[19] Aku-Kamu

1.3K 178 10
                                        

"Swara? Kok enggak ngabarin kalau mau ke sini? Enggak ada kelas emangnya?" tanya Melody dengan alis terangkat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Swara? Kok enggak ngabarin kalau mau ke sini? Enggak ada kelas emangnya?" tanya Melody dengan alis terangkat.

Swara, saudara kembar Melody, hanya mengangkat bahu santai. Ia melepaskan ransel dari pundaknya. "Kosong. Habis nganterin Zi kelas. Disuruh nunggu di kantin."

Melody mengangguk-angguk. Zi adalah panggilan kesayangan Swara untuk kekasihnya. Melody juga cukup dekat dengan perempuan itu dan beberapa kali pergi ke toko kosmetik bersama dirinya.

Tak lama setelah itu, Swara menempatkan dirinya di samping Jafi. Jafi tampak tak terganggu oleh kehadiran Swara, seolah sudah terbiasa dengan keakraban mereka. Pesanan makanan Swara datang lebih cepat dari dugaan. Laki-laki itu mulai makan dengan lahap sambil tetap berbicara dengan Jafi. Jafi dan Swara mengobrol tentang banyak hal, dari kabar Zi sampai cerita ringan seputar kampus. Melody hanya menjadi pendengar setia sambil menikmati makanannya.

Jafi selesai makan lebih dulu. Ia melihat persediaan tisu Melody sudah habis. Tanpa basa-basi, Jafi berdiri untuk membeli tisu di dekat kasir.

Saat Jafi pergi, Swara memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara. "Besok, kan?" katanya dengan nada mengingatkan.

Melody memiringkan kepala, sedikit bingung. "Besok apa?"

Swara menarik napas, seperti tidak percaya saudaranya itu bisa lupa. "Hari ulang tahun Mama sama Papa," ujarnya pelan, menambahkan, "Biasanya kita pulang makan malam bareng Mama, kan?"

Melody tertegun. Rasa bersalah karena lupa mulai menjalari pikirannya. Ada rasa tak nyaman yang muncul di hatinya, tapi ia menutupinya dengan anggukan. "Iya, gue bakal pulang."

Swara tersenyum tipis. "Gue jemput, ya?"

Melody mengangguk lagi. Kali ini, tanpa banyak bicara. Dalam hati, ia mulai memikirkan apa yang harus ia persiapkan untuk makan malam besok.

Tak lama, Jafi kembali dengan sebungkus tisu di tangan. Ia meletakkannya di meja dan duduk kembali di tempatnya. Suasana di meja kembali ringan, seolah pembicaraan serius barusan tidak pernah terjadi. Melody merasa sedikit lega karena Jafi ada di sana, meskipun tanpa kata, kehadirannya sudah cukup menenangkan.

***

Ziana, kekasih Swara menyusul ke kantin setelah menyelesaikan urusannya. Setelah makan siang di kantin, mereka berpisah. Swara dan Jafi melangkah ke arah ruang latihan musik, sedangkan Melody dan Ziana mengambil rute berbeda menuju parkiran kampus. Setelah mengambil motor Swara, mereka pergi menuju pusat perbelanjaan di dekat kampus. Jalanan siang itu lumayan ramai, tetapi hawa dingin dari angin yang berembus membuat suasana menjadi lebih santai.

Sesampainya di tempat tujuan, kedua gadis itu segera melangkah mendekati bangunan bercat merah muda. Melody melirik Ziana yang berjalan di sampingnya. Rambut panjang perempuan itu berkibar pelan. Ziana adalah gadis yang santai, tetapi memiliki aura feminin yang kuat. Tidak heran jika Swara jatuh hati padanya.

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang