Okay.. Ini cukup mengerikan.
Diriku, tembus pandang..
mencenangkan..Apakah aku sinting?
Mungkin. Aku kembali utuh, maksudku normal. Sedetik yang lalu aku telah menjadi hantu, atau setidaknya begitu menurutku. Yang utama aku berhasil kabur dari kedua orang itu, hah, mereka tak kan pernah bisa mengejarku.
Seperti yang Paman Dann bilang, menyelinap seperti rubah dan lari bagaikan elang. Tidak masuk akal memang, namun sekarang mungkin berguna. Tanganku mencengkram batang pohon oak basah, berusaha menggapai napas dengan rakus. Aku jadi ingat ayah. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia tengah mencariku?
Tak ada satupun pertanyaan yang dapat kutebak, aku mendesah. Dan hal terpenting sekarang adalah, bagaimana aku dapat keluar dari hutan ini? Rupanya aku telah masuk terlalu dalam, disini memang gelap, namun gelap yang berbeda. Gelap disini sangat rapi, sinar bulan secara bertahap menutupi rerumputan tanah, pohon-pohon rindang bergemerisik lembut dibawah nyiuran angin. Membawa semacam syair pengantar tidur.
Anehnya, aku tak terlelap sedikitpun, alih-alih merasa segar kembali serasa telah tidur berhari-hari ditengah perapian dan kasur empuk. Oh, aku rindu rumah. Tidak, tidak, jangan memikirkan hal enak selagi keadaan seperti ini. Itu dapat mengacaukan pikiranku.
Pohon-pohon semakin rapat di kedua sisi, bunyi gagak melintas diatas angin. Suara air sungai sedikit membuatku tenang, dan serigala tengah melolong di kejauhan.
Semacam jalan setapak kecil menyembul keluar dari semak belukar. Pohon-pohon Willow berayun lembut diatas kepalaku, seolah berusaha menenangkan. Seekor tupai melonjak kaget ketika sepatu botku tak sengaja menginjak ranting. Rindang pohon menyembunyikan sinar bulan, membuat lingkupan mistis antara pepohonan. Jauh disana, hamparan Prairie dan Oak menanti dengan tenang, dibawah gelapnya kekuasaan Sang Raja Malam.
Rumah-rumah penduduk terlihat mengepulkan asap. Bersama keluarga, memasak sup panekuk dan es krim coklat di akhir musim panas. Hanya aku, yang berada diluar, terlupakan. Menatap bintang malam bagaikan gemerlap mutiara dalam balutan sutra semesta terhalus.
Dan angin senantiasa menemaniku.
《《《《《 》》》》》
"Kau telah memberitahunya, Harry?"
"Kuharap begitu. Ia masih anak-anak, aku tak tega."
"Tapi, kau sudah tau betapa mendesaknya keadaan kita."
"Aku tahu, Sean. Aku tahu.." geramnya.
Pria tua itu mendelik tajam kearah para tamunya. Rambutnya yang putih bergerak-gerak akibat amarah. Matanya mengerjap cepat, sedangkan kedua tangannya ia selipkan ke dalam jaket.
"Tak bisakah kita menunggunya untuk mengetahuinya sendiri?"
"Itulah yang kami takutkan, sangat fatal bila ia tak mengetahuinya tepat waktu."
Salah seorang pemuda bangkit menghampiri sang pria tua. Wajahnya penuh belas kasihan, namun juga kecemasan. Langkahnya anggun namun tatapannya tajam.
"Aku tahu perasaanmu, memang berat untuknya bila ia telah mengerti. Tapi takdir adalah takdir, dan kau tak bisa mengubah sejarah begitu saja."
"Tapi Nad, bagaimanapun juga dia adalah anakku. Dan akulah yang bertanggungjawab atas semua takdirnya, bukannya ramalan sinting itu!"
Terdengar petir nyaring tepat setelah ia mengucapkannya, angin tiba-tiba bergemuruh ganas. Anjing-anjing menggonggong di seluruh penjuru, seakan ada bahaya besar akan menimpa.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Legend of Wars
Adventure"Berikan tongkat itu padaku, sekarang." teriak Kata. Tak ada hak untuk hidup, tak ada alasan! "Tunduklah padaku. Lupakan semua ikrarmu. Janjimu!" Kematian berada didepannya, kematian berada ditangannya. Morin menengadah, satu keputusan akhir telah...