Vote dulu yukk🫵🏻
^^^^
Bandung, 25 Januari 2017
Malam ini, terasa lebih sejuk dari biasanya, sebab di luar sana sedang turun tetesan langit diiringi gemuruh petir kecil serta hilir angin yang cukup menusuk hingga ke tulang.
Namun, hilir angin itu bukan masalah.. karena sekarang, Leandra tengah merasakan kehangatan bersama keluarganya di ruang tengah. Leandra bersandar manja di bahu Bundanya, sembari menikmati beberapa cemilan yang menemaninya di kala hujan ini.
Di tengah obrolan menghangatkan mereka, Leandra cukup terkejut saat Sang Ayah berkata,
"Neng, Ayah mau ngenalin kamu sama anaknya teman Ayah. Cowok," ucap Ayah.
Mata Leandra terbelalak, lalu mengerutkan alisnya sekejap. "Hah? Ngapain?" tanya Leandra.
"Ya gapapa, kenalan aja dulu ... siapa tau cocok, kan?" gumam Ayah dengan santainya, sementara Leandra bergidik tak suka.
"Apa sih, Yah! Udah gak zaman jodoh-jodohin anak begitu," gerutu Leandra seraya mengerutkan bibirnya.
"Gak ada yang mau jodohin, Ayah bilang kan 'ngenalin' Nak ...," sahut Bundanya.
Jujur saja, Leandra merasa tidak nyaman bila harus seperti ini, ia hanya terdiam walau hatinya berisik. Lalu berkata, "Sama aja dong, Yah, Bun. Leandra gak suka. Ayah Bunda bilang, kalian akan bebasin Leandra dalam pilih seseorang untuk mendampingi hidup. Kenapa jadi gini?"
Ayah Bundanya menghela napas panjang. "Ya sudah, gak usah marah-marah. Ayah cuma mau ngenalin doang, kalau gak mau ya bilang aja gak mau. Gak usah marah-marah," ucap Sang Ayah, dengan nada rendah khasnya.
Leandra membuang napasnya perlahan. "Iya maaf, kaget tadi," lirihnya.
"Leandra gak mau, Yah, Bun. Leandra punya pilihan sendiri," lanjutnya.
"Kalau kamu udah ada pilihan ya bagus, siapa? Boleh Ayah Bunda tau?" ujar Ayah.
Tatapan Ayah dan Bundanya tertuju pada Leandra, inilah yang mereka nantikan. Leandra terlihat gugup, ia menggigit bibirnya, memainkan jari-jari lentiknya itu.
"Ada di Jakarta. Abdi negara, Perwira TNI Angkatan Darat, Yah, Bun," ucapnya sedikit ragu. Tuhan.. tapi inilah cara satu-satunya supaya terlepas dari hal yang tidak diinginkan itu.
"Hah?" Ayahnya terkejut bukan main, bagaimana bisa Putrinya ini memilih seorang Abdi Negara dalam perjalanan hidupnya ini.
Sementara Bundanya hanya diam, Bundanya seperti sudah tau apa yang akan Ayah lakukan.
"Ayah gak setuju," tegasnya.
Leandra menegakan pandangannya, mengarah pada Sang Ayah. Ia mengerutkan dahinya. "Kenapa kayak gitu?" tanyanya cepat. Ragunya kini berubah menjadi rasa heran dan rasa takut. Sungguh, Leandra tidak pernah berpikir mengapa Ayahnya akan melarang. Bisa-bisa ia benar-benar akan kehilangan sosok itu.
Ayahnya menggeleng. "Jadi pasangan seorang Abdi Negara itu berat, bukan hanya cinta yang harus dikorbankan, melainkan kebahagiaan. Ayah gak setuju," ucapnya.
Deru napas Leandra yang semakin cepat, bibirnya yang mulai bergetar tanda menahan agar tangisan itu tidak jatuh di hadapan Ayah dan Bundanya. Gemuruh petir di luar, gemercik hujan, membuat suasana semakin terasa tajam.
"Ayah berpikir terlalu jauh, nyatanya Leandra bisa bahagia," gumamnya dengan suara sedikit bergetar.
Napasnya tersenggal, lalu ia melanjutkan, "Leandra ke kamar dulu." Dengan cepat, Leandra berjalan menjauh dari kedua orang tuanya. Namun, langkah itu terhenti saat Ayahnya kembali berkata,
KAMU SEDANG MEMBACA
Atma dan Renjananya
Short StoryKerinduan, pengorbanan, dan bertahan. Hidup masih tetap berjalan meski ada yang hilang. Tolong sampaikan pada bintang, bisikan pada Sang pemiliknya, bahwa memang benar.. semua yang dicinta, pasti akan hilang. "Jika Tuhan masih mengizinkan, saya pa...
