13.🦁

12K 618 3
                                        

Double up                                            > 2×

.
.
.

"Jelasin ke mama sekarang." Titah Laras bersedekap dada.

Tidak habis pikir dengan tingkah dua anak nakal ini yang di luar batas. Baru saja di tinggal beberapa jam, sudah membuat keributan.

Ah lama-lama bisa gila mengurus bocah-bocah ini.

"Tadi pas bangun tidur Alan liat Alex lagi makan coklat ma." Adu Alan mulai menjelaskan situasinya.

Anak itu berhenti sejenak, menatap takut ke arah sang ibu yang menatapnya penuh intimidasi.

"Terus." Sahut laras

"A.., Alan mau minta coklatnya tapi ga di kasih." Lanjut nya kemudian menyenggol lengan sang Kaka, meminta agar dia ikut menjelaskan juga.

"Lanjutin dong, Alan takut sama mama." Bisik Alan membuat Alex mencebik kesal.

Dasar penakut.

Alex menatap wajah mama, menceritakan semuanya tanpa kebohongan dengan cerita singkat.

Laras menghela nafas panjang mendengar itu, udara yang terasa kian panas, juga tubuhnya yang berkeringat membuat ia ingin sekali marah pada kurcaci nakal ini.

Namun apalah daya perutnya ini yang sudah meminta untuk diisi, "Ini semua sudah harus rapih dan tertata di tempatnya saat mama kembali."

Langsung saja hal itu membuat dua bocil neraka ini langsung melaksanakan titah ibu negara yang pergi mencari Adik mereka di kamar.

"Gara gara kamu nih." Decak Alan melempar kain yang ia pungut tepat ke arah wajah Alex.

"Dasar bocah!" Balas Alex melakukan hal yang sama membuat Alan berteriak kesal.

Laras menghampiri Alia yang sedang mengintip ke bawah ranjang, "kamu kenapa?"

Alia keluar dari sana langsung memeluk ibunya dan berkata, "papa di makan setan mama." Adunya yakin.

"Hadeh, kamu itu keturunan siapa sih, mana ada manusia sebesar papa kamu dimakan setan."

"Yang ada mereka takut sama papa mu." Jelas Laras iseng memencet hidung Alia.

Tertawa kecil saat anak itu memukulnya.

"Jelek." Kata Laras membuat Ralia memukulnya lagi.

"Apasih mama! Kalo aku jelek berarti mama burik." Teriak Alia kesal.

Alia memukuli paha ibunya kesal, sedang Laras biasa saja dengan pukulan anak kecil ini. Tidak lebih menyakitkan saat ia terjatuh di jurang saat itu.

Sial.. dia jadi mengingat kenangan menyakitkan itu.

"Kalian sedang apa."

Zein keluar dari dalam kamar mandi, tubuh atletis nya terlihat masih basah dengan rambut hitamnya yang lepek belum di keringkan.

Tetesan air mengalir dari rambut hingga ke area tengkuk juga dada bidang pria itu, belum lagi aroma sabun yang dipakai menambah aura ketampanannya.

dia sangat panas...

ASTAGA...

apa yang kau pikirkan Laras bodoh!

tapi.. dia sangat menakjubkan bagaikan anugrah dari tuhan yang paling indah di dunia ini..

Aku ingin sekali menyentuh dada bidangnya dan bersandar di sana.

Ohh sial, sepertinya aku telah menjadi wanita tidak bermoral.

Di tengah Laras yang diam-diam terpesona dengan Zein, pria itu langsung mencium pipi nya.

PLAK..

Karena reflek Laras langsung melayangkan tamparan ke wajah rupawan milik suaminya.

Laras terdiam, begitupun dengan Zein dan Ralia, kaget akibat aksi ekstream yang di lakukan barusan.

Shit!!! Mati saja lah kau Laras bodoh!!

"A-aa" Gagapnya ingin menjelaskan namun suara ini tidak mau keluar.

Zein sang ayah melongo melihat aksi Laras barusan, Wahh gila!

Apakah dia mama ku? OMG sangat brutal dan keren..' batin Ralia takjub

Wajahku? Apa salahku? ' batin Zein bertanya-tanya kebingungan

"Mama, ini seperti sinetron yang Alia tonton sama Oma!"

"Sangat brutal, i like it mama."

"Lakukan lagi." Pinta Ralia senang, namun langsung dipelototi sang ibu hingga anak itu buru-buru keluar dari kamar

Anak edan..

Berbalik keadaan kini antara Zein dan Laras.

Laras menangkup perlahan wajah Zein yang masih shock, ia meminta maaf pada pria itu dengan sungguh-sungguh atas perbuatan kejam nya tadi.

"Tidak apa, mungkin aku terlalu berlebihan." Tutur Zein agak dongkol, niat hati mencium sang istri di pagi hari malah mendapat hadiah berupa tamparan keras yang menyakitkan.

Dia bukan pria sabar, sial. wajah tampannya kini terasa agak sakit.

Dasar wanita king kong.

Ia kira tamparan yang Laras berikan tidak akan terasa sakit, namun kekuatan sebesar gorila itu benar-benar membuat rahangnya terasa agak keram sekarang.

Dengan wajah datar Zein berbalik menuju arah lemari, dan langsung melepas handuk yang melekat dipinggulnya di hadapan sang istri.

GILA..

Laras menyaksikan itu tanpa berkedip, ohh good sekarang matanya sudah tidak suci.

Sangat.. besar.. dan.. shitt

Kenapa ia menjadi mesum seperti itu? Tuhan tolong, sucikan lah pikiran polos seorang Laras si jomblo abadi.

"Maafkan aku tuhan." Lirih nya masih menatap ke arah Zein yang sama sekali terlihat tidak peduli.

Toh mereka sudah melakukan itu dan menghasilkan tiga anak yang sangat nakal hingga ini hingga tidak perlu merasa malu lagi.

Pipi Laras memerah, oh good,  sangat bagus, badan pria itu sangat menakjubkan melebihi tubuh rekan- rekannya di kepolisian.

Matanya otomatis kembali turun menuju arah pusat tubuh suaminya, menatap benda itu sekilas kemudian langsung memejamkan matanya erat.

Apakah aku berdosa telah melihat benda aneh itu?

Apakah pria ini gila?!

DASAR TIDAK TAHU MALU ' teriak Laras dalam batinnya.

Zein yang melihat tingkah aneh Laras merasa cukup terhibur, rasakan itu.

Ia sengaja melepaskan handuknya tadi, penasaran akan reaksi yang akan Laras keluarkan.

Dan ternyata itu sangatlah menghibur.

Bagaimana jika setiap hari aku melakukannya?

Zein tersenyum geli membayangkan hal itu, yah bisa di bilang mereka saat ini sudah impas.

.
.
.
.

SAMPE SINI DULU GES

See youu.. dan semoga suka sama part kali ini.

Komen jugaa kalo kalian ada saran untuk pengembangan cerita yang satu ini ya.. aku mau tau nih apa yg perlu di perbaiki :)

Antagonis Mommy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang