[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam dinding di kamar Jafi menunjukkan pukul sebelas malam, tapi suasananya seperti dini hari. Meja belajar Jafi penuh dengan buku, laptop, dan tumpukan kertas. Di lantai, dekat tembok, Melody duduk bersila di depan kanvas yang hampir penuh dengan warna. Bau cat akrilik dan kertas memenuhi udara, bercampur dengan aroma kopi hangat di cangkir yang baru saja ditinggalkan Jafi.
Melody menggulung rambutnya asal, meninggalkan beberapa helaian yang terlepas di sisi wajahnya. Matanya fokus dan tangannya sibuk mencampur warna di palet. "Gue harus selesaiin ini malam ini pokoknya," katanya tanpa menoleh.
Jafi yang duduk di kursinya sambil mengetik presentasi di laptop, hanya melirik sebentar. "Lo yakin nggak mau istirahat dulu? Udah hampir tengah malam, Mel," katanya santai lalu menyesap kopinya pelan. Hoodie abu-abu yang dikenakannya terlihat kebesaran, tapi nyaman.
Melody mendengus kecil. "Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Karya gue yang kemarin rusak. Gue nggak mau jadi satu-satunya orang di pameran yang nggak punya karya."
Jafi tersenyum tipis. Matanya kembali ke layar laptop. "Lo panik, tapi gue yakin hasilnya bakal bagus. Kayak biasa."
Melody mendongak, menatapnya sejenak sebelum tertawa kecil. "Enggak tau, ya. Tapi lo selalu tahu gimana caranya bikin gue ngerasa lebih baik." Dia menggerakkan kuasnya lagi, kali ini lebih tenang.
Jafi hanya mengangkat bahu. "Gue cuma ngomong yang bener."
Melody kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Kanvas di depannya mulai menunjukkan pola-pola melingkar dengan warna-warna hangat seperti jingga, merah bata, dan coklat.
"Gue pengen karya ini ngingetin gue sama kita semua di Kos Ong. Kebersamaan kita, tawa-tawa konyol pas masak bareng, atau sekadar duduk-duduk ngobrol di lantai bawah," jelasnya, meski Jafi tidak bertanya.
Jafi mendongak, sedikit terpesona melihat keseriusan Melody. "Lo bikin lingkaran kosong itu maksudnya apa?"
Melody tersenyum kecil. "Kosong, tapi nggak kosong. Kayak... walaupun enggak ada isinya, lingkaran itu tetap punya arti karena ada garis yang ngelilinginnya. Sama kayak kita. Kadang ada yang pergi, ada yang datang, tapi lingkarannya tetap ada, kebersamaan kita tetap utuh."
Jafi memiringkan kepala, seperti berpikir, lalu mengangguk. "Puitis juga. Lo udah mikirin ini lama?"
"Gue mikir sambil ngegosok palet," Melody terkekeh, melanjutkan lukisannya. "Dapat ide karena tadi juga waktu di lantai atas. Gue bener-bener berterima kasih banget buat kalian semua. Kalau pamerannya sukses besar, gue traktir semua anak Kos Ong."
"Paling mentok, makan pecel lele Pak Yo lagi," cibir Jafi bercanda.
Melody berdecak. "Kalau enggak mau ya udah. Lo gue coret dari list," katanya yang dibalas tawa oleh Jafi.
Melody kembali fokus pada lukisannya. Sementara itu, Jafi kembali ke laptopnya. Suara ketukan keyboard terasa menenangkan, menyatu dengan bunyi kuas yang menyentuh kanvas. Sesekali, Jafi berhenti mengetik, memeriksa ulang slide yang ia buat untuk presentasi besok.