BAB 15: Nyaman Ketika Bersamanya

610 79 151
                                    

PERTANYAAN yang keluar dari mulut gadis yang duduk di hadapannya itu berhasil membuat seorang Radithya Genandra menggelengkan kepalanya. Faktanya, perempuan mana pun akan mempunyai banyak pertanyaan di kepala mereka yang ujung-ujungnya membuat mereka kepikiran sendiri.

Namun, itulah ciri khas perempuan.

Radith sama sekali tak memusingkan pertanyaan yang sudah keluar dari mulut Arsyilla sejak tadi. Bahkan, jika gadis itu bertanya seratus pertanyaan lagi pun ia akan tetap berusaha menjawabnya, walaupun dengan mulut sedikit berbusa.

"Lo emang kreatif banget, ya, kalau ngasih pertanyaan?" tanya Radith balik.

Arsyilla menganggukkan kepalanya bangga, "udah terlatih sejak SMA. Kamu aja yang gak tau," balasnya.

"Gue tau. Bahkan, seantero Garuda juga dulu tau lo gimana, Rembulan Arsyilla."

Mendengus pelan mendengar ucapan laki-laki di hadapannya itu, Arsyilla beralih melipat tangannya di dada lalu menaik turunkan alisnya membuat dirinya terlihat sangat menyebalkan saat ini bagi Radith.

"Ayo dong, jawab pertanyaan aku tadi. Masa modelan kayak kamu mendadak cupu begini dikasih pertanyaan klise kayak gitu?" tantang Arsyilla.

Gadis itu tampaknya sudah setengah gila karena berani menantang sosok jangkung di hadapannya itu yang sejak dulu sudah terkenal dengan kepintaran dan segudang bakat yang dimilikinya. Namun, tetap saja, Arsyilla memang sangat ingin tahu jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh pacarnya itu walaupun dirinya sudah berekkpetasi Radith akan melontarkan jawaban yang sulit dicerna oleh otaknya.

"Ya, gue cari," jawab Radith singkat.

Arsyillla membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar olehnya itu. Ya, walaupun ia sudah dapat menebak jawaban dari Radith, tetap saja yang keluar dari mulut laki-laki itu sangat diluar tebakannya.

"Uang hilang aja juga dicari orang dimana-mana, Dith. Yang kreatif dikit kenapa sih kalau ngejawab pertanyaan orang?" tanya Arsyilla heran.

"Uang termasuk hal berharga, nggak?" tanya Radith balik.

Kepala Arsyilla terangguk penuh semangat untuk menjawab pertanyaan cowok itu. Kebiasaan Radith yang sulit ditebak memang tampaknya tidak dapat dihilangkan sejak dulu. Terkadang lelaki itu bisa mengeluarkan kalimat panjang lebar, tetapi ia juga bisa kembali menjadi mode manusia irit bicara dan penuh teka-teki.

"Lo juga berharga, makanya gue cari kalau lo hilang," ucap Radith.

Sial.

Seiring bertambahnya usia, tampaknya otak Arsyilla sudah mulai berfungsi dengan baik. Kelebihan pernah menempun pendidikan selama bertahun-tahun tampaknya adalah mengubah otak gadis itu semakin mudah mengerti banyak hal. Bahkan, Radith yang lebih rumit di banding anatomi, fisiologi, patofisiologi penyakit, dan semua mata kuliahnya pun dapat ia mengerti dengan cepat saat ini.

Pipi gadis itu memerah tanpa sengaja. Hal itu pun tentunya masuk dalam jangkauan mata Radith yang membuat laki-laki dengan hidung bak perosotan itu tersenyum tipis.

"Pipi lo merah tuh," ucap Radith yang terdengar jahil di telinga Arsyilla.

"Tau! Gak usah dibilang segala!"

Radith terkekeh pelan, tampaknya menjahili Arsyilla sudah menjadi hobinya sekarang tanpa ia sadari. Melihat wajah gadis itu tersipu malu membuatnya senang.

"Gak usah ketawa-ketawa gitu! Serem kamu kalau kayak gitu," sewot Arsyilla.

"Serem, tapi lo ikutan senyum. Gimana konsepnya?" balas Radith.

Niskala Renjana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang