Vote dulu sebelum bacaa🫵🏻🫵🏻
^^^^
Lobby Rumah sakit, 15.30
Suasana menegangkan, hilir angin yang menusuk, juga hujan yang mulai turun deras di luar sana. Baskara dan Leandra masih di posisi yang sama, Baskara masih menggenggam tangan Leandra, mencoba menahan supaya wanita itu tidak benar-benar pergi.
"Apa lagi?" tegas Leandra, wajahnya datar penuh rasa kesal, satu tangannya mengepal, seperti ada emosi yang akan meledak saat itu juga, tapi ia berusaha untuk terlihat tetap tenang.
"Saya cinta sama kamu, Leandra."
Satu kalimat itu, membuat keduanya mematung tanpa kata, jantungnya berdegup cepat. Leandra menghela napasnya panjang, membuang napasnya perlahan. Leandra membalikan tubuhnya, menghadap tepat di depan Baskara yang wajahnya terlihat canggung dan takut, mungkin?
Mereka saling menatap,
1 detik,
2 detik,
3 detik.
"Saya tidak." Leandra mengambil keputusan begitu cepat? Dengan pikirannya yang masih kacau, kalimat itu secara tiba-tiba terlontar dari mulutnya.
Jlebb
Hati Baskara seperti tertusuk pisau yang tajam. Bola matanya memelas menatap Leandra sangat dalam, apa rasanya benar-benar hilang?
"Lalu, bagaimana bisa kamu merasakan rindu kalau tidak cinta?" Baskara mencoba tetap tenang.
"Karena menurut saya, rasa rindu itu timbul karena adanya rasa cinta," lanjut Baskara.
Leandra hanya menatapnya penuh rasa amarah yang membara, sorot mata teduhnya kini hilang. Baskara menggigit bibirnya, menunggu jawaban apa yang akan Leandra katakan.
Leandra menggeleng. "Itu dulu, sekarang tidak, Baskara." Benar-benar sudah kecewa rupanya?
Mendengar jawaban itu, Baskara sontak mengerutkan alisnya, sebegitu cepat rasanya hilang?
"Lepas, sakit ...," lirih Leandra, tatapan matanya tertuju pada tangannya yang dicengkeram cukup kuat oleh Baskara.
"M-maaf, saya gak bermaksud." Baskara segera melepaskan cengkramannya.
Kini, Leandra melangkah lebih jauh dari dirinya. Baskara hanya mematung, mencerna kata demi kata yang Leandra ucapkan pada dirinya. Melihat punggung wanita itu semakin jauh, Baskara kembali mengejar. Sungguh, ia benar-benar sudah menyakiti hati seorang wanita yang selama ini memberinya cinta. Bodoh, Baskara! Bodoh!
"Leandra! Ini hujan deras, saya tau kamu takut petir!" Baskara berteriak sembari berlari menghampiri Leandra di tengah tetesan langit yang terus turun tanpa henti.
Tubuhnya kini luruh oleh air, tak peduli bagaimana kondisinya, ia hanya ingin memastikan bahwa hanya hati Leandra saja yang sakit, tubuhnya jangan.
Baskara berhasil mengejar Leandra, ia memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Suasana dingin, diiringi gemuruh petir, juga kabut yang kian menebal. Leandra merasakan kehangatan di sana, bagaimana bisa, Tuhan?
Leandra menyerah, ia membiarkan tubuhnya didekap erat oleh pria itu. Ia memejamkan matanya, sekilas mengingat beberapa momen hangat dirinya dengan Baskara. Air matanya kini ikut luruh bersama air hujan. Sama derasnya, sama sakitnya.
"Saya minta maaf, saya bodoh sudah membiarkan seseorang yang sudah menjadi bagian hidup saya untuk pergi berkelana tanpa saya. Maaf, Leandra, maaf ...," lirih Baskara, terdengar jelas di telinga Leandra meski riuh hujan yang semakin deras dan berisik.
Air mata Leandra kali ini tertutup oleh hujan, terima kasih, Tuhan. Telah menurunkan tetesan langit itu bersamaan, sehingga semesta tidak tau seberapa rapuh wanita ini. "Mungkin memang harapan saya yang terlalu tinggi, saya terlalu menyimpan harapan besar sama kamu, Bas. Nyatanya dalam waktu 7 bulan ini, saya salah menaruh hati," ucap Leandra, yang masih membiarkan tubuhnya didekap hangat.
"Dan pada akhirnya, saya lelah atas hubungan tanpa kejelasan ini."
Baskara masih tetap merengkuh Leandra dalam dekapannya. "Biar saya obati lelah itu, apa saya masih punya celah di hati kamu?" gumam Baskara.
Glegarr!!
"AAAA!" jerit Leandra.
Sambaran petir yang sangat keras, kilatan yang cukup jelas. Membuat Leandra membalikan tubuhnya, lalu memeluk Baskara lebih erat. Leandra itu takut petir, takut sekali.
Tubuhnya gemetar kecil, begitupun bibirnya, jantungnya berdegup kencang. "Saya takut ...," bisik Leandra ketakutan. Baskara memeluknya lebih erat, lalu menggiring Leandra ke tempat yang lebih aman.
***
Lobby Rumah sakit
Keduanya sudah basah kuyup, pakaiannya basah, rambutnya yang sudah ikut luruh oleh air. Leandra masih gemetar akibat sambaran petir tadi, Baskara membawanya ke dalam pelukannya.
Setelah menyadari dirinya tengah mendekap erat tubuh Baskara, tak lama.. Leandra melepas pelukan itu, sedikit menjauh lalu mengusap wajahnya dengan cepat.
"Maaf, tadi reflek," ucapnya seraya memainkan jari-jarinya yang kini yang mulai mengerut akibat dinginnya suasana saat itu.
Baskara mengangguk. "Gak masalah, selagi itu nyaman dan buat kamu tenang, saya di sini."
Suasana hening dan sepinya lobby rumah sakit, hanya saja berisik oleh suara gemuruh petir dan air hujan yang masih terus turun di luar sana. Baskara berucap pelan, "Terkait pertanyaan tadi, gimana, Lee?"
"I need time, karena mungkin ... bagaimana pun kamu memang sudah terlambat, kan, Bas?" balas Leandra, kini lebih tenang dan emosinya sudah padam.
Baskara menganggukan kepalanya, pandangannya tetap fokus pada wanita di sampingnya saat ini. "Seperti katanya ... berapa lama pun waktunya, selagi hasilnya kamu, saya tunggu."
"Saya memang sudah terlambat, Leandra. Saya selalu merasa belum cukup untuk memiliki seorang wanita sempurna seperti kamu sepenuhnya, saya telat mengambil keputusan ini ... kalaupun kesempatan ini memang bukan milik saya, saya berharap kamu bisa dimiliki oleh seseorang yang lebih baik dan lebih pantas, dengan cinta yang lebih besar tentunya," jelas Baskara, terdengar sangat tulus, menekankan arti cinta dan memiliki bagi dirinya saat ini.
Leandra mengalihkan pandangannya pada Baskara, mata teduh Baskara masih sama.. hangat dan menenangkan. "Bas, saya mencintai seseorang bukan untuk mencari kesempurnaan, tapi menyempurnakan yang belum sepenuhnya sempurna," balasnya perlahan.
Leandra tidak bisa membohongi hatinya, kalau ditanya.. apa ia benar-benar sudah tidak mencintai Baskara? Jawabannya tidak, sungguh.. hatinya sampai saat ini masih untuk Baskara. Dalam jangka waktu yang cukup panjang ini, rasanya masih sama, masih cinta, dan masih menyimpan asa yang sama.
"Nikmati waktu kamu, Leandra. Jika rasanya masih sama ... tolong kembali pada saya," lirih Baskara.
Leandra kembali menunduk mendengar kalimat itu. "Kenapa baru sekarang?" tanya Leandra.
"Tapi ... terima kasih, Bas," lanjutnya, membuat kening Baskara mengerut seketika.
"Untuk apa?" jawab Baskara.
Leandra sudah benar-benar jauh lebih tenang meski masih ada rasa kekecewaan. "Terima kasih telah memperjuangkan yang hampir hilang," ucapnya.
Baskara menyimpulkan senyumnya. "Terima kasih juga sudah memberi saya sedikit waktu untuk memperjuangkan itu."
****
Nyatanya.. rasa cinta masih jauh lebih besar dibanding rasa sakitnya. Hati menerima tapi raganya tidak.
Bersambung...✨
Apa pada akhirnya mereka akan berlabuh di tujuan yang sama? Atau..
Tunggu kelanjutannya, yaa!! Jangan lupa buat vote+komen, oke?
See you on next part🫵🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Atma dan Renjananya
Short StoryKerinduan, pengorbanan, dan bertahan. Hidup masih tetap berjalan meski ada yang hilang. Tolong sampaikan pada bintang, bisikan pada Sang pemiliknya, bahwa memang benar.. semua yang dicinta, pasti akan hilang. "Jika Tuhan masih mengizinkan, saya pa...
