7.🦁

19.9K 1.1K 16
                                        

Laras telah sampai di tempat pertemuan mereka, tepat di sebuah perusahaan besar bernama MJ ENTERAINT

Masuk ke dalam lobby, dia langsung di antarkan ke sebuah ruangan di lantai atas untuk bertemu janji dengan orang yang namanya Denise itu.

"Aihh kau ini!" Marah Denise

"Apa? Mengapa kau terus memarahiku seolah aku orang yang paling bersalah di dunia ini?" Tanya Laras kesal.

"Dasar kau ini rubah licik! Setidaknya jaga sikapmu di luar sialan, gara gara kau perusahaan menanggung akibatnya."

"Segera kembali bekerja dan jangan membuat skandal kembali." Tekan Denise merunduk menekan Laras yang menatapnya bingung.

"Ya aku paham, jadi apa tugasku sekarang nyonya Denise yang terhormat."

Denise memutar matanya malas, sial sekali menjadi manager wanita keras kepala seperti dia.

"Akan ada pemotretan hari ini, jadwal mu padat jadi kemungkinan kau tidak akan bisa pulang." Jelas Denise membacakan jadwal yang sudah dia siapkan untuk Laras.

"Lalu bagaimana dengan anak-anakku?" Tanya Laras cemas.

"Biasanya kau kan tidak peduli pada mereka, kenapa tiba tiba jadi sok peduli? Huh dasar rubah licik." Sindir Manager Laras keras.

Wanita ini benar benar menyebalkan seperti kera sakti di film yang sudah aku tonton dulu.

Menyebalkan mendengar ocehannya itu, sial.

"Aku ingin memperbaiki hubunganku, jadi kemungkinan besar aku akan mengundurkan diri menjadi seorang model." Jawab Laras membuat Denise terdiam bak seorang patung.

"B-bukankah menjadi model adalah mimpimu? Kenapa kau berubah shit?!"

Laras tak menjawab lagi, toh dia juga tidak paham mengenai kehidupan seorang model sungguh tidak cocok dengan gayanya yang keren.

Kalau bisa dia ingin menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan bumi secara diam-diam dari pada menjadi seorang pajangan berjalan yang di tonton oleh ribuan orang.

Ayolah dia tidak suka menjadi pusat perhatian.

Akhirnya hari itu di habiskan dengan pemotretan yang sangat panjang, beruntung pemilik tubuh ini meninggalkan kemampuan model nya sehingga dia tidak kaku saat di potret tadi.

"Aku akan pulang." Pamit Laras pada Denise.

Akhirnya wanita itu pergi dan langsung menuju sekolah putra dan putrinya.

Bulan muncul menggantikan matahari, dia terlambat menjemput 3 anak itu.

"Maafkan aku" lirih Laras menatap jam di lengan kirinya.

Memasuki area sekolah, dia mendapati anak-anaknya setia menunggu walau dengan mata sembab dan bibir yang sudah maju 1 cm.

"Bu guru, kapan kita di jemput hik" Teriak Alex kesal.

"Mama tidak akan menjemput kita bu hik, mau pulang ih." Oceh Ralia menghentak sepatu kasar.

"Aku lapar." Gumam Alan mengusap perut buncitnya.

Laras menghampiri mereka, "Bu guru saya ibu dari mereka, mohon maaf saya terlambat."

Laras tersenyum tak enak pada wanita di hadapannya.

"Tidak apa Bu, lain kali di mohon untuk lebih awal menjemputnya ya Bu, kasihan anak-anak."

Akhirnya ibu dan anak itu memasuki mobil.

"Mau makan! Alan lapar." Teriak Alan mulai tantrum.

"Mama jahat jahat jahat." Teriak ralia menendang dashboard mobil.

"Lain kali jangan jemput kami! Dasar pembohong." Bentak Alex bersedekap dada.

Laras sungguh merasa bersalah, dia salah karena tidak menepati janjinya. Sungguh dia ibu yang buruk.

Im a bad mom

Laras membiarkan anak-anaknya melampiaskan amarah mereka, biarlah untuk kali ini karena memang salahnya.

Dia memberhentikan mobil di sebuah restoran, "Turun"

Ralia menangis kencang, "huaaaa kita mau di buang."

Alan pun sama namun anak itu kini memeluk kaki jenjang Laras erat dengan ingus yang sudah keluar banyak, "jangan buang Alan mama buang saja mereka huhuhu."

Alex diam tak mengatakan apapun, namun hidungnya sudah mengeluarkan ingus di tambah dengan air mata yang mengalir.

Ibunya tidak berubah! Alex benci itu.

"Siapa juga yang mau membuang kalian, ayo kita makan, kalian sudah lapar kan." Ajak nya menggandeng anak anak itu masuk.

Walaupun agak sedikit malu karena mereka masih menangis dan di lihat banyaknya pengunjung, biarkan saja agar mereka segera pulang.

Setelah memesan dan menunggu sekitar 10 menit akhirnya makanan di sajikan, tiga kurcaci kecil itu langsung saja memakan dengan lahap.

Setelah memesan dan menunggu sekitar 10 menit akhirnya makanan di sajikan, tiga kurcaci kecil itu langsung saja memakan dengan lahap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Makanan Ralia dan Laras

Makanan Ralia dan Laras

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Makanan Alex dan Alan

"Eumm Yummy" Ralia menggoyangkan kepalanya saat merasakan cita rasa dari spaghetti itu di lidahnya.

Sepertinya mood anak itu sudah membaik.

Terlihat Alan yang sudah mulai anteng dan tidak rewel lagi.

Terkecuali Alex yang masih saja murung.

"Kenapa sayang, Makanannya mau di ganti dengan yang lain?" Tawar Laras memperhatikan raut wajah Alex.

"Tidak ma." Jawab Alex acuh.

Menghembuskan nafas kasar, mungkin saat ini Alex sedang tidak mood untuk bicara.

Biarlah nanti di rumah akan dia tanyakan lagi.

.
.
.

Terimakasih bagi yang sudah mau menunggu cerita ini :)

Maaf sebesar-besarnya karena saya jarang update 🙏🙏

Happy Waiting

Antagonis Mommy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang