[17] Lukisan Kosong

1.3K 203 16
                                        

Langit senja mulai merambat pelan di Kos Ong yang kala itu suasananya sedikit tenang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit senja mulai merambat pelan di Kos Ong yang kala itu suasananya sedikit tenang. Hampir semua penghuni kos sibuk dengan aktivitas masing-masing, tetapi beberapa penghuni keluar dari kamar dan berkeliaran di lantai bawah hanya untuk pergi menuju dapur. Entah mengambil air minum, es krim, atau makanan miliknya setelah itu kembali ke lantai atas.

Di ruang tengah, Jafi masih duduk di sofa panjang dengan wajah tampak letih dan khawatir. Laki-laki itu masih memikirkan Melody yang sejak pulang dari kampus mendekam di kamarnya tanpa ingin bicara dengan siapa pun. Sejak lukisannya ditemukan rusak, semangatnya tampak hilang, dan perempuan itu langsung mengurung diri. Jafi awalnya ingin menghibur Melody atau mengajaknya makan malam. Namun, tampaknya suasana hati gadis itu masih terlalu kacau.

Langkah ringan terdengar dari arah pintu depan. Ghifari muncul dan langsung meletakkan ransel di lantai sebelum mendekat ke sofa. Pemuda itu menempatkan dirinya di samping Jafi. Gurat lelahnya cukup tampak. Ia ingin memejamkan mata. Namun, rasa penasarannya lebih besar sehingga ia menolehkan kepala ke arah sang sahabat.

"Kenapa lo?" tanyanya. "Sepet banget mukanya. Enggak dapat jatah dari Melody?"

Kurang ajar memang ucapan laki-laki itu. Namun, Jafi tidak menggubrisnya. Ia menghela napas panjang. "Pusing gue mau bujuk gimana. Melody hilang mood. Lukisannya yang buat pameran rusak, ketumpahan cat."

Ghifari mengangguk paham. "Oh."

Raden muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air. Wajahnya tampak serius. Laki-laki itu segera mendekat setelah mendengar sedikit pembicaraan Jafi dan Ghifari.

"Lukisannya Melody yang rusak, ya?" Raden mengangkat alis, lalu duduk di sebelah Jafi. "Gue ngerti banget kenapa dia down. Enggak gampang buat ngulang karya yang udah selesai. Itu enggak kayak kita nyalin gambar atau bikin foto kopi."

Jafi tampak sedikit bingung. "Tapi... enggak bisa diulang sama sekali? Maksud gue, konsepnya, kan, bisa sama. Lukisannya tinggal dibikin lagi."

Raden tersenyum tipis, tahu Jafi ingin membantu tapi belum mengerti sepenuhnya. "Gini, Fi. Setiap kali seorang seniman melukis, itu enggak cuma soal nyalin bentuk atau gambar, tapi ada emosi yang keluar pas proses melukis. Nah, emosi itu enggak bisa lo bikin lagi persis sama, apalagi kalau lukisannya sudah selesai."

Hening sejenak. Raden melanjutkan penjelasannya. "Buat seniman, prosesnya itu yang penting. Kalau dia coba ulang, mungkin hasilnya enggak akan sesuai harapan. Itu bisa bikin makin frustasi."

Jafi mengangguk pelan, mulai memahami perasaan Melody lebih dalam. "Ya, gue cuma mikir kalau mungkin bisa diperbaiki atau diulang aja. Gue enggak tahu kalau itu bisa jadi lebih sulit buat Melody."

Hening. Mereka sama-sama terdiam dan terpusat pada pikiran mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, Raden menepuk bahu Jafi. "Gue ada ide."

Jafi sedikit menunjukkan binarnya saat mendengar ucapan Raden itu. Ia menatap Raden cukup antusias.

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang