Bagian 4

101 18 6
                                        

Selamat membaca!

**

Kalaupun lo bisa jaga diri sendiri. Bukan berarti lo nggak butuh penjagaan dari orang lain. Ingat, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain, sekalipun mereka bilangnya nggak butuh.

-unknown

**

Membuat kerajinan dari tanah liat merupakan hal baru bagi Ririn. Pasalnya di tingkat sekolah sebelumnya, ia belum pernah melakukan hal seperti itu. Apalagi ia bersama kelompoknya yang harus mempersentasikannya di depan kelas nanti. Dan yang paling menyebalkan adalah, mereka hanya diberi waktu 2 hari untuk menyelesaikan dan segera mengumpulkannya.

Setelah diberikan tugas, hari itu juga sepulang sekolah Ririn memilih untuk berkumpul bersama kelompoknya. Beruntung karena gurunya meminta dibagi menjadi tiga kelompok saja. Akhirnya anak-anak sepakat untuk menggunakan kelompok yang sudah diberikan oleh Pak Doni, yaitu perjajaran.

"Kenapa sih, nggak bentuk kelompok baru aja? Kesel gue kebagian sama si cupu lagi," decak Mira karena merasa tidak terima dengan keputusan yang sudah ada. Mendengar perkataan Mira, Jajang hanya menundukan kepalanya.

Saat ini kelompok mereka memang sedang berkumpul di taman, depan kelas untuk mendiskusikan, kira-kira kerajinan dari tanah liat apa yang menarik untuk dipersentasikan nantinya.

Semua orang tanpa terkecuali Ririn menatap ke arah Mira dan bergantian ke arah Jajang. Seakan sudah mengetahui sifat Mira yang selalu seperti itu saat berada di kelas, akhirnya mereka memilih untuk menganggap perkataan gadis itu sebagai angin lalu.

Merasa perkataannya diabaikan, akhirnya Mira menendang beberapa tumpukan buku yang ada di depannya. Entah itu buku milik siapa. Kelakuan gadis itu membuat teman-temannya melihat ke arahnya.

"Lo kenapa, sih?" tanya Gugun yang jengah sendiri akan tingkah laku Mira.

Mira hanya memasang wajah kesalnya.

"Kalo lo nggak terima, ya jangan protes ke kita 'lah. Sono ke anak yang lainnya juga. Yang setuju itu 'kan sekelas, minus lo," ujar Dewi seraya menatap malas ke arah Mira. "Nggak usah nentang anak sekelas kalo lo udah tau perbandingannya!"

Mira hanya terdiam, menahan segala amarah yang terkumpul membuat dadanya sesak.

Sementara Ririn tidak ingin ikut campur antara perdebatan itu. Menurutnya tidak terlalu penting. Ia memilih untuk melanjutkan diskusi bersama dengan Dimas, Jajang dan juga Hofifah. Sementara yang lainnya ikut terhanyut dalam perdebatan.

"Males gue sekelompok sama kalian. Nggak ada yang ngasih solusi sama sekali, ketuanya juga adem-ayem terus, lebih mentingin tugas daripada keinginan gue!" ujar Mira dengan nada marah.

Ririn tahu, bahwa perkataan itu ditujukan untuknya. Tapi ia memilih untuk diam saja.

"Lo diem aja deh, daripada ngomong tapi nggak ada faedahnya sama sekali," jawab Lintang. "Lagipula siapa, lo? Sampe Rindi harus ngabulin semua keinginan lo itu."

About Him, AbiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang