19 | "2017 Bulan Dua"

306 28 12
                                        


Apa dulu? Ya, vote duluuu🫵🏻🫵🏻

Enjoyy!!

^^^^^^^^

Bandung, 16 Januari 2017

Pagi ini, Leandra tengah menikmati udara segar khas kota Bandung di pagi hari. Hilir angin yang menyapa lembut tubuhnya dari balkon kamar, semburat matahari pagi yang menghangatkan. Ditambah kicauan burung yang menenangkan.

Pandangannya luas ke depan sana, pepohonan hijau yang masih rimbun, berbeda dengan kota Jakarta yang dipenuhi gedung-gedung tinggi.

Ia membidik pemandangan indah itu dengan kamera ponselnya, lalu memposting di story instagramnya, tertulis di sudut foto itu,

"Dan inilah Bandung.."

Beberapa saat setelah foto itu ia unggah, ia mendapat notifikasi pesan masuk dari instagramnya. Itu dari Baskara, Baskara membalas cerita yang Leandra unggah barusan.

"Bandung tenang ya, Lee." Begitu pesannya.

Kedua sudut bibir Leandra terangkat, ia tersenyum membaca pesan itu, lalu ia membalas..

"Of course, Bas. Jauh dari huru-hara kota besar."

****

Setelah momen singkat tadi, kini Leandra tengah berada di ruang makan untuk menyantap sarapan paginya bersama Ayah Bundanya. Mereka sudah melepas rindunya semalam, dengan saling berpelukan dan mengutarakan kerinduannya pada putri semata wayangnya ini.

Obrolan ringan antara orang tua dan anak mengalir begitu saja, menenangkan, menghangatkan. Inilah yang Leandra rindukan selalu ketika jauh dari Ayah Bundanya.

"Tapi kerjaan di sana lancar, kan, Nak?" tanya Bunda.

Leandra mengangguk mantap. "Lancar, Bun. Alhamdulillah, tapi, yaa.. gitu deh, capek."

"Namanya juga kerja, Sayang. Kalau gak capek, ya bukan kerja namanya," sahut Ayahnya.

"Nikmati aja selagi bisa, tapi Ayah mah yakin, kamu bisa," lanjutnya.

Leandra terkekeh kecil. "Iya, Yah."

"3 tahun di Jakarta, gak ada yang nyangkut satu pun, Neng?" usil Sang Ayah di tengah-tengah sarapannya.

Leandra tersentak kecil mendengar perkataan Ayahnya, lalu menjawab, "Ah apa sih, Yah!" gerutunya diiringi tawa kecil.

"Pasti ada, Bunda gak yakin kalau gak ada. Anak Bunda cantik begini, masa gak ada yang mau?" Bundanya menambahkan.

Leandra benar-benar merasa tersipu saat ini, ia menggigit pipi bagian dalamnya, lalu hanya menjawab dengan senyuman lebarnya pagi ini.

"Udah deh, Yah, Bun, makan aja mending." Leandra berusaha mengalihkan pembicaraannya.

Ayah dan Bunda hanya tertawa melihat Putrinya gelagapan saat ditanya hal seperti ini. "Kalau ada, cepat-cepat kenalin sama Ayah, ya? Mau diintrogasi dulu," ucap Ayah.

Leandra menghela napasnya panjang. "Iya ... udah, ya?" jawab Leandra, sudah pasrah rupanya, hahaha!

***

Jakarta, 09.15

Di sisi lain, Baskara kini sedang berada di Markas TNI. Hari-harinya terasa hampa satu bulan belakangan ini. Mungkin karena salah satu semangatnya hilang, satu bulan ini.. Leandra sudah jarang menunjukan sisi perhatiannya pada dirinya.

Kini, Baskara tengah berkumpul sebelum memulai latihan bersama beberapa rekannya di halaman barak. Baskara terlihat lebih murung dari biasanya, sesekali ia hanya ikut bergabung dalam obrolan untuk menimpali.

"Bas, lagi kenapa, sih?" tanya salah seorang kawannya yang tampak kebingungan melihat Baskara melamun sedari tadi.

"Hah? Ngga, gapapa," jawabnya kikuk.

"Halah, itu lagi kangen seseorang pasti, iya, kan, Kapten?" usil Dimas, salah satu bawahannya.

Baskara bangkit dari duduknya lalu terkekeh pelan. "Udah udah, ayo mulai semua," perintahnya seraya menepuk-nepuk tangannya, sebagai kode kecil bahwa latihan kali ini akan dimulai.

***

"Lari 5 putaran! Semangat semua!" tegas Baskara, ia memimpin paling depan di antara barisan.

Hentakan kaki para prajurit menggema, dengan irama yang sama di atas tanah. "Jangan lemas! Nyanyi biar semangat!" teriak Baskara.

Lalu, para prajurit mulai menepukkan tangannya sesuai irama. Baskara bernyanyi lebih dulu, diikuti oleh semua prajurit.

"Rindu rindu Abang rindu, ya rindu setengah mati~"

Mereka terus bernyanyi diiringi langkah tegas mengelilingi lapangan yang cukup luas. Energi Baskara mulai terpacu dengan beberapa irama nyanyian itu, ia semakin bersemangat. Meski di bawah terik matahari, semangat mereka tidak pudar.

"Nantikan Abang kembali, ke pangkuan Dindaku Sayang ... rindu rindu Abang rindu, ya rindu setengah mati~" Nyanyian itu semakin menggema di lapangan.

Di tengah pemanasannya berlari, Dimas berteriak, "Yang nyanyinya paling keras, berarti paling rindu sama Dindanya, ya!" Sindiran itu, untuk Baskara. Karena sedari tadi bernyanyi, Baskara memang terlihat paling bersemangat.

Langkah mereka terus terhentak di atas permukaan, Baskara menoleh ke belakang, lalu menjawab, "Dimas! Khusus kamu tambah 2 keliling, udah berani usil!"

"Siap salah, Kapten!" balasnya dengan napas terengah-engah.

Prajurit lainnya tertawa mendengar hal itu. "Lanjutkan, semangat semua!" ujar Baskara.

***

Seusai berlari 5 putaran, mereka beristirahat sejenak di warung yang berada tepat di luar markas ini. Baskara duduk di bangku kayu depan warung, mengatur napasnya, menyandarkan kepalanya di tembok. Ia memegang botol air mineral di tangannya yang sudah hampir kosong. Keringat bercucuran akibat terik matahari yang mulai dekat sekarang.

"Bang, airnya udah mau habis tuh. Saya ambilin lagi, ya," ucap wanita pemilik warung itu.

Baskara hanya tersenyum dan mengangguk.

"Mba! Saya juga mau minum, kok cuma Kapten yang ditawarin," ucap Raka.

Semuanya tertawa, memang.. Baskara memiliki paras yang cukup membuat para kaum hawa terpikat. Tubuhnya yang gagah, rahang tegas, ketampanan wajah yang ia miliki. Bukan hanya itu, prestasinya juga tak kalah membuat wanita-wanita mengagumi dirinya.

Sementara hatinya, tidak pernah ia buka terkecuali untuk seseorang yang ia nantikan sampai saat ini. Tau, kan? Leandra pastinya.

"Mba, hati-hati ... sudah ada yang punya, mending sama saya aja," usil Raka, alhasil mendapat jeweran di telinga kirinya dari Baskara.

"Buaya!" ucap Baskara, terkekeh.

Mba itu sudah biasa melayani para prajurit yang mengunjungi warungnya, jadi tidak heran juga. "Ouh sudah ada yang punya, toh. Beruntung ya yang dapetin Kapten Baskara ini," ujar pemilik warung, Tari namanya. Usianya masih tergolong muda, ia membantu Sang Ibu berjualan di situ.

Baskara hanya menyimpulkan senyumnya, lalu mengangguk halus. "Doa'in aja," ucapnya singkat.





Bersambung...✨

Baskara paling keras nyanyinya, berarti paling rindu kata Dimas..Hahaha!

See u on next part guys🫵🏻

janlup vote+komenn, papayyy‼️

Atma dan RenjananyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang