[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lampu-lampu di Kafe Terserah malam itu memancarkan warna-warna hangat, menciptakan suasana yang nyaman bagi pengunjung. Ruangan kafe terasa hidup oleh obrolan para pelanggan yang datang untuk menikmati malam Minggu mereka. Terserah baru-baru ini menjadi lebih ramai, terutama sejak HUS-BAND mulai mengisi malam Minggu dengan penampilan live music mereka. Bahkan, kehadiran Hifzhan, Ghifari, dan Raden di sela-sela waktunya pun cukup menarik pelanggan di hari-hari biasa. Jafi sangat senang memiliki sahabat seperti mereka. Jafi sangat terbantu dengan adanya live music dari mereka untuk kafenya.
Seperti pengusaha pada umumnya, bisnis tetaplah bisnis. Jafi tetap memberikan timbal balik bagi penampilan HUS-BAND di malam Minggu. Walaupun jumlahnya tidak banyak, anak-anak tetap menerima dengan senang hati. Namun, lain lagi di hari biasa. Jafi tidak memberikan sepeser uang pun karena Hifzhan, Raden, atau Ghifari akan bernyanyi suka rela, mengisi kekosongan jadwalnya dengan bernyanyi di Kafe Terserah.
Setelah dua hari tidak bernyanyi, malam ini Hifzhan kembali. Pemuda dengan vokalnya yang khas itu ditemani Jafi yang mahir memainkan gitar akustik, menarik kembali banyak pelanggan setia. Bahkan mendatangkan wajah-wajah baru yang ingin menikmati malam dengan iringan musik live.
Di sudut ruangan, Melody duduk sendirian. Ia menikmati musik akustik yang dimainkan Jafi di panggung kecil kafe. Malam ini, dia sengaja datang untuk mengistirahatkan fisik dan pikirannya. Dengan pameran seni yang tinggal menghitung hari, beban persiapan mulai terasa baginya. Melody sudah mengirimkan lima karyanya pada Aryo, ketua divisi logistik dan perlengkapan, yang bertanggung jawab atas koleksi karya seni yang akan ditampilkan. Saat ini, ia hanya perlu menunggu verifikasi terakhir dari Didan—ketua divisi kuratorial, yang akan memilih karya mana saja yang layak dipajang di pameran.
Tiba-tiba, sosok Aryo yang familiar menghampiri, mengambil kursi dan duduk di seberangnya. Aryo dengan senyum lebarnya memberi salam hangat pada Melody. "Gimana, Mel, masih stres mikirin pameran?"
Melody tersenyum, walau sedikit kelelahan. "Udah agak lega, sih, Yo. Semua udah hampir kelar. Tinggal nunggu karya gue divalidasi sama Didan aja."
Aryo mengangguk sambil mengeluarkan ponsel. Ia memeriksa daftar karya yang sudah masuk. "Lima karya yang lo kirim udah gue amankan. Besok gue alihin ke Didan buat di-review. Tapi, gue yakin semuanya pasti diterima, sih."
Melody tertawa kecil, merasa tenang mendengar jawaban Aryo. "Gue beneran berharap semua langsung acc. Jangan sampai gue harus buat karya baru lagi, udah lumayan mepet waktunya."
Di atas panggung, Jafi sesekali melirik ke arah meja Melody yang sekarang tengah asyik mengobrol dengan Aryo. Alunan gitar Jafi tetap mengalir lembut, tapi di dalam hati, ada sedikit rasa cemburu yang menggelitik. Dirinya tahu Melody dan Aryo cukup dekat, tapi tetap saja, mengetahui sampai saat ini Aryo masih memanggil Melody dengan panggilan "Sayang" kadang-kadang membuatnya merasa aneh. Padahal, laki-laki itu tahu jika Melody sudah official dengannya.