[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruang musik di Universitas Mahatma selalu memiliki atmosfer khas—nuansa dinding yang cerah dengan sedikit aksen merah tua di beberapa sudut, ditambah dengan deretan instrumen musik yang tertata rapi di rak-rak dan pojokan ruangan. Di sana, suara gitar yang dipetik Hifzhan pelan-pelan memecah keheningan. Siang itu, matahari menyelinap masuk dari celah jendela, membuat sinar tipis membentuk garis-garis di lantai ruangan.
"Lagu apa yang enak buat pembukaan?" tanya Jafi. Laki-laki itu duduk di kursi lipat sambil memutar-mutar pick gitarnya dengan tangan kanan. "Panitia minta kita nyiapin lima lagu dan minimal harus ada satu lagu yang mereka pilih," lanjutnya.
Hifzhan mengerutkan dahi. Jari-jarinya terus memetik gitar tanpa irama jelas. "Gue dapet feeling kalau mereka bakal minta lagu yang upbeat. Tapi, kalau cuma upbeat doang, kan, monoton juga."
Raden yang dari tadi duduk diam di pojokan sambil memeriksa senar gitarnya, ikut angkat bicara. "Lagu upbeat oke sih. Tapi, gue setuju, jangan semuanya. Kita, kan, mau main di acara besar, ulang tahun kampus. Biar memorable juga, kita kasih satu lagu yang lebih nge-jam atau santai. Mungkin bisa closing-nya."
Ghifari yang duduk bersandar ke tembok di samping Raden mengangguk setuju. "Ada ide? Gue kepikiran bawa lagu lama, sesuatu yang lebih familiar buat audiens. Sekarang, kan, banyak anak baru. Kalau kita bawain lagu hits yang lebih duluan terkenal, mungkin bakal bikin mereka nostalgia."
Jafi mengangkat bahu. "Bisa. Tapi, masalahnya, panitia enggak ngasih kita list lagu dulu. Mereka cuma bilang, 'bawa lagu yang asyik,' tanpa spesifik."
Obrolan mereka terhenti sejenak ketika suara langkah-langkah kaki kecil terdengar mendekati pintu. Kirana bersama Melody muncul dari balik pintu ruang musik yang setengah terbuka. Pintu kayu itu berdecit sedikit ketika mereka mendorongnya lebih lebar.
Melody terlihat membawa map hitam besar di tangannya. Wajahnya tampak serius. Namun, tetap tenang. Kirana seperti biasa tampil dengan wajah juteknya, tetapi sekalinya tersenyum akan terlihat sangat ramah. Seperti saat ia menyapa anak-anak HUS-BAND.
"Ketemu juga kalian," kata Kirana sambil melangkah masuk. "Lagi bahas apaan? Serius amat mukanya."
"Diskusi setlist buat acara ultah kampus," jawab Hifzhan cepat tanpa mengalihkan pandangan dari gitarnya.