9.🦁

15.8K 885 3
                                        

"Aku sudah memesan tiket liburan kita." Ucap Zein memasuki kamar mereka, melihat Laras yang kini terlihat cantik dengan daster bercorak ramai yang baru saja wanita itu beli dan pamerkan padanya.

Laras menoleh, matanya menatap tingkah laku Zein yang sedang pura-pura menoleh ke arah lain dan seperti sedang menghindari kontak mata dengan nya.

Terkekeh geli, memang menyebalkan pria itu, namun dia sangat manis jika di lihat lebih teliti.

Apalagi telinga merah itu, ingin sekali dia gigit, terlihat lucu berbanding terbalik dengan wajah suaminya yang dingin.

"Terimakasih."

Zein tersipu saat mendengar suara lembut itu, shit jantungnya mulai rusak lagi dan lagi, terlihat semakin cantik saja istrinya kini di lihatnya.

Langsung saja dia keluar, tak tahan berlama-lama satu ruangan dengan wanita gila yang sialnya ibu dari anak anak, takut khilaf.

Dengan telaten, Laras memasukan beberapa baju ke dalam koper.

"Aku akan memulai misi berbahaya ini, semoga saja anak-anak iblis itu tidak membuat keributan lagi." Gumamnya kesal mengingat betapa nakal dan keras kepalanya mereka.

"Mama?"

Alex berjalan ke arah Laras, menatap bingung sang ibu yang menyiapkan sebuah.... koper.

Dengan mata memerah, Alex memeluk ibunya menyembunyikan wajah nya yang kini memerah menahan sesak.

Laras bingung, tumben sekali anak sulung nya yang dingin ini memeluk duluan.

Mengusap perlahan rambut halus Alex sembari membalas pelukan hangat pria kecil yang sedang menahan tangisannya.

"Kenapa?"

Alex menggeleng.

"Bilang sama mama." Kata Laras sedikit khawatir.

Alex kembali menggeleng sebagai jawaban, malu jika harus menunjukkan wajahnya yang menyedihkan saat ini.

Tak tahan dengan keheningan yang terjadi, Laras akhirnya menjewer telinga Alex yang membuat anak itu berteriak kesal.

"Mama?!" Bentaknya marah.

Laras tertawa, ternyata anak itu sedari tadi menangis toh! Lihat wajahnya yang jelek seperti Zein, sedikit menghibur hatinya.

"Kenapa menangis? Cengeng sekali."

Alex bersedekap dada, menatap ke arah lain tak mau melihat wajah menyebalkan wanita cantik di hadapannya.

"S-siapa yang menangis? Mata mama katarak tuh, a-aku ga cengeng!" Balas nya tak sesuai dengan kenyataan.

Telinga nya memerah, menandai dia tengah mengalami perubahan emosional sekarang.

"Cengeng!" Sindir Laras semakin membuat Alex tantrum.

Alex berteriak kesal dengan aktif mengambil bantal di kamar mamanya dan memukul tepat di wajah sang ibu tidak terlalu kencang.

"Mama menyebalkan!"

Laras menatap tajam Alex, langsung saja dia membalas anak itu membuat mereka sekarang seperti sedang bermain peperangan bantal.

Saat tengah asyik bermain, ternyata anak-anak nya yang lain ikut bergabung bersama untuk bermain.

Tawa menghiasi kamar tersebut, tanpa tau di balik dinding terdapat Zein yang sedaritadi menyaksikan kelakuan ajaib mereka.

Terkekeh kecil, saat kedua manusia berbeda usia namun mempunyai sifat yang sama kini sedang bertarung bersama, terlihat sangat bahagia walau hanya dengan satu hal yang sangat sederhana.

Zein teringat dulu keluarganya tidak seperti ini.

Tidak ada tawa yang baru saja dia dengar, Alex si sulung yang selalu bersikap acuh pada sekitar dan jarang menunjukkan emosinya kini mulai berubah perlahan menjadi anak yang lebih berekspresi.

Ralia si anak tengah yang dulunya selalu murung, saat ini terlihat lebih hidup.

Dan Alan si bungsu yang dulunya selalu mendekam di kamar mulai bermain bersama saudaranya yang lain.

Juga sepertinya dirinya sendiri juga mulai berubah?

Laras yang saat ini sungguh beribu kali lebih baik di banding Laras yang dulu, setidaknya kelurga yang Zein punya sekarang lebih baik-- tidak, malah sangat baik melebihi impiannya.

Sedari kecil, Zein tidak pernah memiliki keluarga yang hangat, lahir di sebuah keluarga konglomerat yang terpandang membuat keluarganya sangat mementingkan kehormatan dan pekerjaan mereka masing-masing.

Sedangkan anak yang mereka miliki di telantarkan begitu saja dengan seorang bibi pengasuh di rumah dan segala kemewahannya

Tanpa tau bahwa anak kecil itu membutuhkan waktu bersama keluarganya yang sibuk.

Zein tidak pernah dekat dengan kedua orangtuanya, hingga saat ini.

Dia terlalu membenci mereka yang dulu mengabaikan dirinya dan menganggap dia tidak terlihat dan tidak berharganya.

Itu fikiran negatif yang otaknya selalu tanamkan mengenai keluarganya sendiri.

Menyebalkan ketika mengingat masalalu, tapi di sisi lain dia mensyukuri bagaimana mereka memberikannya kenyamanan duniawi yang tidak bisa di dapatkan semua orang.

.
.
.
.
.

Double up ga nih?
.
.





.
.

Terimakasih semuanya..

Bagi yang sudah mau vote dan komen aku bener² ngarasa seneng banget, terimakasih atas timbal balik nya guys...

Maaf ya auth jarang update, sibuk rl bener wehy💀

Have a nice day guyss👹👹

Antagonis Mommy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang