[12] Akhirnya, ya?

1.6K 235 30
                                        

Angin malam menyambut mereka, segar dan sejuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angin malam menyambut mereka, segar dan sejuk. Swara mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya lalu menawarkan satu rokok kepada Jafi.

"Gue enggak ngerokok," jawab Jafi.

Swara akhirnya menyulut rokoknya. Dia menghembuskan asap perlahan ke udara, mengisi kekosongan di antara mereka. Jafi senantiasa menatap langit yang tak berbintang. Hanya ada bulan yang terlihat. Beberapa detik hening, hanya suara angin dan hembusan asap yang terdengar.

"Gue mau nembak Melody," kata Jafi tiba-tiba.

Swara menoleh, menatap Jafi dengan mata tenang. Laki-laki itu tampak tidak terkejut. "Kapan?"

"Enggak lama lagi. Cuma... masih cari waktu yang pas."

Swara menarik napas panjang. Ia menghembuskan asap rokoknya lagi sebelum bersandar ke kursi. "Lo beneran sayang sama Melody?"

"Gue serius," jawab Jafi dengan nada mantap. "Gue enggak main-main. Gue mau jagain dia, enggak bakal nyakitin dia."

Swara terdiam sejenak, tatapannya menerawang. Namun, tak ada tanda-tanda dia terganggu atau tidak setuju. Setelah beberapa tarikan napas, laki-laki itu menoleh lagi pada Jafi, kali ini dengan senyum tipis.

"Selama lo beneran sayang dan jaga Melody, gue enggak masalah. Gue bukan tipe saudara yang ngerasa harus mengekang. Gue sama Mel bukan kayak gitu." Dia menjetikkan rokoknya di asbak kecil hingga abunya runtuh, lalu melanjutkan, "Yang penting, dia seneng."

Jafi merasa lega mendengar itu. Dia mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Makasih. Asal lo tau, gue lega dengar lo bilang gitu."

Swara hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Mereka berdua terdiam lagi untuk beberapa saat, menikmati suasana malam di atap kos. Namun, Jafi merasa suasana sudah terlalu serius dan dia ingin mengubah topik.

"Ngomong-ngomong, lo kuliah di mana?" Jafi bertanya, mencoba mencairkan suasana.

Swara mengalihkan pandangannya dari langit. "Gue anak Universitas Indrayana. Arsitektur."

Jafi mengangguk, cukup tertarik. "Keren. Gue jurusan bisnis, Universitas Mahatma."

Swara mengangkat alis. "Gue kira lo lebih ke arah seni atau musik. Ternyata bisnis. Lo anak HUS-BAND, kan?"

Jafi terkekeh. "Iya, gue memang suka musik. Tapi, cuma hobi aja. Dari mana lo tahu gue anak HUS-BAND?" tanya Jafi penasaran.

Sedikit kepercayaan dirinya mengira Melody pernah menceritakan tentangnya pada Swara. Namun, ada opsi lain bahwa Swara juga mengikuti HUS-BAND atau dirinya juga anak musik. Opsi terakhir, ketenaran HUS-BAND sudah sangat luas.

"Pacar gue anak Mahatma juga. Teknik sipil. Dia sering cerita ke gue. Mana ngefans berat sama Ghifari."

Jafi terkekeh. "Tenang aja. Udah punya cewek."

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang