Sejak pulang dari liburan kemarin, hubungan antara Laras dan keluarganya kini terasa jauh lebih erat, banyak perubahan yang terjadi pada anak-anaknya yang nakal.
Mereka kini bisa jauh lebih mandiri dan tidak egois seperti dulu.
Perubahan kecil seperti saat mereka sudah bisa bangun sendiri juga yang dulunya apa-apa harus ada art yang mengurus, kini bisa di lakukan oleh mereka tanpa memanggil orang lain untuk membantu saat mereka bisa melakukannya sendiri.
Seperti saat ini, Laras mengawasi Alex, Alia, dan Alan yang sedang melipat baju mereka sendiri untuk dimasukkan ke dalam tas.
Besok, sekolah mereka akan mengadakan camping sebagai peringatan tentang hari bumi nasional.
Banyak kegiatan yang akan di lakukan oleh sekolah tersebut, orangtua dari anak-anak pun turut diikut sertakan untuk hal ini.
Tentu saja Laras sangat bersemangat dengan adanya kegiatan positif seperti ini yang sangat bagus untuk anak-anaknya.
"Mama, nanti kalian datang kan? Aku gamau tau! Pokoknya mama harus datang nanti." Peringat Alia yang di balas dengusan kesal Laras.
Sudah lebih dari 10× anak itu mengatakan hal yang sama hari ini.
Tangan kecil Alia terus melipat baju nya dengan muka cemberut setelah melihat reaksi sang ibu.
Di sisi lain, Alan dengan semangat mengambil cemilan yang akan ia bawa untuk besok dan akan ia makan dengan teman-temannya yang lain.
Kata mama kita tidak boleh pelit dengan makanan yang kita punya! Kita harus berbagi meskipun itu sedikit. Itulah kata kata yang Alan ingat dari sang ibu, sudah ia tanam kata-kata itu di kepalanya.
"Mama, aku boleh bawa ini?" Tanya Alan menunjukkan beberapa toples berisi bola coklat di tangannya.
"Untuk apa semua itu gendut?" Timbrung Alex menatap aneh adiknya.
Alan yang kesal dikatai gendut oleh Alex, langsung melempar satu bola coklat langsung mengenai kepala Alex.
"MAMA LIHAT TUH." Teriak Alex.
Alan melengos, kemudian naik ke pangkuan Laras yang sedang duduk menonton televisi.
Dengan mata memelas Alan memohon, "Boleh kan ma?" Alan memeluk sang ibu manja.
Laras mengalihkan atensinya dari televisi, mengelus perlahan rambut halus Alan yang sedang dalam mode manja.
"Memangnya untuk apa kamu membawa coklat sebanyak itu, kalau kamu makan banyak nanti gigimu akan sakit." Jawab laras memberi pengertian.
Alan menggeleng, kemudian berkata. "ini tidak ku makan sendirian kok, akan ku berikan ini kepada teman-teman ku yang lain." Jawabnya memberi alasan.
"Boleh kan?" Tanya Alan lagi.
Laras tertawa kecil melihat betapa baiknya hatinya si bungsu, "baiklah, kamu bawa saja dan makan bersama teman-teman."
"Jangan lupa! Sehabis makan coklat harus menggosok gigi. biar tidak --"
"Berlubang!!" Jawab Alan semangat.
Alan mencium pipi Laras, sebagai ucapan terimakasih yang anak itu berikan pada ibunya, "Terimakasih mama." Ucap Alan.
Pukul 09.30
Laras beranjak turun dari sofa untuk memastikan keadaan tiga anaknya di kamar mereka masing-masing, sekaligus memastikan bahwa barang-barang yang akan mereka bawa sudahlah lengkap.
Setelah itu, Laras pergi ke lantai bawah untuk memasak makanan untuk Zein yang sebentar lagi akan pulang.
Pria itu berkata ingin dimasakan oleh sang istri setelah pulang bekerja, Laras tentu saja senang dengan hal itu, dengan semangat ia langsung menyiapkan bahan-bahan makanan di dapur.
Ahh suamiku yang tampan itu sangat menggemaskan! akan ku buatkan makanan special untuknya.
Saat sedang fokus memasak, tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang.
Laras terkejut, hampir saja ia menghantam kepala Zein menggunakan panci.
"Jangan mengagetkan ku." Peringat Laras sebal, sedang Zein hanya tertawa kecil. "Rajin sekali istriku ini." Ejek Zein.
Kesal, Laras mencubit kecil lengan Zein yang senantiasa memeluk pinggangnya, "Kau menyebalkan."
"Mau ku bantu tidak sayang, Aku ini jago dalam hal memasak asal kau tahu." Sombong Zein membuat Laras semakin sebal di buatnya.
"Pergi sana, jangan menggangguku." Usir sang istri langsung membuat wajah Zein yang tadinya bersemangat kini terlihat lesu.
Huft, padahal ini waktu yang pas untuk bermesraan.
Gagal lagi!
Akhirnya ia menuruti kata Laras, sebelum pergi ia sempat terpaku saat Laras tiba-tiba mencium bibirnya walaupun hanya sesaat.
"Jangan cemberut lagi, kau terlihat jelek." Ujar Laras malu-malu.
"Aku mau lagi." Pinta Zein.
"Tidak."
"Ah ayolah sayang." Mohon Zein memelas.
"Nanti saja saat kita di kamar." Jawab Laras malu-malu.
Zein langsung tersenyum riang, Wahh dia dapat jackpot hari ini.
Terimakasih dewa Neptunus!!
.
.
.
.
.
Sumpah ini PART GAJELAS😭😭
sorry guys jarang update, lagi sibuq nih...
MAKASIH BAGI YG UDAH NGASI VOUTE+KOMEN YAWW JANGAN BOSEN² PLS SAMA CERITA INI 😚😚
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis Mommy
HumorLaras tak percaya kini ia bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang wanita yang sudah memiliki 3 orang anak kembar tak identik. Syok saat mengetahui Fakta bahwa ke 3 anak itu benar benar sangat nakal di luar batas normal anak lain. Mampukah Laras memb...
