Di sini Afa ambil dari saat si Solar DL koma dan dari sini mulai berbeda dari ending normalnya.
Enjoy~
.
.
.
Setelah Solar DL di nyatakan koma, kondisinya kian hari kian memburuk, apakah Halilintar DL bisa hanya sekedar meminta maaf pada adik bungsunya itu?
"Adik....."
Krieet
Pintu kamar mandi terbuka menandakan makhluk yang ada di dalam telah selesai dengan urusannya.
Halilintar DL yang mendengar pintu kamar mandi terbuka pun langsung keluar dari ruang rawat Solar DL.
Sejak dirinya dinyatakan sembuh oleh dokter, dia selalu mengambil kesempatan masuk saat ruang rawat Solar DL kosong.
Halilintar DL sekarang hanya bisa mengintip dari balik pintu dan melihat bagaimana adik pertamanya ini memperlakukan si adik bungsu dengan sangat lembut, tidak sepertinya yang bahkan ia ingin si adik bungsu pergi dari dunia ini.
Tapi sekarang dia bahkan menjilat ludahnya sendiri, dia mau adiknya terus bersamanya, memang egois.
.
.
.
.
.
3 Minggu telah berlalu, kini Halilintar DL dalam perjalanan menuju ruang rawat adik bungsunya ini, dia berharap sekali saja dia bisa berkomunikasi dengan adik bungsunya itu.
"Apa boleh aku egois untuk kali ini saja?" Halilintar DL kembali mengingat ucapan Solar yang dimana mesin dimensi untuk mereka pulang sudah di perbaiki dan bisa segera di gunakan.
"Aku ingin membawanya pergi." Setelah menghela nafas panjang Halilintar DL masuk ke ruang rawat Solar DL dan sesuai dugaannya, ruangan ini hanya berisi Solar DL seorang.
Halilintar DL menarik kursi di dekat ranjang adik bungsunya dan duduk sambil terus memandang wajah damai dan tenang sang adik.
"Adik? Apa kamu mimpi bertemu dengan Ayah dan bunda sampai kamu gak mau bangun?" Halilintar DL mengelus rambut Solar DL.
Tak berapa lama kemudian, Solar DL menggerakkan jarinya dan matanya pun berkedut.
"Solar DL?!"
Mata yang telah lama tertutup itu perlahan mulai terbuka dan menampakkan netra silver yang sudah tak secerah dulu.
"K... Kak...." Walau masih lemas Solar DL mencoba mengangkat tangannya dan menyentuh wajah sang kakak.
Namun bayangan tangannya dihempas oleh sang kakak tiba-tiba muncul di kepalanya, membuatnya mengurungkan niatnya. Jujur dia masih takut dengan kakak sulungnya sendiri.
"Solar DL." Halilintar DL meraih tangan adiknya yang hendak menyentuh wajahnya namun tak jadi.
"Kak.... Ha.. Li DL...?" Solar DL masih tak percaya kalau orang yang ada di depannya ini adalah kakak sulungnya, bahkan Solar DL sudah memastikannya dari tangan sang kakak yang tidak memakai jam kekuatan.
"Ya? Kamu butuh sesuatu?" Solar DL menengok ke arah jendela dan menatap langit.
"Pu... Lang..... " Halilintar DL bingung, apakah adiknya ini tidak suka dengan rumah sakit?
"Kamu masih sakit, tunggu kamu sembuh dulu ya, baru kita pulang."
"Mau.... Pu.. Lang...."
"Kita akan pulang sebentar lagi, kamu sudah rindu dengan rumah hm?" Solar DL diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Dimension (The End)
RandomDimensi lain? kalian pasti tahu apa itu dimensi lain kan, entah itu dari cerita fiksi maupun yang ada di internet. Tapi..... bagaimana jadinya jika kalian melihat diri kalian dari dimensi lain? dan apakah nasib diri kalian di dimensi lain sama de...
