10.🦁

17.1K 940 29
                                        

Double up!

.
.
.
.
.
.

"kalian siap untuk liburan?"

"Yeayy!"

"Go!"

Laras dan anak-anak segera memasuki mobil, dengan anak-anak nya yang sudah anteng duduk di belakang dan Zein yang mengemudikan mobil di dampingi oleh Laras yang duduk di sebelahnya.

Mobil kini melesat membelah jalanan hari ini yang tampak ramai karena memang merupakan saat hari libur dan banyak keluarga lainnya yang pergi berlibur bersama seperti mereka.

Menatap singkat dari spion dalam mobil, Zein tersenyum kecil saat ketiga kurcacinya terlihat exaited saat melihat keluar jendela.

"Mau makan snack?" Tanya Laras mengalihkan atensi Zein sebentar.

Sontak saja dia langsung membuka mulutnya lebar-lebar pertanda ingin di suapi karena tangan nya yang lain sedang sibuk menyetir.

Bahaya jika dia lepas.

Dasar pak tua manja' ejek Laras dalam hatinya.

Tak ayal Laras langsung menyuapi Zein beberapa snack sebelum anaknya yang lain merengek ingin juga snack yang sedang ayahnya makan.

Akhirnya dia memberikan mereka masing-masing satu snack agar tidak berdebut.

Tak lupa dia menyuruh anak-anak nya untuk membuang sampah mereka ke dalam plastik yang sudah dia sediakan dalam mobil saat sudah selesai makan.

Beberapa jam perjalanan.

"Kamu lelah? Jika iya kita bisa berganti posisi." Ucap Laras melihat bapak supir ganteng nya kini terlihat sedikit lelah.

Zein menggeleng, jujur saja dia memang lelah, tapi dia malu mengakui.

Seorang CEO muda yang biasanya menaiki mobil di dampingi oleh supir kini dialah yang harus melakukan itu demi keluarganya.

Titah dari ibu negara memang tidak bisa di hindari.

Kini perjalanan terasa damai, musik indah mengalun dari radio dan anak-anak yang sudah tertidur sehabis mengemil, Laras yang menatap keluar jendela dengan Zein yang sesekali melirik Laras, memastikan agar ia tidak menghilang dalam pandangannya.

Akhirnya setelah perjalanan panjang, keluarga kecil itu akhirnya sampai dan langsung keluar dari mobil.

Alex, Ralia, dan Alan menatap sekitar mereka dengan mata melotot tak percaya, begitu indah tempat ini. Itulah pikir mereka.

Laras mengambil tas yang berisi pakaian dan keperluan anak-anaknya dalam mobil bagasi.

Memberikan beberapa tas yang ringan untuk di pegang oleh anak-anak yang masih melihat sekelilingnya.

Sedangkan Zein terlihat santai menikmati udara segar dan angin yang berhembus menerpa wajah tampannya.

Laras melihat itu, dan bergumam dalam hatinya.

Apakah dia akan berdiam seperti itu tanpa membantu?

Karena kesal, ia langsung menutup pintu bagasi agak kencang hingga membuat Zayn terlonjak kaget.

Oh tidak, itu salah satu mobil yang sangat ia sayangi.

Laras berjalan mendekati Zayn, "Bertanggung jawab kepada keluarga adalah hal utama yang harus diperhatikan, bawalah semua ini tuan." Sindir nya kemudian pergi meninggalkan Zein yang mengusap dada sabar.

Anak-anak itu mengikuti langkah Laras seperti anak ayam, patuh kepada sang induk dengan membawa bawaan mereka masing masing di kedua tangan kecilnya.

Zein menurut, menyampirkan beberapa tas besar itu di pundak kokohnya dan berjalan mengikuti sang ketua negara setelah memastikan semua aman.

Laras menatap sekelilingnya, liburan kali ini benar benar hal baru untuknya. di tambah lagi ia pergi bersama anak-anak dan suami.

Memasuki area Hotel yang dia datangi, kemudian dirinya bertanya ke seorang resepsionis tentang kamar yang akan mereka tempati.

Dan akhirnya Laras pun memesan kamar family room di hotel tersebut, kenapa tidak memesan presidential room?

Dalam liburannya kali ini tidak ada yang namanya privillage! Ingat bahwa misinya saat ini untuk membuat keluarganya kecil nya menjadi dekat.

Hanya mereka di sini meninggalkan pekerjaan mereka sejenak demi anak-anak mereka yang tidak pernah pergi berlibur bersama.

Tidak ada smartphone selagi mereka berlibur agar mereka bisa fokus dengan liburan kali ini.

Setelah di antarkan oleh seorang pegawai di sana, akhirnya mereka memasuki kamar.

Terlihat raut tidak suka dari mereka kecuali laras yang biasa-biasa saja, toh dia tidak akan terpengaruh.

"Mama, kenapa kamarnya kecil?" Tanya Ralia merengut sembari tangan mungilnya menyeret tas.

"Jelek sekali!" Komentar Alan pedas.

Alex diam, namun ekspresinya tak jauh berbeda dengan saudaranya yang lain.

Sedangkan Zein..

"Tidak bisakah memesan kamar yang lebih bagus?" Tanya Zein memandang ragu seisi kamar.

Sial, harusnya dia saja yang memilih soal kamar, Jelek sekali selera istrinya.

Shit! Anak dan bapak sama aja!' gerutu Laras kesal.

Sial memang apa salahnya bila menghemat biaya pengeluaran walau suaminya ini seperti mesin pencetak uang?!

Memilih kamar yang sederhana memangnya menjadi masalah besar hingga membuat dunia ini hancur? Tidak kan!

Dia hanya ingin hemat! Tolong di catat!!

"Sudahlah, kalian ini banyak sekali request nya!" Cibir nya berkacak pinggang menatap satu persatu di antara mereka.

.

.

.

Have a nice day guyss

Terimakasih sudah membaca! Voute! Dan komen

Udah lunas ya hutang double up nya, semangat selalu untuk kalian..

Antagonis Mommy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang