[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar Melody terasa sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang samar-samar terdengar, seolah menjadi satu-satunya pengingat waktu yang terus berjalan. Melody duduk di tepi ranjang. Tatapannya masih lurus pada layar laptop di hadapannya. Drama Korea yang baru saja ia tonton masih terjeda, menampilkan adegan sepasang kekasih yang saling menatap dengan intens, bibir mereka nyaris bersentuhan.
Jendela kamar yang setengah terbuka membuat angin malam masuk, memainkan tirai putih yang berkibar pelan. Udara dingin menyentuh kulitnya, menyelinap ke dalam pikirannya yang sedang kacau. Namun, yang lebih menusuk bukanlah udara dingin itu, melainkan gejolak aneh yang semakin sulit ia abaikan.
Ia menutup laptopnya tanpa ragu lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Pandangan Melody terpaku pada langit-langit kamar, kosong. Namun, pikirannya justru dipenuhi dengan ribuan hal yang saling berdesakan untuk didengar.
Melody memejamkan mata. Namun, seketika ingatannya memutar kejadian di sofa depan TV di ruang tengah Kos Ong. Sosok Ghifari dan Kirana langsung muncul di pikirannya. Pasangan yang tak pernah segan menunjukkan kemesraan mereka, bahkan di hadapan teman-teman satu kos. Dengan santainya, Ghifari selalu memeluk Kirana, menatapnya dalam-dalam, lalu mengecup bibirnya tanpa ragu.
Melody menghela napas panjang. Ia ingat betul bagaimana Jafi yang berdiri di sampingnya kala itu langsung menutup matanya dengan telapak tangan besar miliknya, sambil menggerutu pelan, "Anjing, anjing, Ghifari anjing."
Namun, apa yang dirasakan Melody bukanlah amarah seperti yang Jafi tunjukkan. Sebaliknya, ia merasa... bingung. Kenapa adegan seperti itu tiba-tiba meninggalkan kesan mendalam di pikirannya?
Melody membuka matanya kembali, menatap langit-langit kamar. "Kenapa jadi kayak gini?" gumamnya lirih.
Melody mencoba mengusir pikirannya, tetapi usahanya sia-sia. Melody menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Pikirannya berkelana, bertanya-tanya, apakah Jafi pernah berpikir untuk mencium dirinya atau tidak.
Jafi selalu perhatian, selalu tahu apa yang membuatnya nyaman. Jafi bukan seperti Ghifari. Ia berbeda. Dan perbedaan itu yang selama ini membuat Melody merasa aman. Namun, sekarang, perasaan aman itu justru berubah menjadi rasa penasaran yang menyiksa Melody.
Jafi beneran beda... atau sebenarnya dia sama aja kayak cowok lain?
***
Melody merasa pagi itu sangat mendukung untuk melukis. Setelah sarapan bubur dan mandi, ia memutuskan untuk mencari suasana tenang di lantai tiga Kos Ong. Tangan kanannya membawa kanvas kosong, sementara tangan kirinya menjinjing keranjang kecil berisi alat lukis. Kakinya melangkah perlahan menaiki tangga, pikirannya dipenuhi dengan ide-ide yang ingin ia tuangkan.
Namun, sesampainya di lantai atas, langkahnya mendadak terhenti. Kedua matanya melebar, menatap apa yang ada di sudut taman kecil yang terletak di lantai tiga Kos Ong. Wajahnya perlahan memerah. Hifzhan dan Gia berdiri sangat dekat. Wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter, dan sebelum Melody sempat memproses apa yang terjadi, bibir mereka saling bertemu dalam sebuah ciuman yang cukup intens.