Pembaca yang baik akan meninggalkan vote, komentar serta saran untuk motivasi author^^
Jangan lupa follow akun ini juga, ya!
8-11-2024
Jum'at
🌸🌸🌸
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~07.00 WIB~
"Morning, Everybody! Are you ready for takbir today?!"
Aku mengernyitkan dahi, kenapa cowok itu sumringah sekali sejak bangun tidur? Dan, kenapa dia keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang meliliti bagian bawah tubuh saja? Biasanya dia langsung memakai baju selepas mandi. Hal itu membuatku sedikit blushing karena tubuhnya yang kekar langsing dan iri karena putih cerah tanpa noda sedikit pun.
"Balik kampong...! Ho ho ho, balik kampong...! Ho ho ho, balik kampong! Hati girang...!"
Aku mengikat rambut lalu mengambil sebuah bedak padat,"Paan, sih, Za? Kelar mandi koar-koar gitu,"
Ryza mengambil sisir, menyisir rambutnya yang berantakan dan akan tetap terlihat berantakan ketika kering nanti. "Eh, Ketua Kelas! Gue, tuh, antusias bisa mudik pas lebaran gini, tau?"
Tap! Aku kaget ketika Ryza menghalangi penglihatanku pada cermin. Tangannya memainkan menarik sehelai rambutku.
"Akh!" ringisku ketika rambutku ditarik hingga putus, "Sakit, ih!"
"Don't you understand your husband's happy feelings, Darling?" Ryza menaikturunkan matanya.
Aku menghela napas. Daripada berdebat dengannya lebih baik aku segera mengganti pakaian. Hm, pakaian Ryza sudah kusiapkan juga tak lupa beberapa pakaian lain yang sudah kurapikan dalam tas. Yup! Lebaran hari ini aku dan Ryza akan menginap di kampung halamanku. Walau hanya diberi waktu tiga hari, setidaknya aku senang bisa berkumpul lagi dengan keluargaku. Yeah, kalo aku minta lebih dari tiga hari mungkin Mama Iin akan berubah menjadi singa betina.
Hush!
"Lo seneng mau ke rumah abah?" tanyaku.
"Weeess! Iya, dong!" seru Ryza sambil memakai baju kokoh putih, "Lebaran Idul Adha gini emang enak ke kampung. Bisa makan masakan ibu, tuh, rasanya ahh..."
Aku terkekeh. Aneh sekali konglomerat satu ini. Yang kulihat di tv,konglomerat kaya muda, tuh, sukanya di kafe, restoran mahal atau pun di rumah yang sepadan dengan kastanya. Tapi Ryza malah senang sekali kalau sudah ke kampung halamanku. Yeah, mungkin itu juga karena sejak SMA dia sudah merakyat.
"Bebi,"
Aku menoleh, dia memanggilku apa? "Hah, babi?!"
Mata Ryza membesar dengan tangan terbuka di depan dada, "No, no, no! It's a baby .... Baaabyyy!"
Aku menyipitkan mata, kupikir ia sedang mengolokku dengan panggilan hewan.
"Panggil biasa aja, ah. Geli gue dengernya," ujarku.
"Ah kita tentuin dulu nama panggilan akrab suami istri ini," ucap Ryza sembari duduk dan menyemprotkan deodorant spray. Ugh, banyak sekali hingga menyengat ke hidungku.
"Sweetie?" Tanya Ryza.
Ah, apalagi ketidakjelasan ini, "Nggak,"
"Darling?"
"No,"
"Baby?"
"Nggak,"
"Ayang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Avyra
Romance~°°~ Memangnya menikah hanya untuk balas dendam? Entah apa yang ada di pikiran Faura Avyra ketika ia menyetujui perjodohan yang dilakukan Si Abah. Kehidupan Avy berubah 180°! Suami yang lemah lembut plus sopan santun di depan orang tuanya itu hanyal...
