18.🦁

5.8K 315 6
                                        

Allo gess, maaf banget baru sempet update🙏🙏🙏 kemarin² draft ku hilang jadi gada mood buat bikin lagi.. maaf ya teman-teman..

SELAMAT MEMBACA🦁

.
.
.
.

Acara kemah si kembar pun segera dimulai hari ini.

Banyak sekali acara yang diadakan oleh sekolah untuk para siswa/i disana.

Dimulai dari membersihkan sampah plastik di sekitar kawasan kemah, menanam tanaman bersama, juga mengambil sampah di selokan.

Semua di lakukan dengan masing-masing dari mereka dengan diawasi oleh para guru.

Tak terkecuali dengan triplet yang kini sedang menjalankan tugas mereka masing-masing

Alia dengan semangat memungut semua sampah yang dilihatnya, tidak ada keraguan sedikitpun saat jemarinya mengambil botol plastik kotor di tanah penuh lumpur.

Gadis manja itu sepertinya sudah mulai berubah banyak.

Beralih pada Alan yang kini sedang mengangkat karung berisi sampah di pundaknya, berlagak sebagai kuli bangunan yang sering ia tonton dalam sebuah film berlogo ikan terbang.

"Aduh berat banget hidup ini, cari uang aja susahnya minta ampun." Kata Alan menirukan dialog film yang ia tonton.

"Aku harus tetap semangat demi keluarga di rumah." Lanjut Alan berpura-pura kelelahan.

Guru pengawas yang melihat Alan berbicara sendiri sontak langsung tertawa cekikikan dengan tingkah menggemaskan pria kecil itu.

Dengan gemas ia mengeluarkan handphone miliknya dan memotret Alan yang masih mengangkat karung berisi sampah dipundaknya.

Alia yang melihat saudaranya yang sedang tidak waras hanya bisa bergidik geli melihat acting jelek Alan, dasar tukang drama!

Seperti mamanya saja!

"Ngapain sih?" Tanya Alia sebal saat matanya tidak sengaja melihat sosok Alex yang berdiri menempel di belakang pohon besar sembari terengah-engah.

Sontak Alex langsung berlari dan mengumpat dibelakang tubuh adiknya.

"A-ada hewan menjijikan di sana." Teriak Alex.

Alia mengerutkan alisnya, "Apaansih, inikan cuman kodok." Jawabnya sebal.

"Itu menjijikan Alia! Jangan sentuh hewan jelek itu, nanti kau akan terkena virus mematikan." Alex menjerit histeris saat Alia mengangkat kodok tersebut enteng.

"Dasar deh, kamu lebay."

Alia dengan iseng mendekatkan lagi kodok tersebut ke arah Alex. Sontak lelaki itu langsung kabur terbirit-birit.

"Taruh benda menjijikan itu Alia!" Teriak Alex berlari cepat menuju posisi adik bungsunya berada.

Alia mengejar sang kakak masih dengan membawa kodok di kedua lengannya.

Brukk...

"Arghh."

Alan yang tadinya masih acting sambil membungkuk langsung nyusruk ke dalam tanah berlumpur karena terdorong oleh tubuh Alex.

"Apa-apaan sih kamu." Hardik Alan yang tertimpa tubuh Alex.

Sedangkan Alex masih berada di atas tubuhnya memeluknya erat, sangat erat hingga Alan susah bernafas.

"T-tidak!! Uangku!! Kerja kerasku!! sekarang menjadi sia-sia." Lirih Alex meratapi karung yang ia bawa sudah jatuh dengan isinya yang berceceran.

Sungguh bocah dramatis.

Sepertinya Alan akan sangat cocok jika masuk ke dalam industri perfilman, pasti semua filmnya akan laku keras saat itu juga.

Kini Alan bergantian menatap sang kakak diatasnya dengan posisi dirinya yang tersungkur, "minggir." Suruh Alan mencoba melepaskan diri.

"Kalian kenapa?" Tanya salah satu teman mereka yang bernama Cici.

"Cici! Tolong tarik dia dari ku!" Teriak Alan meminta pertolongan, jika Alex terus berada di atasnya cepat atau lambat tubuh kurusnya ini akan tergencet dan menjadi gepeng.

"Aku kan perempuan, mana bisa menarik Alex sendirian." Ucap Cici polos.

Alan menatap datar pada Cici yang mempunyai otak udang ini, sudah ia dunga bahwa Cici tidak bisa melakukan apapun untuk membantu.

Ingin sekali ia memarahi Cici.

"A-aduh." Lirih Alex mulai sadar kemudian bangkit dari tubuh adiknya.

Berguling kesamping dengan kekuatan penuh, Alan menatap sebal pada Alex. Masa bodo dengan pakaiannya yang penuh lumpur sekarang.

"Apa-apaan kau ini, lihat! kerja kerasku berantakan semua." Hardik Alan menunjuk karung sampah miliknya yang berceceran.

Alex meringis merasa sedikit bersalah.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Jawab Alex mulai berdiri dan memungut sampah yang sudah berserakan karenanya.

"Nih." Kata Alex memberikan karung sampah itu pada Alan yang masih cemberut.

"Apakah ada yang sakit?" Tanya Alex mengecek keadaan adiknya, "jika merasa ada yang sakit beritahu aku." Sambung Alex masih memeriksa keadaan Alan.

Tanpa Alex sadari bahwa dirinyalah yang terluka dan kini mengeluarkan darah segar.

Alan yang menyadari hal itu langsung melotot kaget, ia tiba-tiba berdiri, hampir saja terjatuh ke tanah namun urung.

Langsung saja ia berlari sembari menarik lengan saudaranya.

"Bu guru Alex berdarah! Tolong, tolong, nanti dia mati" Teriak Alan berlari-lari menuju pos peristirahatan para guru di sana.

"Wiu wiu ambulance datang, wiu wiu." Lanjut Alan memeragakan suara mobil ambulance.

Para guru seketika menjadi panik, salah satu anak murid mereka terluka!!

"Alex?!" Teriak salah seorang guru yang membawa peralatan medis.

Sedangkan, di tengah-tengah keributan yang terjadi.

Alia si biang kerok masalah berhenti berlari mengejar Alex dengan kodok yang masih berada di genggamannya.

Ia salah fokus, pada sosok yang tengah berdiri samping tepi danau.

Jangan-jangan dia mau mati?!

Netra Alia seketika membola saat Pemuda itu berjalan perlahan menuju danau.

Tidak bisa ia biarkan! Princess ini akan menolong mu wahai lelaki yang ingin mati!

Dengan cepat ia berlari tanpa perduli dengan sendalnya yang putus sebelah.

ia harus segera menyelamatkan lelaki itu segera agar tidak menemui Tuhan lebih dahulu.

Ctakk...

"Arghhh"

.
.
.
.

UPSS

Sampe sini dulu yaa teman-teman, see you..

Antagonis Mommy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang