200 komentar di chapter ini untuk bisa update chapter selanjutnya ya! di update setiap hari Sabtu.
Spam pakai emot ❤️ disini—>
Spam pakai emot 🤍 disini—>
Happy Reading
***
PANCINGAN dari putri bungsu Abizar Genandra sukses membuat suasana di meja makan tersebut sedikit mencekam. Pandangan penuh intimidasi dari Arsyilla berhasil membuat Lila ingin tertawa kencang saat ini.
Abizar dan Dinara pun memandang heran pada putranya yang ekspresinya tidak pernah berubah. Setidaknya, putra sulungnya itu menampilkan wajah panik, bukannya ekspresi lempeng andalannya itu.
Dinara pun mencoba mengingat-ngingat kembali dulunya ia mengidam apa ketika hamil Radith. Seingatnya dirinya tidak pernah mengidam yang aneh-aneh saat hamil anak itu.
"Ini efek kamu ngidam es batu seplastik dulu gak sih?" tanya Abizar sedikit berbisik seakan paham apa yang dipikirkan istrinya yang memandang heran pada putra mereka tersebut.
"Emang pernah?"
Abizar mendengus pelan. "Pernah. Aku sampai kalang kabut supaya kamu gak beneran ngabisin satu plastik," jawab.
"Pantesan keluarnya modelan kayak gini."
Dinara terkekeh pelan sembari mencolek lengan suaminya itu sembari melirik pada pasangan lain yang berada di meja itu. Sebenarnya ada maksud dibalik gerak-geriknya itu. Semoga saja suaminya itu sedang dalam mode waras sehingga bisa memahami kode darinya.
Senyum miring pun muncul di wajah Abizar. Pria paruh baya itu memandang pada putri bungsunya yang sangat cerewet itu sambil mengacungkan jempol. Mengapresiasi anaknya yang berbakat membuat huru-hara sama seperti dirinya.
"Duh, papa kayaknya mules, Ma."
Sedikit aneh. Dinara mengernyit bingung. Seingatnya tidak ada briefing mengenai sakit perut suaminya itu sebelumnya.
"Terus kamu ngapain ngadu ke mama?" tanya Dinara heran.
"Temenin papa boker, yuk, Ma."
Suaminya itu patut di pukul dengan panci nantinya. Sebelumnya hanya ada rencana mengerjai Radith si lempeng tanpa embel-embel ingin buang air besar seperti saat ini.
Besok-besok ia harus nendaftarkan suaminya itu casting film. Tampaknya bakat adlibs Abizar sangat bagus untuk ditunjukkan di sebuah film.
"Jorok banget deh Papa nih!" protes Lila.
"Jangan iri gitu lah kamu bocah. Papa kan tua-tua gini juga mau boker date sama mama kamu," balas Abizar santai sembari merangkul bahu istrinya.
Dinara dengan segenap keterpaksaan tersenyum lebar sembari melotot pada Abizar lalu beralih memandang putrinya. "Papamu ini makin tua, makin banyak tingkahnya. Maklumin aja, ya, inner child-nya makin menggelora pas tua gini."
"Siapa sih emangnya yang inner child-nya boker date, Ma?" tanya Lila lagi.
"Papa. Papa dulu pengen kencan kayak gitu," balas Abizar cepat sebelum si bungsu itu bertanya hingga ke akar-akarnya.
"Ih, tapi—"
"Yuk, Ma. Udah mules banget nih Papa." Abizar langsung saja menarik pergelangan tangan Dinara dengan pelan sembari menatap sinis putrinya yang tidak paham tujuan acting-nya saat ini.
"Mama pergi dulu, ya, wahai anak muda. Papa kalian yang udah bangkotan ini takutnya kebablasan buang hajat disini."
"Mama!" protes Lila yang hampir saja menyemburkan airnya jika tidak buru-buru ditahan di mulutnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Niskala Renjana
Teen FictionMereka berhasil menjalani hidup dengan baik, mereka berhasil merubah diri menjadi lebih baik, mereka berhasil berkembang menjadi sosok yang lebih bermanfaat, mereka berhasil melalui banyak hal, mereka berhasil menikmati setiap suka dan duka. Radith...