[9] Mengisi Kekosongan

2K 251 18
                                        

Waktu terus berlalu, hari-hari terasa cepat berlalu di antara jadwal kuliah, tugas, dan aktivitas yang seolah tak pernah berhenti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Waktu terus berlalu, hari-hari terasa cepat berlalu di antara jadwal kuliah, tugas, dan aktivitas yang seolah tak pernah berhenti. Minggu demi minggu berlalu tanpa terasa, dan bulan pun telah berganti. Kedekatan antara Melody dan Jafi perlahan berubah dari sekadar teman kos menjadi sesuatu yang lebih, meskipun tak satupun dari mereka berani menyebutkannya dengan pasti.

Melody dan Jafi semakin sering menghabiskan waktu bersama, tak lagi hanya kebetulan. Setiap ada kesempatan, mereka memilih berjalan berdua ke kampus, terutama ketika jadwal kuliah mereka kebetulan sama. Sering kali, Melody menunggu Jafi di depan pintu kamarnya sebelum berangkat, atau sebaliknya. Mereka mengerjakan tugas bersama, kadang di ruang tamu Kos Ong, atap kos, atau di kafe milik Jafi ketika suasana kos terlalu ramai.

Jika Jafi sedang bermain gitar atau berlatih dengan HUS-BAND, Melody sering duduk di sudut ruangan, menyimak dan menikmati alunan musik. Sementara itu, ketika Melody sedang melukis untuk tugas atau konten, Jafi tak jarang ikut menemani, terkadang hanya duduk di dekatnya sambil membaca atau sesekali memberi komentar yang membuat Melody tertawa. Rutinitas sederhana ini membawa mereka semakin dekat, dan tanpa disadari, kehadiran satu sama lain sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Di balik semua kebersamaan itu, ada perasaan yang tumbuh perlahan di hati keduanya. Melody merasakan getaran aneh ketika Jafi secara spontan menawarinya bantuan, atau ketika mereka bercanda dan tertawa bersama. Hatinya selalu terasa hangat ketika Jafi mengingatkan untuk makan, atau saat dia datang dengan segelas kopi tanpa diminta saat Melody terlihat sibuk.

Begitu juga dengan Jafi. Setiap kali Melody tersenyum padanya, hatinya berdegup lebih cepat. Ia selalu mencari alasan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, dan setiap percakapan ringan di antara mereka terasa semakin berarti.

Begitu banyak momen yang membuat mereka ingin berkata lebih, namun selalu ada alasan untuk menahan diri. Entah itu senyuman di tengah-tengah obrolan santai, atau tatapan yang bertahan sedikit lebih lama dari biasanya. Setiap kali Jafi hendak bicara, Melody tampak begitu tenang dan nyaman, seolah ia tak ingin mengganggu apa yang telah mereka miliki. Setiap kali Melody ingin mengatakan sesuatu, Jafi selalu terlihat begitu riang dan tanpa beban, seolah dunia mereka tak perlu berubah.

Keduanya merasakan kebahagiaan yang sama. Namun, hingga saat ini, mereka sama-sama diam. Entah kapan mereka akan berani untuk saling mengungkap. Melody dan Jafi seolah terjerat dalam keraguan, tetapi nyaman untuk melakukan kegiatan bersama. Sama seperti minggu malam di lantai Kos Ong hari ini.

Seperti biasa, penghuni Kos Ong sedang mempersiapkan acara makan malam bersama. Namun, hanya tujuh dari sebelas anggota Human Kosong yang ikut. Nataya masih di kampus, Kak Mirza sedang mengerjakan skripsi di café, serta Azka dan Cakra pergi main billiard.

Suara langkah kaki, dentingan sendok di dapur, dan tawa bergema di seluruh ruangan. Aroma rempah-rempah dan tumisan bumbu mulai menyeruak, memenuhi udara yang sebelumnya hanya dipenuhi suara obrolan. Di tengah keramaian itu, Melody berdiri di depan kompor. Tangannya cekatan memotong tempe sesekali melirik Gia yang sedang menyiapkan bumbu di sebelahnya.

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang