[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar Jafi di kos-kosan lantai dua Kos Ong memiliki nuansa yang benar-benar mencerminkan dua sisi hidupnya, sebagai mahasiswa bisnis dan seorang gitaris HUS-BAND. Kamar berukuran sedang itu terlihat rapi, tetapi tetap menyisakan sentuhan santai dan personal. Dindingnya dicat warna abu-abu muda, membuat ruangan terasa kalem dan tenang. Namun, beberapa aksen dekorasi di dinding, seperti poster-poster konser dan foto-foto gig yang ia ikuti, memberi energi tersendiri yang seolah menceritakan sisi kehidupannya yang lain.
Di sebelah kiri pintu masuk, terdapat rak buku kecil yang penuh dengan berbagai buku bisnis, jurnal kuliah, dan beberapa novel yang sengaja ia tumpuk di satu sisi. Di antara buku-buku itu, terselip tumpukan kertas yang berisi catatan-catatan dan konsep menu untuk kafe yang sedang Jafi kembangkan, berbaur rapi dengan map dokumen bertuliskan "strategi pemasaran," "ide branding," dan lainnya. Rak itu menyatu dengan meja kerja yang sederhana, tetapi padat akan barang-barang yang teratur. Laptop, kalender, dan lampu belajar berdiri di pojok meja, botol air mineral, charger ponsel, dan ada dua cangkir kopi kosong di sebelahnya yang mungkin sisa dari malam-malam begadang.
Di sudut dekat jendela, gitar akustik Jafi bersandar di dudukannya, lengkap dengan amplifier mini di sampingnya. Di dinding atas gitar itu, ada rak kecil yang ia pasang sendiri, dipenuhi oleh beberapa CD musik favorit dan kaset-kaset lama yang ia koleksi. Ada juga foto hitam-putih dirinya bersama anak-anak HUS-BAND yang ia tempel seadanya di dinding, seolah foto itu menyimpan banyak kenangan dan cerita.
Di karpet abu, kertas-kertas berserakan tidak teratur. Bahkan, ada juga yang tergeletak di kasur. Tempat dimana Jafi dan Melody duduk. Dua manusia itu tidak lagi peduli pada kertas-kertas yang sempat membuat mereka pusing. Kini, keduanya tengah menghibur diri dengan melihat akun sosial media Melody yang tiba-tiba saja ramai.
Melody menatap layar ponselnya sambil tersenyum tak percaya, sesekali tertawa kecil membaca komentar-komentar yang terus bermunculan. Semua ini terjadi setelah tiga puluh menit yang lalu, Jafi secara terang-terangan mengungkapkan hubungan mereka lewat sebuah unggahan yang cukup simpel di akun media sosialnya. Foto Melody dengan senyum yang begitu manis saat melihat lukisannya, disertai caption sederhana dari Jafi: "Finally found my muse" dan diakhiri emotikon hati. Reaksi dari para penggemar HUS-BAND langsung meledak di kolom komentar dan akun pribadi Melody ikut kebanjiran follower.
Tidak hanya akun pribadinya, akun Melokis—tempat Melody memajang hasil karya lukisannya—ikut meroket dalam jumlah pengikut. Banyak orang yang sebelumnya hanya mengagumi Melody dari jauh, kini lebih berani mendekat, memberikan apresiasi yang tulus terhadap karya-karya yang selama ini ia buat. Tak jarang, ada juga yang meninggalkan komentar bercanda.
Melody tertawa kecil saat membaca salah satu komentar. "Gue tahu kenapa Ayang Jafi mau sama Melody. Ayang gue dipelet! Peletnya pakai lukisan!"
Jafi ikut terkekeh. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya di pinggang Melody.