[27] Menuju Pameran

1.2K 171 14
                                        

Minggu ujian di Universitas Mahatma telah dimulai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Minggu ujian di Universitas Mahatma telah dimulai. Suasana kampus dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang dengan wajah serius, beberapa terlihat sibuk membaca catatan di tangga fakultas, sementara yang lain mengobrol dengan suara rendah, membahas materi ujian yang akan mereka hadapi. Udara pagi masih sejuk, namun ketegangan yang menggantung di antara mahasiswa membuat atmosfer terasa lebih berat.

Minggu ujian di Universitas Mahatma telah dimulai. Suasana kampus dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang dengan wajah serius, beberapa terlihat sibuk membaca catatan di tangga fakultas, sementara yang lain mengobrol dengan suara rendah, membahas materi ujian yang akan mereka hadapi. Udara pagi masih sejuk, namun ketegangan yang menggantung di antara mahasiswa membuat atmosfer terasa lebih berat.

Melody dan Cinta berjalan beriringan menuju ruang ujian, masing-masing membawa map berisi tugas portofolio yang telah mereka kerjakan selama beberapa minggu terakhir. Tidak ada ujian tertulis hari ini, hanya pengumpulan tugas, namun tetap saja, atmosfer tegang terasa di sekeliling mereka.

Di tengah perjalanan, mereka melihat Raden keluar dari ruang ujian dengan langkah santai, map tugasnya sudah berada di tangan pengurus ujian. Wajahnya tetap seperti biasa, tenang dan nyaris tanpa ekspresi.

"Habis ini nyusul ke gedung pameran, ya. Bikin konten, Mel," kata Raden, singkat namun jelas.

Melody mengangguk. "Oke, nanti gue nyusul."

Tanpa banyak basa-basi, Raden melangkah pergi, meninggalkan Melody dan Cinta yang kembali berjalan menuju ruang ujian. Begitu tiba di dalam, mereka segera menyerahkan tugas mereka kepada pengurus ujian mereka, memastikan semuanya sesuai sebelum keluar dari ruangan dengan napas lega.

"Akhirnya!" seru Cinta sambil merentangkan tangannya begitu mereka keluar dari gedung. "Gue butuh kopi buat ngerayain ini."

Melody tertawa kecil. "Entar aja, kita ke gedung pameran dulu."

Mereka segera menuju gedung pameran, tempat persiapan pameran seni sedang berlangsung dengan penuh kesibukan. Begitu memasuki ruangan, Melody langsung mengeluarkan ponselnya, bersiap mengabadikan momen anak-anak seni rupa yang sibuk menata karya mereka.

Di sudut ruangan, Raden dan Didan tampak sibuk menyusun dan menata lukisan sesuai dengan daftar kurasi. Mereka berdiskusi singkat, menyesuaikan pencahayaan dan posisi karya agar tampil maksimal saat pameran dibuka.

Sementara itu, Aryo dan beberapa mahasiswa lain baru saja datang, membawa beberapa karya tambahan untuk gelombang pengantaran kedua. Mereka mengangkat kanvas besar dengan hati-hati, memastikan tidak ada goresan atau kerusakan sebelum meletakkannya di area penyimpanan sementara.

"Seru juga, ya, liat mereka kerja," ujar Cinta sambil melirik layar ponsel Melody yang mulai merekam suasana.

Meski sibuk dengan ujian dan tugas, momen seperti ini membuat Melody merasa lebih hidup. Pameran tinggal beberapa hari lagi, dan ia tidak sabar melihat hasil akhir dari semua kerja keras mereka.

***

Jafi melangkah santai memasuki gedung pameran, tangannya membawa tas cup berisi beberapa minuman yang ia pesan sebelum datang ke sini. Aroma kopi dan cokelat manis bercampur dalam kantong kertas itu. Jafi mengedarkan pandangannya. Ia bukan anak seni, tapi ia bisa melihat betapa riweuhnya persiapan pameran ini. Di sisi ruangan, Raden dan Didan tengah menata karya dengan ekspresi serius. Beberapa tengah menata karya, sementara yang lain sibuk memasang pencahayaan agar suasana pameran lebih hidup. Beberapa mahasiswa terlihat membawa tangga, menggantung hasil karya di tembok, sementara yang lain sibuk merapikan katalog dan memastikan segala sesuatu siap sebelum hari pembukaan.

"Bro, pesanan lo," kata Jafi sembari menyerahkan minuman ke Raden yang masih jongkok di depan sebuah kanvas.

Raden menerima tanpa mengalihkan fokus dari pekerjaannya. "Nice, taruh aja di situ. Lo nggak buru-buru kan?"

"Gue masih ada waktu. HUSBAND mau latihan lagi nanti, jadi sekalian nunggu lo."

Raden hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Jafi beralih ke Melody yang tengah duduk di salah satu bangku kosong. Cinta duduk di sebelahnya, sibuk menggulir layar ponselnya.

Jafi lalu beralih ke Melody, memberikan segelas ice choco melo kesukaannya. "Buat kamu."

Mata Melody berbinar sesaat sebelum mengambilnya. "Ya ampun, makasih banget. Rasanya pengen rebahan, sumpah."

Jafi terkekeh dan duduk di sebelahnya. "Kamu tuh enggak ada capeknya. Harusnya istirahat bentar."

"Aku udah istirahat sekarang, kan?" Melody tersenyum lalu menyeruput minumannya.

Jafi lalu mengulurkan segelas red velvet untuk Cinta. "Ini buat lo juga, Cin."

Cinta menerima dengan senang. "Duh, baik banget, makasih, Jaf!"

Jafi tidak langsung pergi. Ia memilih berdiri di salah satu sudut, memperhatikan kesibukan anak-anak seni. Ada yang tengah mengatur posisi lukisan, ada yang sibuk menempelkan label deskripsi karya, ada pula yang sedang memeriksa daftar pengiriman barang.

Baru saja mereka hendak menikmati waktu sejenak, suasana menjadi sedikit tegang ketika seorang perempuan masuk dengan langkah percaya diri. Kalista. Mata tajamnya langsung mengarah ke Melody, dan ekspresi wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.

Kalista menatap Melody sekilas kemudian melipat tangan di dada. Lalu, dengan nada menyindir, ia berkata, "Nganggur banget kelihatannya. Harusnya rekam kegiatan anak-anak buat konten promosi."

Melody menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia benar-benar malas menghadapi Kalista sekarang. Ia memutar bola matanya sebelum meraih ponselnya dan bangkit dari tempat duduknya.

"Dari mana aja lo baru muncul? Kalau mau masuk video bilang aja kali," ujar Melody, suaranya datar. "Pengin banget kelihatan si paling sibuk kerja," lirih Melody.

Kalista tampak terkejut, tapi tak bisa berbuat apa-apa saat Melody mengarahkan kamera ke arahnya. Dengan cepat, Melody merekam beberapa detik kegiatan Kalista yang tengah 'mengamati' suasana pameran. Setelahnya, ia kembali duduk tanpa ekspresi dan mulai mengedit videonya.

Jafi, yang sedari tadi diam, menahan kekesalannya. Ia tidak terlalu paham dinamika antara Melody dan Kalista, tetapi ia cukup cerdas untuk menyadari bahwa perempuan itu selalu berusaha menyudutkan Melody. Meski begitu, Melody tampak tenang. Ia tak ingin menghabiskan energi untuk berdebat dengan seseorang yang tak layak.

"Lagian ngapain juga dengerin dia?" gumam Jafi pelan sambil menyeruput minumannya.

Melody hanya tersenyum kecil. "Biar cepet selesai aja."

Jafi menggeleng pelan. Ia menatap kesibukan anak-anak seni di sekelilingnya, kembali merenung. Meski ia bukan bagian dari mereka, ia bisa melihat betapa besar usaha yang dicurahkan untuk pameran ini.

***

Alhamdulillah update

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alhamdulillah update.
Langsung aja. Bom vote sama bom komen kalau mau double up!
Sampai jumpa di bab berikutnya!

13/03/2025

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang