[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pameran Arunika: Warna Kebebasan di Universitas Mahatma akhirnya tiba, menghadirkan berbagai karya seni yang menggugah emosi dan imajinasi para pengunjung. Di aula pameran yang dihiasi dengan dekorasi elegan, deretan lukisan-lukisan terpajang rapi di sepanjang dinding, menciptakan suasana yang artistik dan mengundang decak kagum.
Melody tampak sibuk berkeliling, memegang kamera untuk mendokumentasikan setiap sudut pameran. Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Gadis itu sangat bersemangat, seakan seluruh beban persiapan terbayar tuntas saat melihat antusiasme teman-teman dan pengunjung lainnya.
Kejadian rusaknya lukisan yang sempat menghancurkan semangatnya perlahan terasa seperti memori yang jauh. Saat ini, Melody memilih untuk menikmati hasil kerja kerasnya, bersama teman-temannya, tanpa perlu memusingkan siapa yang merusak lukisan tersebut. Walaupun, Melody cukup merasa yakin terhadap satu orang yang bisa saja benar bahwa ia telah merusak karyanya.
Sejenak, ingatan Melody berputar pada kejadian beberapa menit yang lalu. Tepat ketika ia mendengar suara langkah seseorang yang ia kenali—Didan dan dengan ekspresi seriusnya memberi isyarat kepada Melody untuk berbicara di sudut galeri.
"Mel, gue dapat info dari Aryo," ucap Didan.
Melody merasa jantungnya berdetak lebih kencang, terutama saat Didan menyebut nama Aryo. Ia tahu bahwa Aryo adalah salah satu yang punya akses ke gudang tempat lukisannya disimpan.
"Jadi, lo udah dapet petunjuk baru?" tanya Melody, mencoba menenangkan diri dari bayangan insiden lukisan yang rusak.
Didan mengangguk pelan sambil melirik sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar. "Aryo bilang, dia lihat Kalista jalan keluar dari area belakang sehari sebelum gue nemuin karya lo yang rusak. Waktu itu, Aryo lagi bantuin bawa barang dan secara enggak sengaja ketemu dia. Tapi, Kalista cuma bilang dia lagi nyari bahan untuk tugas."
Melody tertegun, merasa campuran antara kecewa dan marah. Namun, sebelum Melody sempat mengutarakan perasaannya, Didan bersuara.
"Tapi, enggak ada bukti jelas, Mel. Gue juga enggak yakin kita bisa nuduh dia sekarang."
Meski sempat marah, Melody menghela napas, lalu berkata, "Ya udah, Dan. Stop di sini aja. Kalaupun bener Kalista, kita cukup tau aja. Lagian itu udah berlalu. Gue bakal fokus aja sama pameran ini. Gue yakin lukisan yang sekarang tetap bisa ciptain kesan yang baik."
Didan hanya bisa tersenyum kecil, menyadari betapa tabah sahabatnya itu.
"Gue cuma ikut sama keputusan lo," ucap Didan. "Lo yakin?"
Melody mengangguk. "Gue cuma enggak mau semuanya makin drama. Lo juga tau sendiri wataknya gimana."
Didan mengangguk. "Ya udah kalau gitu. Kalau lo udah Ikhlas, kita stop sampai sini."
Melody tersenyum. "Makasih, ya, Dan. Gue juga minta maaf udah repotin lo sama anak-anak."
"No problem, Mel. Ini juga udah tanggung jawab gue juga. Tanggung jawab kita semuanya."