[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pukul tujuh kurang dua puluh menit, Melody selesai bersiap. Kamar kosnya terasa lebih sunyi. Biasanya, Jafi sudah mengetuk pintu atau sekadar mengirim pesan, menanyakan apakah ia sudah sarapan atau menawarkan untuk pergi ke kampus bersama. Namun, pagi ini tak ada pesan masuk dari laki-laki itu.
Melody mendesah, mencoba mengabaikan rasa janggal yang tiba-tiba merayap. Ia meraih tasnya, lalu keluar kamar. Melody mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu setelah itu turun menapaki setiap anak tangga lantas menuju kamar Raden. Pintu kamar Raden sedikit terbuka, memperlihatkan sosok pemuda itu yang sedang mengenakan sepatu.
"Den," panggil Melody pelan.
Raden menoleh, sedikit terkejut melihat Melody berdiri di depan pintunya. "Ada apa, Mel?" tanyanya sambil berdiri.
"Ke kampus bareng, ya?" pinta Melody.
Raden menyipitkan mata, bingung. "Tumben. Biasanya sama Jafi."
Melody mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. "Jafi belum bangun. Kayaknya kelasnya kosong. Gue enggak mau ganggu, jadi gue minta bareng lo aja."
Raden mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. "Oke, tunggu bentar."
Setelah memastikan semua siap, mereka keluar Kos Ong. Keduanya berjalan menuju motor Raden yang terparkir di parkiran kos. Melody naik di belakangnya lalu motor pun melaju pelan menuju kampus.
Suara angin yang berhembus pelan menemani mereka di perjalanan. Beberapa kali Melody melirik ke arah jalan, mencoba mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan pikirannya.
Raden akhirnya yang lebih dulu memulai. "Mel, soal konten promosi pameran. Gimana, performanya bagus?"
"Oh, ya!" Melody mendadak semangat. "Viewers-nya makin naik. Kalau lihat dari komentar-komentar, banyak yang tertarik dan enggak sabar buat datang ke pameran."
Raden mengangguk, terdengar lega. "Bagus. Kalau engagement-nya tinggi, berarti strategi kita berhasil," kata Raden. Ia melanjutkan setelah jeda singkat. "Nanti setelah kelas pagi, gue mau ajak diskusi bentar soal progres persiapan pameran."
"Diskusi di mana?" tanya Melody.
"Di kelas aja. Biar cepet dan enggak butuh waktu buat pindah. Lagian, biasanya ruangannya juga enggak ada yang make, kan, di jam ketiga," Raden menjelaskan.
"Oke, gue kabarin di grup, ya?"
Raden hanya mengangguk. Motor mereka melaju melewati jalan kampus yang mulai ramai dengan mahasiswa lain. Sepanjang perjalanan, Melody berusaha mengabaikan pikirannya yang melayang pada Jafi.
***
Diskusi mahasiswa tentang progres pameran seni baru saja selesai. Ruangan kelas terasa lega setelah para mahasiswa satu per satu meninggalkan tempat, menyisakan Melody dan Cinta di sana.