelang siang ini setelah dari tempat gym bersama Aksa dan Rama Ruka mengajak mereka pergi ke tongkrongan, karena sudah lama mereka tidak berkumpul bersama karena kesibukan mengerjakan skripsinya.
"Tau nih, lo apain adeknya Tante Pharita hah? Awas ya sampe lo nyakitin Rora" Ucap Ruka dengan wajah songong nya menunjuk Aksa.
Aksa menghela nafas panjang, menyeruput kopi hitam nya lalu berucap,"Kemarin pas gue sama Rora ke bioskop gue nggak sengaja liat Hani sama suaminya, terus—"
Brakk!!
"Wah parah lo, lo belum move on dari Hani bunny sweetie?!" Sentak Rama setelah menggebrak meja.
"Stt dengerin dulu Ram, Aksa belum kelar cerita juga udah lo potong aja" Ucap Ruka menendang kaki Rama di bawah meja.
"Iya sorry sorry," Rama mengusap-usap kakinya yang di tendang Ruka dengan wajah masam nya,"cepetan lanjutin ceritanya Sa"
"Rama bener Ka gue belum sepenuhnya move on dari Hani, gue masih sayang sama dia, gue cemburu waktu liat dia ketawa-ketawa sama cowok selain gue," Jujur Aksa, menundukkan kepala nya sambil memainkan bungkus rokok milik Rama.
"Gue belum sepenuhnya ikhlas dia punya suami dan suami dia bukan gue"
Ruka dan Rama saling pandang lalu serentak menghela nafas.
"Terus kalau lo belum move on kenapa lo deketin Rora?" Tanya Ruka menatap Aksa yang masih menunduk.
"Gue nggak mau ya sampe Rora di jadiin bahan pelampiasan sama temen gue sendiri, bisa habis lo Sa sama cewek gue"
Aksa menegakkan kepalanya lalu menggeleng,"Nggak kok Ka, gue nggak akan jadiin Rora bahan pelampiasan gue—gue serius mau deketin dia karena gue tertarik sama dia, gue nyaman, gue suka sama Rora"
"Udah Ka muka lo jangan sok serem gitu Aksa kan anak baik-baik nggak mungkin dia nyakitin Rora" Ucap Rama merangkul Aksa yang terlihat murung itu.
Ruka menghela nafas, menyugar rambutnya lalu membuka handphone yang sejak tadi sama sekali tidak ia sentuh dan ternyata ada notif dari Pharita.