Perbatasan Darkwood

62 4 0
                                    

Siang perlahan menggayut dibawah malam, bayang-bayang pohon seakan bagai tangan-tangan kasar yang siap menerkam dan menggapai. Bulan tampak samar merangkap bersama kabut awan, ketika mereka telah jauh memasuki hutan. Daun-daun berbisik nyaring diatas udara, berkilaukan sinar.

Telah lama sekali mereka menapak. Pemandangan telah berubah dari ladang bunga menjadi pepohonan rapat yang angker. Tak ada jalan setapak, ladang, rumah, bahkan api.

Udara semakin dingin menggigit ketika mereka masuk menembus jalan diantara semak. Serigala meraung dikejauhan dan sang ksatria tampak berjalan dengan terburu-buru memimpin di depan. Seluruh rombongan berjalan dalam kesunyian.

John memandang ke belakang, pedang telah siap ditangan, memandang tak percaya pada pemburu-pemburu lain. Tampaknya ia masih sangat kesal dengan Han,

"Katamu, kau tak punya pisau?"

"Bukan punyaku! Aku menemukannya,"

"Tapi kan, hanya kau keluarkan sebentar!"

"Anak-anak!" Desis sang Kesatria.

Pemburu-pemburu lain menghentikan langkah, tombak terpasang dalam posisi siap tembak. Sepertinya mereka tahu apa yang tak beres. Detakan langkah sepatu bot terhenti sejenak, sementara hujan rintik-rintik mengisi kesunyian diantara mereka. Dan suara suara aneh samar-samar jauh didalam hutan. Mendekat.

"Bahkan hanya untuk kuda?" Bisik John.

"Shusshh..." salah satu pemburu menutup mulut John.

Sang kesatria memajukan lentera, bercakap-cakap sendiri tak jelas, dan berbalik kearah para pemburu. Sementara suara-suara itu kembali menjauh.

"Nah, ternyata kalian tak semudah yang kukira. Banyak musuh mengintai di luar Dinding Besar, jika kalian tak bisa tenang, Oryn dengan senang melahapmu dalam sekejap."

Han merunduk, mantelnya ia rapatkan karena dingin yang terus-menerus menerpa tiada henti. John kelihatanya juga sangat letih, napasnya terengah-engah dan mukanya putih pucat. Jelas-jelas akan ambruk tak sampai semenit bila mereka memutuskan untuk terus berjalan.

"Ck ckk, dasar anak kota." Kesatria itu memandang sekeliling. "Ayo, anak-anak."

Para pemburu menuntun mereka menuju sebuah pagar gerbang yang tak terawat. Muncul dan tenggelam didalam semak belukar sebelum akhirnya sampai di padang rumput luas terbuka.

Kabin-kabin mulai terlihat jelas, dengan perlengkapan tidur dan perapian di setiap ruangannya. Sekelompok orang tengah memandang mereka penasaran, pakaian mereka semua terbuat dari logam. Sedang di pinggangnya terdapat sarung pedang panjang. Gemerincing rantai menghias sepatu bot kulit mereka.

Suasana gembira menyelimuti mereka berdua, asyiknya bisa merasakan kehangatan lagi. John berlari-lari kecil diatas rumput, terkikik saat angin datang menyapanya. Kuda-kudanya merumput tenang disebelahnya. Terkadang berlari-lari kecil, menyusuri aliran sungai tipis yang menggerlap diterpa cahaya bulan. Han memandangnya tersenyum, sementara tangannya tetap lurus kebawah, diam, tetapi waspada. Sikapnya jelas langit dan bumi dari pemuda seumurannya.

"Kau." Sang Kesatria melangkah maju.

Han memalingkan wajah, mendongak keatas untuk menyahut pandangannya.

"Ingin teh panas?"

"Ah tidak, hangat saja cukup."

Lelaki tua itu menunduk, rambut putihnya menggantung acak-acakan. Matanya hijau, seindah zamrud yang telah dipoles minyak Zaitun. Gemerlapan dan basah. Bot besarnya diselusupkan di kedua tangannya agar tak terkena lumpur becek. Pinggangnya tergantung sabuk hitam, yang besinya selalu berdenting saat ia berpijak.

The Legend of WarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang