Selamat membaca kembali; kisah Abi & Ririn! ^^
***
Jika dari sekian banyak hal yang terjadi di muka bumi ini, maka yang sangat ingin Ririn hindari adalah berusaha memulai kembali setiap hal-hal itu bersama orang baru. Kadang ia selalu berpikiran, bisa tidak, jika moment baru itu dilakukan kembali bersama orang yang sama? Jadi dirinya tidak perlu kembali mengenal orang lain. Haha ... tapi rasanya tidak akan mungkin bisa. Umumnya, hukum alam memang begitu. Setiap hal, waktu, kejadian, pasti selalu ada orang baru yang ikut andil berperan.
Seperti saat ini, kegusaran sedang menghampiri gadis itu. Terlihat dari buku paket yang sejak tadi terbuka dan tidak dibacanya sama sekali. Raut wajahnya terlihat melamun. Otaknya sibuk memikirkan banyak hal.
"Jangan melamun!" sentak seseorang seraya melemparkan tutup pulpen ke arah wajah Ririn.
"Iiih, Syfa!" pekik Ririn, sedangkan yang ditegur hanya ketawa cekikikan.
"Bukannya dibaca, dipahami, biar besok ga perlu nyontek. Malah lo pelototin doang itu buku," sindir Syfa kembali. "Apasih yang lo pikirin, Rin?" Bukannya pergi, gadis itu memilih untuk duduk di samping kursi Ririn. Kosong, karena pemiliknya sedang absen sakit.
Ririn tertawa kecil, menyadari kebodohannya sendiri. Bukan hanya tentang kehidupan yang sepertinya akan semakin rumit untuk ke depannya. Tapi bisa-bisanya ia memikirkan, 'bagaimana jika ia tidak kembali satu kelas dengan Abi lagi?' oh tidak, bukan itu, 'bagaimana jika ia tidak satu kelas dengan teman-temannya yang sekarang?' sedangkan ia malas mengenal orang baru.
"Cepet banget rasanya Syf, besok udah mau ujian kenaikan kelas," ujar Ririn. Tangan gadis itu reflek menutup buku paket, lantas menelungkupkan kepalanya di sana. "Gue bakalan satu kelas sama lo lagi, ngga, ya? Sama Diva ... Hofifah..."
Mendengar hal itu membuat Syfa mau tidak mau ikut memikirkannya. Benar juga, di kelas sebelas nanti, ada kemungkinan dirinya bertemu dengan anak-anak dari kelas lain di angkatannya.
"Weh, iya. Kira-kira lo bakalan satu kelas sama Abi lagi ngga, ya?"
Perkataan spontan Syfa membuat mata Ririn terbelalak. Kepala yang semula tertelungkup, kini menyamping dan menatap ke arah Syfa dengan sorot terkejut. "Kok jadi bawa-bawa Abi, sih?" Wah ... dirinya tidak menyangka, bagaimana bisa isi pikiran mereka terpusat pada satu orang yang sama? Seolah terkoneksi begitu saja.
"Hehehe ... abisnya seru kalo liat kalian berdua tiap hari ribut di kelas."
"Lo aja sana ribut sama dia setiap hari. Apa nggak pecah kepala lo, Syf?"
"Dih, kok malah gue? Abi tertariknya aja sama lo," perkataan Syfa tersebut membuat Ririn kembali menegakkan tubuhnya. Dahinya mengernyit, berusaha mencerna maksud dari perkataan temannya barusan, "—kayaknya gitu Rin, yang gue lihat," lanjut Syfa.
"Mana mungkin lah, Syf ... apa yang menarik dari gue? Lagian lo juga kok yang keliatannya adem-ayem dan deket sama Abi. Chit-chat pernah lah kalian," ujar Ririn.
Ya Tuhan, ya Tuhan ... kali ini perasaan berdebar sedang Ririn rasakan. Bisa-bisanya ia spontan berkata demikian. Kalau Syfa malah berpikir dirinya cemburu bagaimana?
Hah? Cemburu?
Syfa menggelengkan kepalanya, "Dia pernah chat gue karena urusan kelompok. Selebihnya ga pernah, dan di sekolah ngobrol biasa," ungkapnya seolah memberikan penjelasan kepada Ririn agar gadis itu tidak salah paham.
"Bukannya lo emang jadian sama Abi, Syf? Dia keliatan suka kok sama lo, buktinya kalian itu akrab banget. Dibandingkan sifat dia sama gue. Jahil banget, nggak ketulungan lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
About Him, Abi
Teen FictionApa yang tidak Ririn tau tentang Abi? Teman sekolah satu angkatan, satu ekstrakulikuler, satu kelas. Semua tentang Abi, Ririn mengetahuinya. Berawal dari kejahilan Abi, Ririn awalnya membenci dan lebih tepatnya tidak menyukai cara bersikap cowok it...
