Stasiun Bandung, 27 Januari 2017
Malam ini, Leandra bersama Ayah dan Bundanya sudah berada di stasiun Bandung untuk keberangkatan Leandra kembali ke Jakarta.
Dengan kondisinya yang belum betul-betul sehat, Leandra memaksakan dirinya untuk kembali ke Jakarta saat ini juga. Jaket cukup tebal yang menyelimuti tubuhnya, wajahnya sedikit kusut sebab masih merasa belum pulih sepenuhnya.
"Kamu yakin mau ke Jakarta aja?" ucap Ayah meyakinkan Putrinya.
Leandra mengangguk seraya memeluk Ayahnya. "Yakin, Ayah tenang aja. Leandra nggak sendiri, kok," balasnya.
Seketika, Ayah dan Bundanya mengerutkan alisnya. "Nggak sendiri? Sama siapa?" tanya Ayah dengan cepat.
Lalu, Leandra menunjuk ke arah pria yang tengah berdiri di sana. Jaraknya tak begitu jauh, pria dengan tubuh tinggi, tegap, nan gagah itu. Mengenakan jaket yang warnanya hampir senada dengan warna jaket Leandra. Tau? Ya, itu Baskara!
Baskara ada di sana, ia sudah melakukan pertemuan dengan rekan kerjanya tadi pagi, sehingga malam ini ia akan kembali ke Jakarta bersama Leandra.
Baskara segera menghampiri keluarga kecil itu. Perasaan campur aduk yang Leandra rasakan, antara senang dan takut. Ia hanya ingin membuktikan, bahwa lelaki ini betul-betul menghampiri Ayahnya, meyakinkan cintanya untuk menghindari perjodohan tiba-tiba itu. Sisi lain, ia juga merasa takut, takut Ayahnya memang tidak bisa menerima Baskara dengan baik.
Baskara dengan itikat baiknya, mendekat lalu menyalami Ayah dari Leandra terlebih dahulu. "Baskara, Pak," sapanya ramah, seraya mengulurkan tangannya. Gesturnya telihat sangat sopan, sedikit membungkuk dan lebih banyak tersenyum.
Setelahnya, ia lanjut menyalami Bunda dari Leandra. "Baskara, Bu," ucapnya memperkalkan dirinya lagi.
Bunda yang terlihat menerima Baskara dengan baik, sementara Ayah dengan tatapan tajamnya, mengamati seksama pribadi Baskara. Dari ujung kaki, hingga ujung kepala, benar-benar diamati tak berkedip.
Setelah persekian detik hening, akhirnya Ayah membuka pembicaraan. "Saya titip Putri saya pada kamu, tolong dijaga, katanya dia bahagia bersama kamu," ucap Ayah, yang sontak membuat Leandra terkejut bukan main. Bukannya Ayahnya tidak menyukai Baskara? Tidak menyukai Abdi Negara? Namun.. bagaimana bisa?
Baskara menganggukan kepalanya mantap, senyum manis tersimpul di wajahnya malam ini. "Siap, Pak. Selagi Putri Bapak bahagia, saya jaga kebahagiaannya," balas Baskara.
Rasa takut, ragu, yang Leandra rasakan, kini berubah menjadi haru dan bingung. Secepat itu Ayahnya bisa berubah pikirannya? Pikirnya, ini akan menjadi jalan yang sulit untuk kedepannya. Namun, Tuhan memang punya rencana dan bisa membolak-balikkan hati manusia. Dengan tutur lembut, sikap ramah Baskara, rupanya bisa membuat Ayah dan Bunda Leandra luluh begitu saja.
Dalam Kereta, 19.35
Perjalanan sudah berlangsung sekitar 30 menit tadi. Kini, suasana gerbong kereta yang sepi, tenang, dan ditemani alunan musik saat itu. Leandra duduk tepat di samping kursi penumpang Baskara. Tubuhnya masih diselimuti jaket yang cukup tebal itu, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginknnya terjadi.
Selama 30 menit perjalanan itu, belum ada percakapan panjang antara mereka. Leandra yang masih terlihat lemas, sesekali memejamkan matanya untuk berusaha tertidur. Baskara tidak mau mengganggu itu, ia hanya memperhatikan dan mengawasi Leandra. Takutnya, tiba-tiba tersungkur karena terlelap.
Tanpa disadari, kepala Leandra kini sudah bersandar tepat di bahu kanan Baskara. Terasa hawa panas saat dahi Leandra menyentuh bahunya walau terhalang pakaian yang dikenakan Baskara.
Perlahan, Baskara memegang dahi Leandra. Dan benar saja, suhunya cukup tinggi sepertinya. Baskara membantu agar posisinya jauh lebih nyaman.
"Lee, sudah minum obat?" bisik Baskara, yang membuat Leandra sedikit terusik lalu membuka matanya perlahan.
Ia sadar, rupanya dirinya tengah bersandar di bahu Baskara. Dengan cepat, ia menjauhkan dirinya, namun nihil.. Baskara menahannya. "Udah gapapa, senderan aja. Aman, kok."
Leandra kembali menyandarkan tubuhnya pada Baskara. Tak berdaya, tapi berusaha. "Sudah minum obat?" tanya Baskara lagi.
Leandra menggeleng lemas seraya memegang pelipisnya. "Belum, Bas."
"Saya bantu, di mana obatnya?"
"Di tas hitam itu, resleting depan," jawabnya.
Lalu, Baskara mengambil tas wanita milik Leandra itu. Mencari obat yang katanya berada di resleting depan. "Ada, Bas?" tanya Leandra.
"Ada, minum dulu, ya."
Baskara memberikan satu pill obat itu, lalu membantu membuka tutup botol untuk Leandra.
"Pelan-pelan aja, habis itu tidur, istirahat." Tatapan Baskara tampak serius dan penuh kekhawatiran. Sementara Leandra, merasa terenyuh sekaligus kagum dengan perlakuan Baskara padanya.
"Saya sudah mengunjungi kota impian saya, kota yang saya anggap penuh cinta dan kasih sayang. Semoga, ini juga menjadi awal perjalanan dalam menjemput cinta saya di kota ini, kota lahirnya, Bandung," bisik Baskara dalam hatinya di tengah-tengah perjalanan dan Leandra yang masih tampak tertidur pulas di bahunya.
"Saya menyimpan harapan di kota ini, semoga setibanya di Jakarta ... Bandung membawa rasa bahagia." Lagi-lagi batinnya berisik.
Bersambung...
part 22 ini sedikit yaa, sorry!! see u on next part, guys!
jangan lupa vote, tinggal teken tombol bintang ajaa, babayy‼️
KAMU SEDANG MEMBACA
Atma dan Renjananya
Short StoryKerinduan, pengorbanan, dan bertahan. Hidup masih tetap berjalan meski ada yang hilang. Tolong sampaikan pada bintang, bisikan pada Sang pemiliknya, bahwa memang benar.. semua yang dicinta, pasti akan hilang. "Jika Tuhan masih mengizinkan, saya pa...
