"Saya cuma anak petani emang pantas buat bersanding sama orang kaya raya kayak Tante Rita?"- Aruka Cipto Prayoga
"Ketika kamu benar-benar mencintai seseorang, usia, jarak, tinggi, berat, harta... Itu hanya angka. Saya nggak peduli tentang semua itu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu bulan berlalu begitu cepat, semenjak pertemuan nya dengan kedua orang tua Nancy waktu itu Ruka tidak pernah lagi melihat sahabat nya itu. Ruka sudah berusaha mencarinya kemana-mana tapi ia sama sekali tidak menemukan gadis itu, terakhir kali ia memberanikan diri berkunjung ke rumahnya dan bogeman mentah yang ia dapatkan dari Daddy Nancy.
Setelah mendapatkan pukulan itu Ruka tidak menemui Pharita selama seminggu karena takut jika Pharita akan melakukan sesuatu pada Daddy Nancy jika tau orang itu lah yang mencelakai Ruka.
Pharita tentu frustasi karena tidak bertemu kekasihnya itu selama 7 hari, 1 hari saja ia sudah merindukan nya dan Ruka dengan teganya tidak menemuinya selama 1 minggu. Bahkan wanita itu sampai mengerahkan para bodyguard nya untuk mencari Ruka tapi Ruka yang sudah paham dengan tindakan Pharita itu bersembunyi di rumah Aksa karena ia yakin jika kekasihnya itu tidak akan menemukan nya di sana.
Saat ini Ruka dan Aksa sedang berada di ruang tengah sambil bermain PS, merefresh pikiran yang pusing karena skripsinya. Mata mereka yang fokus pada televisi yang sedang memperlihatkan pertandingan sepak bola antara Aksa dan Ruka itu membuat mereka tidak menyadari jika sudah ada dua perempuan berbeda usia yang berdiri di belakang mereka.
"Seru game nya?" Tanya Pharita, wanita yang berdiri di belakang sofa dengan wanita paruh baya yang merupakan pembantu Aksa.
"Seru banget Bi" Jawab Ruka hanya mengangguk sekilas tanpa melihat ke belakang, takut tim nya kalah dengan Aksa.
"Mau minum apa? Biar saya bikinin" Tawar Pharita.
Aksa yang terlebih dulu sadar dengan suara yang bukan suara bibi nya itu menoleh ke belakang tapi dengan cepat Pharita memelototi nya dengan jari telunjuk di bibir, memberi kode laki-laki itu supaya diam.
"Susu aja Bi udah seminggu saya nggak nyusu-eh anu-maksudnya nggak minum susu" Ucap Ruka sedikit dengan pikiran mesumnya membuat Aksa dan bibi sama-sama menggeleng.
"Ya sudah saya buatkan" Pharita lalu meminta bibir untuk mengantarnya ke dapur.
"Nyonya biar saya aja yang bikinin susu buat Den Ruka" Ucap Bibi saat Pharita akan mengambil gelas.
"Tidak usah, biar saya aja yang membuatnya Bibi tinggal mengambilkan susu dan garam" Ucap Pharita tetap mengambil gelas.
"Ga-garam nya buat apa Nyonya?" Bingung Bibi.
"Ruka suka susu yang asin"
Sambil mengambilkan apa yang di pinta Pharita Bibi menggaruk kepalanya dengan bingung,"Haa~ den Ruka susu asin?"
"I-ini nyonya susu sama garamnya" Bibi memberikan dua barang itu pada Pharita.
"Terimakasih Bibi" Pharita lalu menyeduh garam itu dan Bibi meringis saat melihat wanita dingin itu menyendok satu sendok garam penuh dan menuangkan nya di gelas yang berisi susu.