"Mama, kita mau kemana lagi." Rengek Alia yang sudah lelah mengikuti sang ibu.
"Mau pulang!" Teriak Alia langsung menghentikan langkah Laras.
Ralia menangis.
Ternyata berbelanja dengan mama tidak menyenangkan, tidak seperti saat berbelanja dengan Oma!
"Sebentar lagi kita pulang, udah kamu ikut aja."
Saat Alia ingin protes, Laras langsung menyela. "Jangan banyak ngeluh, Mau mama tinggal kamu di sini?"
Sontak saja anak itu langsung menutup mulutnya rapat, namun dengan hati yang semakin dongkol.
Matanya memerah menahan tangis dengan bibir mengkerut sebal, dasar mama iblis! Tidak punya hati nurani! Dia benci mama!
"Mau pulang." Lirihnya.
"Kenapa mama tidak berbelanja di supermarket seperti yang bibi lakukan ma" sungut Ralia.
Laras memberi pemahaman pada Ralia, "Mama ingin menunjukkan pasar tradisional ini sama kamu, sekalian kamu bisa dapat pengalaman baru di sini."
Paparnya, membuat Ralia mengangguk meski tidak menyimak.
Anak durhaka ini..
Sebenarnya.. aku hanya ingin menghemat pengeluaran saja..
Saat hendak melanjutkan langkahnya, tiba tiba saja "Tolong ada maling!" Teriak seorang ibu-ibu histeris sembari menunjuk seorang pria yang sedang berlari.
"Kamu diam di sini, jangan kemana-mana!" Titah Laras pada Ralia dan menitipkan anak itu pada ibu penjual sayur di sana.
"Mama mau kemana!!" Teriak Ralia saat sang ibu tiba-tiba pergi.
"Ihh mama nyebelin." Gerutunya menahan tangis.
Laras berlari cepat untuk menangkap pencuri sialan itu, untung saja tubuh yang ia tempati rajin berolahraga hingga mudah untuknya berlari.
Saat berlari Laras melihat di depannya ada sebuah gerobak yang menjual beberapa buah.
Sedangkan si pencuri itu masih berlari dengan tas curian yang ia genggam, namun sebelum itu.
Bugh..
Pencuri itu terjatuh menghantam aspal di jalan akibat sebuah semangka yang menghantam kepalanya.
Ia mengerang merasakan kepalanya sangat sakit akibat lemparan semangka itu membuat tas yang ia curi spontan terjatuh.
"Dasar kamu ini, merepotkan orang saja." Sindir Laras yang langsung mengambil tas tersebut.
Orang-orang yang ada di sana takjub saat melihat aksi Laras yang sangat menakjubkan.
"Pak, tolong hubungi polisi dan berikan tas ini nanti."
"Saya buru-buru, soalnya anak saya lagi merengek." Ujar nya memberikan tas pada warga di sana.
Sedangkan Ralia menangis histeris di tempat ia di tinggalkan, dasar mama jahat! Menyebalkan! Ia di tinggalkan sendirian.
"Dek aduh jangan nangis di sini." Nasihat ibu penjual sayur sembari memangku ralia.
"Nanti mama nya ke sini, jangan nangis lagi anak cantik."
"Mama jahat ninggalin aku." Rengek Ralia menghentakkan kakinya.
"Mama nya adek lagi ngejar penjahat, jadi adek ga di tinggalin."
"Nanti mamanya kesini lagi nak." Tukas ibu penjual yang masih sibuk menenangkan.
Beberapa menit berjalan, Laras kini menghampiri sang anak dengan nafas tersengal.
"Ralia." Panggil nya dari kejauhan.
Terlihat anak itu sedang duduk manis disamping ibu penjual sayur sembari memakan makanan yang tadi mereka beli.
Laras langsung memeluk erat putrinya, dia merasa bersalah telah meninggalkan anak ini sendirian.
Terlihat saat ia menatap mata gadis kecil ini yang berkaca-kaca dengan hidungnya yang memerah.
"Maafin mama Alia." Sesal Laras mencium pergelangan tangan dan kening sang anak.
Ralia terpaku melihat sang ibu yang terengah-engah dengan wajah yang penuh dengan keringat.
Ia teringat saat ibu penjual sayur ini bilang kalau mama sedang mengejar penjahat, jadi apakah itu benar?
Jikalau ia, itu sangat keren!
"Ga papa, Ralia ditemani di sini kok." Sahut Ralia tersenyum manis, ia tidak marah lagi karena mama sudah menangkap penjahat.
Tersenyum lega, Laras menggandeng jemari kecil Alia. "Sekarang kita pulang." Putusnya.
Sebelum pergi dari sana mereka sempat berpamitan pada ibu penjual sayur di sana, Laras mengucap terimakasih tidak lupa membeli banyak sayur di lapak tersebut.
Sebagai ucapan terimakasih nya secara tidak langsung, jika langsung di beri uang pastinya tidak akan langsung di terima.
Mereka langsung kembali ke hotel, di sambut dengan pemandangan kamar yang sangat seperti kapal pecah.
Ternyata.. menjadi ibu itu sangatlah melelahkan... Rasanya ingin pulang....
"Apa yang sudah kalian lakukan." Tanya nya dengan nada rendah.
Laras menatap marah ke arah dua bocah lelaki yang menjadi tersangka utama.
Mereka menunduk tidak berani menatap wajah galak mama, takut kalau telinga mereka yang akan menjadi target utama.
"Wuu pasti mereka tuh mama penyebab utamanya." Beber Alia menambah api yang semakin membara.
Dasar adik setan...
Awas saja kamu kak!
Alan dan Alex terus menunduk, sontak saja hal itu membuat geram Laras selaku ibu.
"Akh sakit mama"
Dengan tega ia menjewer telinga masing-masing dari mereka.
"Mama hanya pergi sebentar dengan saudara kalian."
"Masih saja membuat onar, gak habis pikir sama kalian ini."
"Turunan siapa sih." Keluh Laras.
Alex dan Alan sibuk memegangi telinga mereka, merasa bahwa sekarang telinga nya mulai mati rasa.
"Mama, telinga alan nanti budek." Jerit anak itu histeris.
"Ma lepasin ma, nanti telinga Alex putus." Rengek nya berjinjit.
Laras diam, biar saja anak nakal seperti mereka di beri hukuman.
"Ralia! Cari papa mu sekarang." Suruh Laras langsung membuat Ralia berlari mencari sang papa.
Ralia berlari, mencari papanya di bawah ranjang dan di lemari, namun nihil.
"Ish papa tidak ada, kemana ya." Gumamnya berpikir keras.
Padahal ia sudah mencari di tempat tersembunyi.
Jangan-jangan.. papa dimakan setan!
"Papa dimakan setan." Teriak Ralia heboh hingga didengar Laras.
Huft.. mengapa anak-anak ini sangat bodoh?
Laras tersenyum miris.
.
.
.
.
Gimana nihh part kali ini..
Semoga kalian suka ya :) maaf banget jarang update 🥹🥹
Sehat-sehat buat kalian di sana, titip salam dari keluarga kecil ini untuk kalian yaa..
Double up? Hmm
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis Mommy
HumorLaras tak percaya kini ia bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang wanita yang sudah memiliki 3 orang anak kembar tak identik. Syok saat mengetahui Fakta bahwa ke 3 anak itu benar benar sangat nakal di luar batas normal anak lain. Mampukah Laras memb...
