[26] Terbuka

1.5K 193 18
                                        

Jafi menunggu di atas motor, matanya terus memperhatikan gedung Fakultas Seni

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jafi menunggu di atas motor, matanya terus memperhatikan gedung Fakultas Seni. Ia sudah mengirim pesan beberapa menit yang lalu, memberi tahu Melody bahwa ia sudah sampai. Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul dari pintu utama. Melody berjalan mendekat, raut wajahnya tenang seperti biasa, tetapi Jafi tahu ada sesuatu yang berbeda.

"Udah lama nunggu?" tanya Melody santai saat naik ke boncengan.

"Nggak juga," jawab Jafi, menoleh sekilas ke arahnya sebelum memasang kembali fokus ke jalan.

Tanpa banyak kata, motor melaju meninggalkan fakultas. Suasana di antara mereka terasa sedikit canggung, tetapi baik Jafi maupun Melody memilih untuk bersikap biasa seolah tidak ada masalah yang menggantung di antara mereka. Padahal, ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.

Selama perjalanan, keduanya diam. Hanya suara mesin motor yang terdengar, diiringi angin sore yang bertiup perlahan. Melody memandangi jalanan, pikirannya melayang-layang, sementara Jafi berkonsentrasi pada kemudi, sesekali melirik ke kaca spion untuk memastikan Melody baik-baik saja.

Sampai di Kos Ong, Melody turun lebih dulu. Ia melepas helm dan meletakkannya di rak garasi. Setelah itu, ia melangkah masuk ke Kos Ong terlebih dahulu. Di sisi lain, Jafi memarkir motornya.

Saat masuk ke dalam kos, Melody melihat Cakra dan Azka yang tengah asyik bermain PS.

"Sendirian aja. Mana Jafi?" tanya Cakra tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Ada, tuh, di belakang," jawab Melody.

Melody lalu berpamitan naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ia merasa butuh waktu sejenak untuk sendiri sebelum berbicara dengan Jafi. Mandi mungkin akan sedikit membantu menenangkan pikirannya.

Di sisi lain, Jafi juga memahami situasi itu. Ia pun langsung menuju kamarnya, berniat membersihkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka berbicara.

***

Setelah mandi dan berganti pakaian, Melody duduk di tepi kasur dengan handuk kecil masih menempel di rambutnya. Gadis itu mengenakan kaos oversized dan celana piyama. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Pikirannya masih berkecamuk. Sebenarnya, ia tidak mau berlarut-larut dalam perasaan aneh ini, tetapi bayangan Jafi yang tiba-tiba berubah sikap masih mengganggunya.

Di sisi lain, Jafi juga baru saja selesai membersihkan diri. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, merasa gelisah. Rasa bersalah itu belum hilang, bahkan semakin menumpuk. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Melody tidak nyaman. Namun, ia hampir melanggar batas yang seharusnya tidak disentuh.

Dengan langkah pelan, Jafi keluar dari kamarnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu Melody. Tangannya terangkat untuk mengetuk, tetapi ia ragu-ragu. Jafi menarik napas dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu dua kali.

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang