4.🦁

21.9K 1.2K 1
                                        

Alex kaget melihat mama berada di ambang pintu, sungguh seperti film horor yang pernah dia tonton saat menampakan hantu perempuan dengan rambut panjang berdiri di ambang pintu.

"M-mama." Kata Alex gagap.

"Sini tab nya." Laras mengulurkan sebelah tangannya meminta

Alex menyembunyikan tab kesayangannya, tidak mau memberikan.

"Apasih ma, Alex mau main sebentar!" Teriak nya kesal.

Dengan kasar Alex menepis tangan Laras membuat perempuan itu mantap tajam dirinya.

Alex yang di tatap seperti itu sontak ketakutan, sepertinya mama akan marah besar padanya.

Dengan cepat Laras mengambil tab milik Alex, "Barang ini mama sita, jangan harap mama kembalikan."

Laras meletakan segelas susu hangat di meja nakas dekat ranjang, Alex langsung menyelimuti dirinya hingga kepala bentuk protes terhadap sikap sang ibu, dia membencinya.

"Minumlah sebelum dingin, dan jangan tidur seperti itu Alex." Tegur Laras kemudian pergi dari sana.

"Menyebalkan! Aku benci mama." Dumel Alex mengintip pintu yang sudah tertutup.

Menatap ke arah susu hangat yang ibunya bawa, Alex meneguk ludah kasar akibat tergoda aroma dari susu itu.

Ahh bagaimana ini? Dia ingin sekali minum, tapi dia kan sedang marah!

Menggaruk kepalanya yang memang gatal Alex akhirnya meminum susu hangat itu masa bodo dengan tab nya, nanti dia akan meminta papa membelikannya lagi.

"Enak." Kata Alex tertidur setelahnya.

Kini Laras berada di kamar Alan, membuka perlahan pintu dan melihat anak itu ternyata sudah tertidur.

Menaruh susu di meja, kemudian dia menyelimuti anak itu dan memperbaiki posisi tidurnya yang terlihat tidak nyaman.

"Kalau tidur seperti ini kalian jadi terlihat seperti anak yang baik." Gumamnya menatap wajah tampan Alan.

Laras pergi menuju kamar putrinya, terlihat di sana Alia yang sedang mencoret-coret sebuah buku di atas kasur.

"Alia."

Alia menoleh ke arah suara, menatap malas sang ibu dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

"Ayo minum dulu susu hangat nya." Suruh Laras mendekati Alia.

"Nanti saja, Alia lagi jadi artis lukis nih mama ganggu aja sih." Gerutu Alia yang masih sibuk dengan kegiatannya.

Laras melihat apa yang sedang anak itu kerjakan, wah dia melihat sebuah lukisan indah yang tengah Alia kerjakan.

"Kamu suka menggambar?" Tanya Laras menyelipkan anak rambut milik Alia.

"Hm, mama lupa ya." Sindir Alia saat ibunya bertanya.

Laras menatap sendu Alia, kasihan sekali anak ini. Tidak di pedulikan oleh sang ibu yang fokus dengan teman sosialita nya juga sang ayah yang sibuk bekerja.

"Maaf ya, mama lupa."

Laras kini menyuruh Alia minum susu hangat buatannya, setelah itu dia menemani anak itu tidur.

"Mama kenapa berubah?" Tanya Alia menikmati elusan tangan mama yang terasa sangat hangat.

Dia tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh mama sebelumnya, mama biasanya hanya melakukan ini pada Alex dan Alan.

"Mama tidak berubah."

Alia memutar bola matanya malas, dasar pembohong.

"Siapa anak lelaki di buku mu itu?"

Pipi Alia memerah

"Kepo!" Sungut nya.

Anak durhaka ini' batin Laras menggeram kesal ingin rasanya dia tendang keluar rumah.

Setelah Laras memastikan bahwa Alia tertidur dia segera pergi dari sana.

Sampai di kamarnya, Laras menatap Zein yang baru keluar dari kamar mandi.

Bahkan tubuhnya sangat mirip dengan Bagas.'

Laras menyiapkan baju tidur untuk Zein kenakan. Kemudian dia berjalan menuju meja rias untuk memakai skincare malam agar kulitnya tetap terjaga meski sudah berumur 33 tahun.

Menatap pantulan dirinya di cermin, dia baru menyadari kecantikan wajah wanita pemilik tubuh.

Rambutnya lurus berwarna hitam kecoklatan dengan netra berwarna hazel, hidung kecil namun menghunus tajam, bibir kecil nan padat dengan warna merah alami, dengan alisnya yang tebal dan terlukis rapih mengikuti bentuk matanya.

Benar benar sempurna.

"Kenapa kau berubah? Apa kau merencanakan sesuatu lagi." Tanya Zein setelah memakai pakaian nya.

Laras melihat tubuh besar Zein yang menghadapnya di cermin.

Sedangkan Zein.

Tatapan pria itu fokus menatap tubuhnya, membuat Laras menegang sekilas.

Menghela nafas sebentar, Laras mulai menjelaskan maksudnya.

"Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk mereka, kau tau kan selama ini kita terlalu sibuk dengan dunia kita hingga lupa memperhatikan anak anak."

"Aku sadar bahwa mereka kini sudah mulai tumbuh remaja, dan aku kehilangan masa balita mereka."

Laras menahan nafas kala tangan besar Zein memeluk perut nya dan menumpukan wajah di leher jenjang miliknya sembari melihat cermin.

"Aku hanya ingin menebus kesalahanku dan mendidik mereka ke jalan kebenaran." Lanjut Laras merasa sesak saat teringat ke 3 anaknya yang dulu sangat menginginkan perhatian ibunya namun wanita ini malah sibuk dengan dunianya sendiri.

Dia ingin memperbaiki keluarga kecil ini, dia tidak mau anak anak itu merasakan apa yang dulu dia rasakan.

Kehilangan orang tua dan tidak pernah merasakan kasih sayang mereka hingga akhir.

"Aku tidak pernah melihat sisi manismu yang seperti ini, kuharap kau tidak hanya membual omong kosong belaka."

"Aku juga akan berusaha untuk lebih memperhatikan keluarga kita meski pernikahan ini hanyalah pernikahan bisnis ayahmu." Lirih Zein menghirup aroma tubuh istrinya rakus.

Semakin lama ia menjadi candu dengan wanita yang telah melahirkan ke 3 anaknya.

"Tidurlah." Suruh Laras tak ingin berbuat lebih jauh.

Zein menurut, dia tertidur duluan setelah menghabiskan susu hangat yang tadi di bawa Laras.

Laras menatap wajah Zein lama, dia begitu merindukan wajah ini. Dia merasa sangat bersalah kepada Bagas.

Dirinya berada di sini, sedangkan pria itu tidak tau ada di mana. Dia berharap Bagas tidak meninggal dalam kejadian itu.

Mengelus perlahan rahang tegas pria yang sudah menjadi suaminya, "Semoga mimpimu indah." Gumam Laras ikut tertidur.

Kadua insan manusia itu tertidur, menghabiskan malam yang sunyi ini dengan saling berpelukan.

.
.
.

See you ~

Vote jika kalian menyukai!

Antagonis Mommy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang