[13] Deep Small Talk

1.9K 225 33
                                        

Jafi dan Melody turun ke lantai dua dengan langkah yang ringan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jafi dan Melody turun ke lantai dua dengan langkah yang ringan. Jafi memegang dua kanvas besar di tangannya, sementara Melody menenteng palet warna dan beberapa kuas di pelukannya. Saat tiba di depan pintu kamar Melody, Jafi terdiam sebentar. Dia menatap pintu kamar kos perempuan itu dengan sedikit keraguan.

"Gue taruh di sini aja kali, ya?" tanyanya ragu, takut jika masuk akan terasa terlalu intim.

Namun, Melody hanya tersenyum menenangkan. "Masuk aja, enggak apa-apa. Lo beberapa kali pernah ke sini juga, kan?"

Jafi mengangguk pelan, tetap merasa canggung. Meski begitu, dia mengikuti Melody masuk ke kamar. Ia berhati-hati saat meletakkan kanvas dan alat-alat melukisnya di sudut ruangan yang sudah terbiasa dia lihat penuh dengan karya seni setengah jadi milik Melody.

"Thanks, Fi," ucap Melody sambil memandang hasil kerja mereka.

Jafi hanya tersenyum. "Sama-sama." Jafi mengedarkan pandangan melihat kamar Melody.

"Hari ini ada kelas enggak, Mel?"

Melody menggeleng. "Enggak ada. Kelasnya kosong. Diganti tugas."

Laki-laki itu menatap Melody. "Jalan-jalan, yuk. Keluar bentar," ajaknya.

"Boleh. Kemana?" jawab Melody sambil menjepitkan jedai pada sebagian helai rambutnya.

"Keliling aja. Ke taman kampus? Nanti siang, gue ada latihan."

"Oke. Mampir café, ya. Pengin boba," pinta Melody.

Jafi tersenyum. "Gue ambil kunci dulu."

Melody mengangguk. Gadis itu membiarkan Jafi keluar dan masuk ke kamarnya. Setelahnya, Melody langsung bersiap-siap. Dengan cekatan ia menuju lemari pakaiannya. Tangannya meraih rok warna coklat untuk ia padukan dengan kaos dan outer berwarna krem. Setelah mengganti pakaian, Melody merapikan rambut, menyapukan bedak, dan mengoleskan lipstik agar wajahnya terlihat lebih segar. Perempuan itu kemudian menyemprotkan parfum ke beberapa titik tubuhnya agar wangi.

Tidak berbeda jauh dengan Melody, di sisi kamar yang lain, Jafi juga mengganti pakaiannya dengan setelan yang cukup kasual, kaos putih oversize dan celana cargo warna krem. Pria itu merapikan rambutnya, menyemprotkan parfum, lalu memasang jam tangan untuk memaksimalkan outfit-nya. Setelah selesai, ia mengambil handphone, dompet, dan kunci motornya. Jafi mengambil sneakers kemudian keluar dari kamar kos. Begitu di luar, Jafi melihat Melody turut keluar sembari menenteng sepatu sneakers-nya. Keduanya melempar senyum dan segera memakai sepatu setelah mengunci pintu kamar.

"Yuk, udah," kata Melody menyusul Jafi berdiri setelah laki-laki itu selesai lebih dulu.

Jafi dan Melody turun ke lantai satu Kos Ong. "Kaya biasa," kata Jafi sembari mengulurkan ponsel dan dompetnya pada Melody.

Melody menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah tidak heran, tetapi tetap saja mempertanyakan mengapa laki-laki itu tidak ingin berubah. Jafi terkekeh. Melody pun membuka tasnya dan mempersilakan Jafi menyimpan barang-barangnya di sana. Sesampainya mereka di lantai bawah, mereka terkejut melihat pemandangan di ruang tengah.

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang