[22] Restu

1.3K 180 5
                                        

Suasana di Kafe Terserah malam itu semakin meriah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana di Kafe Terserah malam itu semakin meriah. Lampu-lampu hangat menerangi ruangan dan pelanggan memenuhi setiap sudut. Mereka menikmati malam minggu dengan obrolan santai dan musik akustik yang dimainkan HUS-BAND. Pada saat itu, Jafi sedang fokus memainkan gitarnya, mengiringi suara khas Hifzhan yang menyanyikan lagu terakhir. Raden dan Ghifari juga tampak bersemangat mengisi panggung dengan permainan musik mereka.

Namun, tiba-tiba, mata Jafi menangkap sosok familiar di antara kerumunan pengunjung. Papanya—Pak Nagar berdiri di dekat pintu masuk kafe. Pria setengah baya itu tampak rapi dengan kemeja putih dan jas hitam yang membuatnya mencolok di antara para pengunjung kasual. Jafi tertegun sejenak, hatinya berdebar tak menentu. Ia tahu betul ayahnya tidak terlalu menyukai aktivitasnya di band, bahkan pernah menekankan bahwa musik hanya akan mengalihkan fokus Jafi dari kuliah dan bisnis.

Jafi menarik napas panjang. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya. Laki-laki itu melirik Raden, Ghifari, dan Hifzhan, yang juga tampak menyadari kehadiran Pak Nagar. Raden memberikan anggukan kecil, seakan mengatakan agar Jafi tetap fokus. Jafi pun mengangguk pelan. Ia menguatkan diri untuk tetap profesional dan menyelesaikan penampilan malam itu.

Di tengah lagu, Pak Nagar sudah duduk tenang di salah satu bangku. Wajahnya tampak datar, tetapi penuh dengan sorotan tegas. Suasana di antara HUS-BAND sedikit tegang, tetapi mereka tetap melanjutkan musik hingga lagu terakhir. Setiap petikan gitar Jafi, setiap ketukan drum Ghifari, dan setiap vokal yang dihasilkan Hifzhan terasa mengandung perasaan yang lebih mendalam dari biasanya, seakan-akan mereka tampil dengan penuh dedikasi untuk menunjukkan bahwa musik ini adalah bagian penting dalam hidup mereka.

Setelah lagu selesai, riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Jafi tersenyum tipis sambil mengangguk, mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung kafenya. Ia menyimpan gitarnya dengan hati-hati kemudian dengan perasaan yang campur aduk, melangkah menghampiri Pak Nagar yang menunggunya dengan ekspresi tak terbaca.

Raden, Ghifari, dan Hifzhan mengamati dari jauh. Mereka tampak khawatir, tetapi enggan mendekat agar tidak mengganggu percakapan ayah dan anak itu. Di tengah ruangan yang masih ramai dengan pengunjung, Pak Nagar dan Jafi saling menatap, seakan ada jarak panjang di antara mereka.

Pak Nagar membuka percakapan dengan suara rendah, tetapi jelas, "Jadi, kamu masih aktif bermain musik dengan mereka?"

Jafi menelan ludah dan mengangguk pelan. Pak Nagar terdiam sejenak, menarik napas panjang. Matanya menatap Jafi dengan tajam, seolah-olah sedang menilai seberapa jauh keseriusan putranya dalam hal ini.

"Jafi, ini yang kamu inginkan? Kamu benar-benar menikmati bermain musik seperti ini?"

Jafi merasa pertanyaan itu jauh lebih dalam daripada sekadar persetujuan ayahnya. Ia mengumpulkan keberanian, menatap Pak Nagar dengan tatapan jujur. "Pa, musik bukan sekadar hobi buat Jafi. Jafi suka setiap detik Jafi main musik di panggung, suka saat Jafi bisa berkreasi sama Raden, Hifzhan, dan Ghifari. Jafi merasa bebas, merasa jadi diri sendiri."

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang