Zazzz...
Bunyi mendesis keluar dari tempat ia jatuh. Lantai yang ia pijak berwarna hitam dan berasap, membentuk sebuah lingkaran hitam sempurna. Bajunya berasap, tetapi tak terbakar. Rambut dan kulitnya tertutup abu entah darimana. Titik-titik kuning berputar-putar di matanya.
Miko mengerjapkan mata, berharap bahwa ia tengah bermimpi. Matanya perlahan memfokuskan cahaya. Nafasnya masih memburu.
Seketika itu ia berada di tempat yang sangat asing baginya. Seperti lingkungan disekitar masih berbau kuno.
Dirinya berada di dalam sebuah bangunan, matanya tak henti-hentinya memandang takjub ke setiap penjuru ruangan. Holograf-holograf kuno terpatri di setiap sudutnya. Lebih kuno dari yang pernah ia lihat, gambar-gambar asing tersebut seperti menyimpan sebuah kisah. Ia tak mengerti satu patah kata pun.
Udara disekitarnya hangat, seolah-olah hawa dingin tak berlaku disini. Pijar-pijar cahaya mentari menerobos masuk melalui celah dinding.
Tak ada apapun disini, pemandangan telah berubah. Hanya dirinya, dan beberapa gundukan gelap yang tampak berlendir, dia tak akan menyentuhnya. Makhluk itu--Oryn, sepertinya telah menghilang, beserta rumah, perabotan, dan ayahnya.
Ia menunduk cemas, apa yang terjadi dengan ayah?
Tangannya menangkap sesuatu di balik baju, ia mengeluarkannya. Ia terlonjak, sontak tangannya melempar benda berat itu. Bunyi berdencing keluar saat benda itu menyentuh lantai batu. Sebilah pisau terlempar keluar dari sarungnya.
Belati ayah!
Ajaibnya tak menghilang ketika ia masuk kedalam pintu.
Miko ragu sebentar, lalu mengambil sabuk belati dari lantai. Saat dipasang dipinggangnya sendiri, sabuk itu terasa aneh; dia merasa aneh. Sabuk dan sarung hanya berbobot beberapa pon, tetapi ketika belati disarungkan, rasanya pinggangnya serasa membawa beban besar.
Dengan marah, ia menegur diri sendiri. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk berkhayal yang tidak-tidak. Belati itu hanyalah sebilah pisau dapur. Berapa kali ia menghayal memegang sejata dan berpetualang? Ia tak yakin dapat membunuh satu Oryn pun dengannya. Tapi bila ayah bisa, mengapa ia tidak? Ia berharap nasib mujur menyertainya. Saat ini, ia harus mencari bantuan.
Tak ada waktu untuk merapikan diri. Cahaya! Mengapa? Oryn. Makhluk dongeng. Oryn! Demi Sinar, melompat dari malam. Sang Kegelapan, Cahaya!
Miko segera menuju pintu--yang merupakan satu-satunya pintu dalam bangunan, langkahnya menggema pada lantai batu berdebu. Pikirannya terfokus dengan apa yang menantinya dibalik pintu. Bersembunyi seperti tikus dalam liang, pikirnya kesal. Tidak, ia tak ingin jadi pengecut.
Pintu kayu berderit terbuka, cahaya pagi berkilat masuk menerpanya. Pagi?
Ia tercengang. Semua bangunan mempunyai arsitektur yang asing, banyak orang menatapnya heran. Udara masih berbau aneh, seakan membawa hawa mistik nan kuno. Suasana berasa asri, namun sedikit ketegangan terselubung didalamnya.
"Oh." gumamnya,
Desahan orang-orang menyadarkannya, pakaiannya terlalu mencolok perhatian. Dengan enggan ia mencopot jas putihnya. Salah seorang penduduk yang membawa keranjang menatapnya curiga, seolah ia adalah seorang pencuri buah atau apa.
Derr...
Pintu dibelakang menutup dengan sendirinya, ia terlonjak kaget. Beberapa anak cekikikan di seberang jalan atas tingkah lakunya. Ia merapatkan bajunya, selain menghangatkan diri, terutama untuk menutupi sabuk belati di pinggangnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Legend of Wars
Adventure"Berikan tongkat itu padaku, sekarang." teriak Kata. Tak ada hak untuk hidup, tak ada alasan! "Tunduklah padaku. Lupakan semua ikrarmu. Janjimu!" Kematian berada didepannya, kematian berada ditangannya. Morin menengadah, satu keputusan akhir telah...