[ WHITORY ]
Melody merupakan mahasiswi Seni Rupa semester lima. Gadis dengan ciri khas celemek penuh cat itu memutuskan untuk pindah kos karena alasan kenyamanan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada salah satu kos elit bernama Kos Ong. Kedatangannya dis...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit mulai berubah warna, dari semburat jingga menjadi hitam. Terserah kembali dipadati pengunjung. Meja-meja kayu yang disusun rapi penuh dengan gelas kopi, piring kue, dan tawa riang dari berbagai kalangan. Lampu gantung bergaya industrial memberikan pencahayaan temaram, menambah nuansa homey yang membuat pelanggan betah berlama-lama.
Di balik meja kasir, Jafi berdiri dengan lengan disilangkan. Senyum tipis tersungging di wajah tampannya. Netranya yang dilindungi kacamata senantiasa mengawasi setiap aktifitas yang ada di dalam kafe. Ia tampak puas melihat tempat usahanya kembali ramai. Meski ia pemilik kafe, malam ini, ia memilih turun tangan membantu pekerjaan para karyawannya. Dengan apron cokelat yang melingkar di pinggang dan kaos hitam polos, ia lebih terlihat seperti staf biasa daripada seorang bos.
Fifin, karyawan bagian kasir, terlihat sibuk setelah melayani antrean pelanggan. "Bang Jaf, lo beneran gak capek berdiri dari tadi?" tanyanya sambil menekan tombol mesin kasir.
Jafi hanya terkekeh, menyandarkan tubuhnya pada meja kasir. "Capek sih. Tapi, gue senang aja liat kafe ramai kayak gini. Lo butuh bantuan enggak?"
Fifin menoleh sekilas, menyipitkan mata. "Kalau lo beneran mau bantu, coba cek stok gula aren di gudang. Gue rasa udah mau habis."
Jafi mengangguk sambil beranjak pergi. "Siap, Bos!" balasnya dengan nada bercanda, membuat Fifin hanya bisa menggelengkan kepala.
Sebelum Jafi kembali dari gudang, Raihan memandang punggung bosnya itu lalu menatap Fifin sekilas.
"Eh, Fin, lo perhatiin enggak sih?" kata Raihan, mencoba menahan tawa.
Fifin mengangkat alis tanpa menoleh. "Apa?"
"Bang Jafi tuh orangnya santai banget, tapi kayak selalu punya vibe 'gue bos di sini' meski dia bantu-bantu kerja. Keren, ya?" Raihan terkekeh pelan.
Fifin akhirnya menoleh sambil menyipitkan mata, pura-pura serius. "Keren apaan? Dia, tuh, kadang suka rese kalau lagi enggak ada kerjaan, gabit, terus iseng."
"Ya, tapi, jujur aja, lo setuju kan dia bos yang baik? Banyak bos lain yang cuma nyuruh doang. Bang Jafi malah ikutan bawa nampan segala."
Fifin mengangkat bahu. "Ya, setuju. Dia santai, enggak pernah nyuruh-nyuruh dengan nada bossy."
Raihan tertawa kecil. "Nyaman banget kerja sama Bang Jafi. Enggak kaku."
Fifin tersenyum kecil sambil melanjutkan pekerjaannya. "Baik juga. Dia kayak punya radar, tahu kapan harus turun tangan."
Raihan menunjuk ke arah gudang dengan dagunya. "Eh, tuh bos balik. Pasti bawa dua botol gula aren, deh."
Saat itu, Jafi muncul dari gudang dengan dua botol gula aren di tangannya. "Tenang aja, stok aman!" katanya sambil melambaikan salah satu botol ke arah mereka, membuat Fifin hanya bisa menggelengkan kepala.