[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di ruang istirahat yang disediakan panitia, suasana terasa hangat dan penuh tawa, meskipun sederhana. Ruangan itu dilengkapi meja panjang penuh nasi kotak, camilan, dan botol-botol air mineral yang sudah mulai berkurang jumlahnya. Di tengah keramaian tersebut, HUS-BAND dan beberapa teman, termasuk Melody, Cinta, dan Kirana, duduk santai setelah selesai tampil di panggung. Meskipun nasi box sudah habis, mereka cukup puas dengan camilan yang masih tersisa.
Melody duduk di samping Jafi yang sedang menghabiskan nasi kotaknya. Ketika Jafi menyisihkan sepotong kulit ayam di sudut kotaknya, Melody diam-diam melirik ke arah potongan renyah itu. Tanpa ragu, Jafi tersenyum dan menyuapkan kulit ayam ke mulut Melody.
"Apaan, Fi, kasih sayang, nih?" goda Hifzhan yang duduk berseberangan sambil mengangkat alis.
"Biasa aja. Biar dia enggak ngiler." Jafi menimpali sambil tertawa, lalu mengambil sisa air mineral Melody untuk diminum.
Melody menghabiskan camilannya dengan perlahan sambil bersandar santai di kursi. Namun, ucapan Kalista tadi terlintas di benaknya, dan tanpa sadar ia membuka percakapan, "Fi, lo dulu pernah suka sama Kalista?"
Jafi yang sedang menyeruput air langsung tersedak sedikit. Anak-anak yang lain, termasuk Hifzhan, Ghifari, dan Raden, menoleh dengan rasa ingin tahu yang kental, meskipun hanya sejenak sebelum kembali ke makanan mereka.
Cinta yang mendengar itu ikut menyahut dengan semangat, "Biasa, Mel dapat bisikan dari cewek pickme. Tadi pas nonton, dia bilang lo pernah suka sama dia gara-gara sering like postingannya."
Jafi hanya menggeleng sambil tersenyum geli. "Gue itu mengapresiasi karyanya. Gue sering like gambar-gambarnya Raden juga. Kalau gitu, gue naksir sama Raden juga gitu?"
Raden yang duduk di sebelah Ghifari langsung bergidik, mengangkat tangan seolah memberi tanda menjauh, "No, thanks, Fi. Gue enggak ikut-ikutan dalam dunia percintaan lo."
"Kan! Emang nyebelin banget tuh si pickme satu itu!" seru Cinta sambil memutar matanya, membuat mereka semua tertawa.
Melody yang mendengar jawaban Jafi merasa lega, meskipun sebenarnya ia tidak begitu khawatir.
Raden mendadak melirik ke arah Cinta dan bertanya dengan nada serius, "Gimana, Cin, progress proposal pameran seninya? Udah kelar?"
Cinta mengangguk santai sambil mengambil camilan. "Aman, Den. Udah gue kasih ke Kirana juga biar dicek ulang."
Kirana yang duduk di sebelah mereka mengiyakan, "Iya, udah gue serahin ke Papa. Kayaknya, sih, Papa setuju. Proposalnya belum balik ke gue lagi, tapi kayaknya aman."
Raden tampak lega mendengar kabar itu, dan mereka kembali tenggelam dalam obrolan ringan. Di sisi lain, Jafi menoleh ke Melody, yang sedang menyelesaikan snack-nya.