Bagian 20

53 4 0
                                        

Selamat membaca!

**

Perasaan senang yang menghampirinya kemarin, membuat Ririn bertekad untuk terus mengingat dan tidak akan melupakannya begitu saja. Abi yang begitu manis mengelus rambutnya, mentraktir ia makan, mengantarkan pulang dengan selamat. Semuanya bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ririn tidak pernah membayangkan, bahwa ia akan sedekat itu dengan Abi. Rasanya, saat melihat cowok itu membuatnya senang. Tapi juga membuatnya malu dalam waktu yang bersamaan.

Namun kemarin, ia tidak merasakan itu semua. Tidak merasa malu atau bahkan tidak enak hati. Ia hanya merasa senang dan banyak berterima kasih pada Tuhan karena sudah membiarkan ia melalui waktu bersamanya.

"Cie, Ririn ngelamun sambil senyum-senyum. Pasti lagi mikirin Abi, 'kan?" Winda tiba-tiba datang dan duduk tepat di samping Ririn. Menatap gadis itu yang sedang menyangga dagu dengan tangannya.

"Iya."

"Hah?" Winda merasa kaget dengan jawaban temannya itu.

"Kenapa?" tanya Ririn terperanjat.

Winda menunjuk Ririn, "Lo beneran lagi mikirin Abi?"

"Loh, kata siapa?"

"Tadi lo sendiri yang bilang iya."

Ririn panik sendiri. Ia memang sedang memikirkan Abi. Kenapa juga Winda harus bertanya di waktu yang bersamaan? Mana tepat pula.

"Lo juga, orang lagi ngelamun pake ditanya segala. Udah pasti ngawur jawabannya," timpal Vina yang baru saja datang. Baiklah Vina, kamu adalah penyelamat Ririn hari ini. "Minggir dong! Gue mau duduk nih, Win."

Winda akhirnya bangkit dari tempat duduk Vina. Lantas gadis itu menatap ke arah Ririn. "Lo hobi melamun, ya?"

Vina dan Ririn saling bertatapan. Sementara Winda bergidik ngeri menatap Ririn, "Hobi kok melamun, Rin, Rin. Aneh banget lo," setelahnya ia melenggang pergi keluar kelas.

Setelah kepergian Winda, kini giliran Vina yang menatap intens teman satu mejanya itu. Ia hanya ingin memastikan, benarkah dia sedang memikirkan cowok usil itu?

"Beneran lo mikirin si Abi?"

"Ya Allah, Vin. Nggaklah!" lagi-lagi Ririn terpaksa berbohong, "ngapain juga gue mikirin dia? Iiih, ogah banget! Kayak nggak ada hal lain yang harus dipikirin aja."

Ayolah Ririn, mau sampai kapan kamu bertahan untuk terus berpura-pura?

Vina menganggukkan kepalanya, "Bagus, bagus. Mendingan lo mikirin Kak Raka aja. Iya, nggak?" godanya.

Raka? Hih, menyebut namanya saja membuat Ririn ilfeel. Apalagi setelah dia meninggalkan Ririn di taman. Walaupun cowok itu menyesali perbuatannya dan balik lagi untuk menjemput Ririn. Tapi tetap saja, kekanakan.

"Sama aja. Males gue. Mendingan mikirin masa depan gue bersama Mr. Kyungsoo tercinta," ujarnya.

Vina menoyor kepala Ririn. "Tobat, tobat! Orang Korea terus yang lo pikirin. Lokal juga banyak yang bagus dan berkualitas."

"Lo pikir barang?"

Ririn dan Vina sama-sama tertawa. Lalu tawa keduanya terhenti saat ada seseorang masuk ke dalam kelas, menyimpan ransel ke atas meja yang biasa didudukinya.

Vina yang melihat hal itu, menyenggol Ririn dengan sikut lengannya.

Ririn hanya terdiam saja diperlakukan seperti itu. Yang masuk tadi adalah Abi. Cowok itu melenggang masuk, menyimpan tas dan kembali keluar tanpa menegur Ririn sebagai temannya, atau pun Vina saudaranya. Cowok itu cuek sekali. Tidak peduli sekitar.

"Itu anak kenapa, ya?" heran Vina.

Ririn menyembunyikan raut wajah bingung. Menggantinya dengan raut wajah bodo amat.

"Oh iya, Rin, gue ada buku-buku bekas sih, banyak banget. Apalagi komik sama majalah bobo. Rencananya mau dikasih ke anak-anak sekitar rumah. Tapi gue rasa mereka mampu beli. Kira-kira, lo tau nggak, tempat donasi buku yang trusted gitu?"

"Coba lo donasiin aja bukunya ke komunitas IOB aja," usul Ririn.

"IOB?"

Ririn menganggukkan kepala, "Iya. Lo bisa kasih bukunya lewat Kak Nara. Dia salah satu anggota komunitas itu. Buat lengkapnya lo bisa tanya dia aja."

"Kalau sekarang, lo bisa anterin gue ke kelasnya dia, nggak?"

Sejenak Ririn berpikir dan melirik jam di tangannya. "Masih ada lima belas menit, kok. Ayo!"

**

"Jadi, lo mau donasiin bukunya ke IOB lewat gue?" tanya Nara.

Vina mengangguk mantap.

"Kenapa nggak lo aja yang langsung kasih ke pusat? Supaya dapat kartu tanda pengenal dan jadi member di sana?"

"Belum ada niatan buat ikut komunitas selain di sekolah, Kak."

Nara menganggukkan kepalanya. Komunitasnya memang bukan bagian dari proker sekolah. Ia juga menemukan komunitas itu karena tidak sengaja saat melihat beberapa remaja membagikan buku-buku secara gratis di jalanan.

"Lo bisa bawa buku-buku itu ke tempatnya langsung sih kalau mau. Biasanya kita ada jadwal pertemuan setiap hari Rabu dan Sabtu," ujar Nara.

"Gue ga tau tempatnya, Kak," jawab Vina.

"Tenang, kan ada Ririn, dia tau kok," Nara menunjuk Ririn dengan dagunya. "Rin, Sabtu ajak Vina ke ruko IOB, ya," pintanya pada Ririn yang hanya dijawab anggukan oleh gadis itu. Setelahnya Vina dan Ririn pamit untuk kembali ke kelas pada Nara.

**

Menjadi bagian dari IOB adalah keinginan Ririn, ia juga ingin seperti Nara yang tidak pernah mengenal lelah, apalagi dalam urusan berbagi.

Omong-omong soal Nara, Ririn sangat salut dengan cewek itu. Tipe cewek yang pantang menyerah sekali.

"Rindi jelek!"

Mata Ririn mendelik saat mendengar suara masuk ke indera pendengarannya. Tanpa menoleh pun ia sudah tau siapa yang berujar.

Ardian Hasbi. Si cowok nyebelin. Aduh, ngapain sih cowok itu di sini? Tujuannya untuk bersantai mencari ketenangan, pupus sudah sekarang.

"Ngapain lo delik-delik begitu?" tanya Abi.

"Lo ngapain di sini?" Ririn bertanya balik. Matanya seketika melihat ke sekeliling. Taman di dekat komplek perumahannya cukup sepi saat ini. Bahaya kalau Abi berbuat macam-macam. Sepertinya dia harus berteriak kencang. Tapi dilihat dengan intens oleh Abi, ia malah merasa jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Aduh Ririn, kamu kenapa sih?!

"Nyamperin orang sawan lagi ngelamun sambil mainin ilalang," jawab Abi.

Seketika Ririn menjatuhkan ilalang yang tadi sempat ia cabut, untuk menghilangkan rasa gabutnya itu.

"Benci banget gue liat lo di sini, Bi. Pulanglah gue, bye!" Saat ini memang menjauh dari Abi adalah solusi. Apalagi jika mereka hanya berdua saja.

"Solehah banget ya, assalamualaikum-nya mana?"

Ririn semakin sebal. Jika di sekolah saja cowok itu pura-pura tidak tau. Cuek. Super jahil. Nyebelin. Sekarang pun sama sih.

"Assalamualaikum!"

"Waalaikumussalaam. Nah gitu dong!"

**

To be continue...

About Him, AbiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang