[23] Ghibah

1.2K 176 21
                                        

Suasana di gudang Fakultas Seni terasa tenang meski sedikit pengap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana di gudang Fakultas Seni terasa tenang meski sedikit pengap. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah jendela kayu tua memancarkan sinar hangat yang menyorot ke tumpukan kanvas di sudut ruangan. Aroma cat minyak dan kayu lapuk bercampur menjadi satu, khas gudang penyimpanan lukisan. Melody menata rambutnya yang sedikit berantakan dengan cepat sebelum melangkah masuk. Di tangan kanannya, ia membawa kanvas berukuran sedang yang baru saja selesai ia garap.

Aryo dan Didan sudah menunggu di dalam. Aryo bersandar di tembok, tangannya melipat di dada, sementara Didan duduk di bangku kayu kecil sambil menggulung kabel charger yang entah kenapa selalu dia bawa ke mana-mana. Begitu melihat Melody masuk, Aryo langsung berdiri tegak dengan wajah penuh antusias.

"Mel! Akhirnya datang juga," ujar Aryo sambil menghampirinya. "Mana, mana lukisannya? Gue udah penasaran banget!"

Melody tersenyum kecil dan menyerahkan kanvas itu padanya. "Nih, lihat dulu. Gue udah coba semaksimal mungkin, nih."

Aryo dan Didan langsung membuka plastik pelindungnya dengan hati-hati, seperti membuka barang antik berharga. Wajah mereka berubah serius saat mulai mengamati lukisan itu. Melody melangkah mundur sedikit, meraih ponsel dari tote bag-nya, dan mulai merekam video keduanya yang sedang sibuk memeriksa hasil karyanya.

"Gue rekam, ya. Dokumentasi," ucap Melody sambil terkekeh kecil.

Didan mengangkat jempol tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan. "Keren banget, sih, ini, Mel. Lo beneran nyatuin konsep abstrak sama realis, tapi enggak nabrak. Warna-warnanya juga ngena banget. Gokil."

Aryo mengangguk setuju. "Lo emang jago, Sayang."

Melody langsung memutar bola matanya mendengar panggilan itu. "Yo, udah berapa kali gue bilang, jangan panggil gue gitu."

Aryo hanya nyengir, tidak peduli. "Biarin."

Melody mengabaikan Aryo dan mematikan rekaman di ponselnya. Didan yang lebih pendiam hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka berdua. Sebelum obrolan semakin melebar, langkah kaki seseorang terdengar di belakang mereka.

Melody menoleh dan melihat Jafi muncul dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jaket denimnya. Dia tampak santai seperti biasa, senyumnya tipis, tetapi sorot matanya langsung menemukan Melody. Karena sering main ke gedung seni, Jafi jadi hapal lokasi-lokasi anak seni. Bahkan gudang yang letaknya ada di bagian belakang. Ia mendapat pesan dari Melody jika gadis itu ke gudang untuk menyetorkan lukisannya.

"Udah selesai urusan lukisannya?" tanya Jafi sambil melirik Aryo dan Didan.

"Baru aja," jawab Melody sambil mendekat. "Kamu ngapain ke sini? Bukannya lagi sibuk di kafe?"

Jafi mengangkat bahu. "Mau ketemu Raden."

Didan berdiri dan menyapa Jafi, sedangkan Aryo melanjutkan mengamati lukisan seolah Jafi tidak ada di ruangan itu.

Lingkaran Kos Ong [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang