23 | "Menerima, diterima."

672 36 12
                                        

Jakarta, 25 Februari 2017

Usai kembali ke Jakarta sekitar satu bulan lalu, kini.. hubungan antara seorang perwira dan dokter muda itu semakin dekat dan semakin erat. Di mana terlihat, bahwa ketulusan antar keduanya mulai timbul dan terasa.

Sore ini, mereka tengah terduduk santai di halaman markas TNI tempat Baskara bekerja. Leandra baru saja pulang dan menyelesaikan tugasnya hari ini.
Suasana tenang, hilir angin yang menyapa juga matahari yang terlihat akan berpamit sore ini.

"Mataharinya indah ya, Bas?" ucap Leandra seraya menunjuk ke arah langit dengan semburat jingganya.

Baskara menatap Leandra dalam-dalam, dengan senyum yang kian simpul di wajahnya. Ia mengangguk halus. "Yang ini juga tak kalah indah, kan?" balasnya.

"Mana?"

"Ini." Jari telunjuk Baskara mengarah pada wanita itu. Alhasil pipi Leandra merona, wajahnya terasa panas, ia menggigit bibirnya.

"Ah apa sih kamu!" balasnya tersipu, memukul pelan lengan kanan Baskara. Keduanya terkekeh atas kejadian nyeleneh tadi. Sebab selama ini, Baskara memang jarang sekali menunjukan sisi humorisnya, selain bersama teman-teman bekerjanya.

"Saya serius, saya ingin ... sekali keindahan yang ini selalu ada bersama saya."

"Hmm ... namanya senja, ya pasti akan selalu hilang dan digantikan dengan malam, Bas." Leandra masih dengan matanya yang fokus pada hamparan langit.

"Bukan yang itu, yang ini." Jari telunjuknya lagi-lagi mengarah pada Leandra.

"Aku?" tanyanya. Ya! Setelah beberapa waktu ini, Leandra sudah mulai enjoy dengan hubungannya bersama Baskara. Hingga akhirnya, sekarang ia merasa lebih dekat, lalu bisa menyebut dirinya dengan sebutan, "Aku."

Baskara mengangguk. "Sebab saya yakin, kalau keindahan senja memang tidak selalu hadir. Maka dari itu, saya ingin keindahan yang satu ini tidak akan hilang, tetap di sini," balasnya tampak serius.

Leandra mengerutkan alisnya, mengangkat satu sisi bibirnya. "To the point, kenapa?"

"Saya juga yakin kamu tau apa maksudnya."

"Tapi ... rasanya kalau saya ucapin sekarang, kurang cocok," sambungnya.

Leandra terkekeh kecil. "Cocoknya kapan?" godanya.

"Malem ini, saya jemput kamu, ya?" jawabnya dibalas anggukan mantap dari Leandra.

****

Leandra's House, 19.23

Mobil milik Baskara sudah terparkir tepat di depan gerbang rumah Leandra. Rumah dengan nuansa elegan, tidak terlalu besar tapi terlihat mewah dengan warna putih campur ke-emasannya.

Baskara mengenakan pakaian formal kali ini, sepertinya akan sangat berharga sekali momen malam ini. Bukan hanya sekedar dinner? Semoga saja!

Leandra berlenggang cantik menghampiri mobil Baskara, dengan dress hitam miliknya. Sangat senada dengan pakaian Baskara.

"Maaf nunggu lama, ya."

"Gak apa-apa. Jalan sekarang?" balas Baskara dibalas anggukan dari Leandra.

Setelah sekitar 10 menit perjalanan, Baskara terlihat begitu memperhatikan penampilan wanita itu malam ini. Tidak berlebihan, tapi cantiknya melebihi segalanya. Rias wajah tidak terlalu tebal, dengan rambut yang ia biarkan terurai begitu saja, menambah keanggunan Leandra Ganes Gantari malam ini.

"Kenapa liatin aku terus?" candanya.

Baskara sontak mengalihkan pandangannya kembali lurus ke jalanan. "E-engga, cantik aja."

"Ck! Keceplosan aja teross!" gerutunya dalam hati.

"Emang biasanya nggak cantik?"

Baskara mengusap wajahnya perlahan. "C-cantik, cantik kok. Cuma ... malem ini lebih wow aja gitu."

Jujur saja, Baskara merasa sangat gugup saat ini. Sebab ini baru kali pertama ia merasa jatuh sejatuh-jatuhnya terhadap seorang wanita. Mungkin bisa dibilang, Leandra wanita pertama yang mendapat pujian dari Baskara setelah Ibunya sendiri.

Harmony Langit, 19.47

Setibanya di tempat tujuan, kini mereka sudah duduk di meja makan yang sudah disediakan. Seperti namanya, "Harmony Langit." Salah satu resto yang berada di pusat kota Jakarta. Menawarkan keindahan langitnya di malam hari, atap yang terbuka, memperlihatkan indahnya bintang malam ini. Diiringi alunan musik merdu yang terdengar, juga sepoi angin yang menyejukan malam.

"Suka tempatnya?" tanya Baskara.

Leandra memperhatikan setiap sudut tempat ini, dan yang pasti, langit dengan bintang-bintangnya di malam hari. "Suka, tempatnya unik. Aku bisa lihat bintang!" balasnya tulus.

Leandra memang sangat menyukai langit dan benda-benda langit. Termasuk gemerlap bintang, ia menyukainya. "Kok kamu tau aku suka tempat kayak gini?" ucap Leandra.

"Tau, saya tau semua tentang kamu."

****

Setelah selesai menikmati beberapa makanan yang mereka pesan. Baskara mengajak Leandra ke tepi, mengajak Leandra melihat indahnya kota Jakarta di malam hari dengan gemerlap mewah bangunan gedung tinggi dari atas sini. Angin bertiup halus, menyapu wajah manis keduanya. Baskara merapikan anak rambut Leandra yang sedikit berantakan akibat angin malam ini.

Tatapan mata keduanya bertemu di sana. Tak ada kata, hanya mata yang berbicara.

Cinta,

bahagia,

bersama.

Tiga kata itu mungkin cukup untuk menggambarkan mereka. Beberapa menit waktu berlalu, akhirnya Baskara membuka suara.

Baskara meraih tangan Leandra, ia mengusapnya lembut. "Saya rasa, waktu kamu untuk menyendiri sudah cukup sejauh ini. Kekecewaan kamu, rasa sakit kamu, rasa ragu kamu. Biar saya balas dengan rasa cinta saya untuk kamu."

"Seperti yang saya ucapkan sore tadi pada kamu, saya ingin keindahan ini selalu bersama saya. Dari sekian ribu keindahan yang Tuhan ciptakan, kamu salah satunya yang saya kagumkan."

Leandra tersenyum tulus, ia mendengarkan seksama apa yang Baskara katakan. Ia memaknai kata-perkata yang Baskara ucapkan untuknya.

"Saya mau, kamu menjadi lebih dari sekedar teman, sahabat, bahkan apapun yang kita jalani sebelumnya. Seseorang yang akan selalu ada bersama saya, untuk saya, dan untuk kita. Kamu mau? Terima saya untuk menjaga kamu?"

Oh, Tuhan.. lagi-lagi hatinya tersentuh atas hal ini. Bulir bening menggenang di mata indah milik Leandra. Ia tersenyum, lalu mengangguk. Air mata itu kini sudah mengalir di pipi manis wanita ini.

Keduanya saling mendekap erat, merasakan hangat dan cinta yang tak terbalaskan di sana. Malam ini, bintang menjadi saksi atas kekuatan rasa mereka.

"Saya mencintai kamu, Leandra. Saya cinta sama kamu, selalu, selamanya," tutur Baskara. Ini kali pertama ia mengucapkan kalimat manis untuk wanitanya.

"Aku juga cinta sama kamu, i love you more and forever, Kapten Baskara."


Cintanya kini bersatu, melengkapi dan dilengkapi, menyempurnakan dan disempurnakan.
Ini saatnya, mereka menerima dan diterima.
Mereka sudah saling memiliki, bukan hanya saling mencintai.


Bersambung..✨

Haloo.. sorry lama ga up yaa!🥹 sempet ke log out akun inii, jadi aku baru bisa up! Sorry, Guys.
But, ga mau lama-lama lagii. Ini saatnya mereka menjalin cinta, mereka bahagia, kita juga bahagia, ya??🥹🫶🏻

Jangan lupa apaa? Iya! Votee, ga susah kokk. tinggal klik aja tombol bintangnyaa, see u on next part, Guys!!🫵🏻

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 25, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Atma dan RenjananyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang