20 | "2017 Bulan Dua"

312 27 9
                                        

Vote dulu sebelum baca🫵🏻

PLAY LAGUNYAAA BIAR ENAK BACANYAA!!

Enjoy, Guys!!!

*****

Bandung, 23 Januari 2017

Sudah terhitung, satu minggu Leandra berada di Bandung. Rasanya tidak ingin cepat berlalu, ia ingin selalu berada bersama orang tuanya, tapi hal penting menunggunya pula di Kota Jakarta.
Mungkin, kurang lebih tersisa satu minggu lagi untuk ia bisa menikmati waktunya di Bandung.

Siang ini, Leandra tengah membantu Bundanya memasak di dapur. Suasana hangat, tenang, damai, kasih sayang, terasa begitu lengkap. Sorot lampu di dapur yang tidak terlalu terang, cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela.

"Bun, bawangnya satu atau dua?" tanya Leandra, ia sedang memotong beberapa bumbu-bumbu dengan pisau kecil di tangannya.

"Tiga, kamu mah gak inget-inget cara masaknya," omel Bundanya, membuat keduanya terkekeh kecil.

"Lupa, udah lama nggak masak ini." Mereka akan memasak sayur kangkung, salah satu makanan favorit Leandra.

Dari arah ruang tengah, terdengar suara Ayahnya memanggil, "Neng! Ini ada telepon, angkat dulu," kata Ayahnya.

Leandra yang sedang memotong perbumbuan itu, langsung segera mencuci tangannya, lalu menghampiri Sang Ayah di ruang tengah. "Siapa, Yah?" tanyanya.

Ayahnya menggeleng seraya menunjuk ponsel milik Putrinya itu di atas meja. Terlihat panggilan masuk dari ponselnya, tertera nama "Kapten Baskara," di situ.

Leandra sigap mengambil ponselnya, lalu berjalan ke halaman belakang untuk mengangkat panggilan telepon itu. Tepat di belakang dapur.

"Halo, Bas?" bisiknya.

"Halo, Lee. Saya ganggu nggak?" ucap Baskara di seberang sana.

Lalu, Leandra duduk di bangku halaman belakang, berusaha lebih santai dalam percakapan ini. "Nggak, cuma lagi bantuin masak aja. Kenapa?"

"Nanyain kabar aja, gimana di Bandung?" ujar Baskara.

Leandra menghirup udara segar siang itu. "Ya ... Bandung, damai, tenang, lengkap juga di sini," jawabnya diiringi tawa kecil.

Ayah dan Bundanya, yang mendengar percakapan itu dari dapur, sepertinya sudah mempersiapkan banyak sekali pertanyaan.

"Siapa, Bun?" tanya Ayah, penasaran.

Bunda yang tengah melanjutkan pekerjaan Leandra yang belum tuntas tadi—memotong bawang, mengangkat bahunya. "Gak tau, tanya anaknya."

Nama "Baskara" terdengar samar dan sering diucap Leandra dalam panggilan telepon itu. Membuat Ayah dan Bundanya semakin penasaran, siapa sebenarnya seseorang itu.

***

Setelah selesai melakukan percakapan singkatnya dengan Baskara barusan. Leandra segera masuk lagi ke dalam. Namun, baru di ambang pintu.. Ayah dan Bundanya sudah berdiri dengan binar mata penuh pertanyaan. Leandra yang masih menyimpulkan senyumnya atas percakapannya tadi dengan Baskara, sedikit terkejut saat langkahnya terhenti.

Ia menggigit bibirnya, lalu menyeringai. "Apa, Yah? Bun?" tanyanya kikuk.

"Nggak gapapa, cuma mau tanya aja, barusan siapa?" ucap Ayahnya.

Leandra menyipitkan pandangnya. "Temen," jawabnya singkat diiringi tawa, lalu dengan setengah berlari kembali ke kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya yang tampak belum puas dengan jawaban Leandra.

Atma dan RenjananyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang