chapter 43 ✅

4.3K 313 13
                                        


Malam di rumah Arlan terasa sunyi, semenjak kepergian Arlan semua seakan kehilangan keharmonisan seperti dulu, Reynand dan Samudra yang menjadi gila kerja, Ana dan Riana yang memilih untuk mengurus toko kue dan butik, Tenggara yang menjadi pribadi yang dingin tak tersentuh sedangkan untuk keluarga Smith mereka seolah hilang di telan bumi setelah kejadian itu, tidak ada informasi sedikitpun mengenai keluarga Smith bahkan untuk urusan kantor mereka mempercayakan nya pada asistennya.

Bahkan itu berlaku bagi teman-teman Arlan, teman-temannya menjadi gampang marah bahkan sampai tidak ada yang mau berdekatan dengan mereka karena semenjak insiden 1 Minggu lalu di mana Arlan berpulang, mereka sering kali memarahi atau bahkan membuat beberapa siswa masuk rumah sakit.

Kini kita kembali pada Ana yang sedang berada di ruang pribadinya di toko kue.

"Ar... Sayang kenapa kamu ninggalin bunda hiks, Ar... Kembali bunda kangen sama kamu sayang" lirih Ana, ia mengelus pigura foto yang di mana terdapat 2 foto, yang satu foto nya bersama dengan Arlan, dan yang kedua foto nya dengan Zayyan dan Delon.

"M-maaf sayang tapi rasanya ini terlalu sulit buat ngiklasin kalian" lirih Ana.

"Kamu ingkar janji Ar, kamu bilang sama bunda kalo kamu bakalan pulang, kalo pulang yang kamu maksud itu kayak gini seharusnya bunda gak ngizinin kamu pergi waktu itu, mungkin aja kamu masih ada di samping bunda ar"

Rasanya sulit untuk mengikhlaskan mereka, rasanya lebih sakit dari pada waktu mendengar bahwa calon anakku sudah tiada, "Ar.. sayang bunda gak pernah nyalahin kamu atas memburuknya penyakit bunda waktu itu, itu semua takdir, bunda gaakan benci sama kamu Ar, gaakan pernah, kamu dan Zayyan adalah anugrah terindah dari Tuhan untuk bunda" lirih ana. Benar kata orang, perpisahan yang paling menyakitkan adalah kematian.

Ar... Lihat di sini banyak yang sayang sama kamu, tapi kenapa kamu harus pulang?

Brak

Gebrakan pintu membuat Ana langsung menghapus air matanya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

"Maaf nyonya tapi ada seorang pria yang memaksa masuk ke sini dan ingin menemui nyonya bahkan dia membuat keributan di depan" Ucap sang asisten.

"Siapa?" Tanya Ana.

"Tuan Geo Gahendra" ucap sang asisten.

"Untuk apa dia kemari" monolog nya.

"Suruh dia kemari" Ucap Ana sang asisten membungkuk lalu pamit keluar.

Tak lama sosok Geo pun muncul dari balik pintu itu dengan senyuman khas nya.

"Katakan apa mau mu" ucap Ana to the point.

"Ah, aku hanya ingin mengucapkan bela sungkawa pada mu" Ucap Geo.

"Sudahkan? Pergi sana" Usir Ana.

"Kau mengusirku? Aku hanya ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Arlan" Ucap Geo.

"Sudah sana pergi! Kau sudah mengatakan nya tadi jadi enyahlah dari hadapan ku"

"Heyy tenang lah, sebenarnya aku ingin mengajakmu kembali bersama ku karena anak sialan itu sudah mati jadi kau tidak perlu repot-repot lagi mengurus nya" ucap Geo, ucapan yang membuat Ana naik pitam.

"Apa maksudmu bajingan?! Aku tidak akan kembali dengan mu!! Dan berhentilah mengatai anakku sialan!! Gara-gara kau mental anakku hancur bajingan!!" Ucap Ana dengan suara yang cukup keras dan untungnya ruangan nya kedap suara jadi tidak akan terdengar keluar.

"Itu kesalahan nya sayang, gara-gara dia kau hilang, penyakit mu bertambah parah dan--" Ucap Geo.

"Berhentilah geo!! Dasar bajingan! yang sialan itu kau Geo!! Ayah mana yang menyiksa anak nya sendiri, mengatainya sialan bahkan memintanya untuk mati! Kau adalah orang ter brengsek Geo!! Sekarang kau puas hah?! Dia sudah tiada, bahkan aku yakin dia tidak akan memaafkan mu setelah apa yang kau lakukan pada nya" Ucap Ana dengan emosi.

Geo berjalan menghampiri ana dan mencengkram dagu nya "aku tidak peduli di maafkan olehnya atau tidak, bahkan aku juga tidak Sudi mengakui bahwa dia adalah anakku, sekarang menurut lah dan pulang bersamaku sayang, anak-anak kita sudah menunggu di rumah"

"Dasar brengsek aku tidak akan kembali dengan mu!! Sekarang aku mengerti bahwa kau dikatai oleh Delon bahwa kau tidak pantas di sebut sebagai seorang ayah Geo!! Mungkin jika aku menjadi Arlan aku sudah bunuh diri, aku menyesal memilihmu sebagai pendamping ku dulu" ucap Ana, tentu saja ucapannya membuat emosi Geo semakin meluap, ia kembali mencengkram dagu ana sehingga dagu nya berdarah akibat kuku kuku Geo.

"Kau menyesal memilihku hmm? Jika  aku tidak bisa memilikimu maka orang lain pun tidak bisa, bahkan dulu aku pernah berniat membunuh kakak mu karena tidak merestui kita, apa kau tau itu?"

"Dasar orang gila!!" Teriak Ana.

"Sepertinya memang kau tidak bisa menjadi penurut ya"

Geo mengambil sebuah pisau lipat dan mengarahkan nya ke leher ana, mata ana membulat sempurna kala melihat benda itu, ia memberontak agar di lepaskan namun tenaga nya tak sebanding dengan Geo membuat nya menyerah.

"Tenang lah ana aku akan mengawetkan mu agar aku tetap bisa melihat mu"

Jleb


























































"Arlan!!"

Ana tiba tiba saja terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal ia melihat kesekeliling nya tidak ada siapapun disana ia bergegas untuk turun kebawah.

Saat berada di lantai dasar ia melihat bahwa di sana ada Reynand, Riana para keponakannya dan tak lupa dengan Delon dan Alex, raut wajah mereka tampak suram entah apa penyebabnya, dengan langkah tergesa gesa ia menghampiri mereka dan langsung menanyakan hal yang sedari tadi ingin ia ketahui.

"Dimana Arlan kak?" Tanya Ana dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Arlan? Apa kamu lupa ana arla--" belum sempat menjawab pertanyaan dari Ana tiba tiba saja ana menangis.

"Hiks kak anakku kak" ucap Ana.

Sedangkan mereka semua menatap Ana dengan bingung.

"Arlan kenapa?" Tanya Reynand.

"Hiks kak d-dia udah pergi ninggalin kita hiks"

"Pergi kemana? Sebenernya kamu kenapa Ana? Arlan emang udah pergi dan sekarang baru 3 hari kepergian ny-" tangis Ana semakin menjadi jadi kala Reynand berkata seperti itu rasanya dada nya sakit seakan di tikam oleh ribuan belati.

"Heyy ana sudahlah jangan menangis Arlan memang pergi tapi dia pergi ke perusahaan tadi malam dia pulang dari Jepang tapi karena ada urusan mendadak, ia jadi langsung ke kantor dan tidak pulang kesini dulu" Jelas Reynand

"Dan apa yang membuatmu menangis?" Ana terdiam membisu mendengar penjelasan dari Reynand.

"Jadi tadi hanya mimpi? Tapi kenapa terasa seperti sebuah kenyataan?" Batin ana

"Ouh iya ini tadi Arthur memberikan sebuah berkas katanya untuk mu dari Arlan" ucap Riana sambil memberikan sebuah berkas kepada Ana, Ana yang masih shock ketika mengetahui jika tadi hanyalah mimpi pun dengan cepat membuka berkas itu, namun isi berkas itu bukan surat seperti di mimpinya tadi.

"Apa ini kak?" Tanya Ana.

"Itu surat kepemilikan sebuah butik, katanya dia memberikan nya untuk mu karena kau dulu sangat senang mendesain dan membuat baju" jelas reynand

Ana terdiam mematung di tempat, apa Arlan masih ingat hobi nya saat dulu? Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Pikirnya

"Sebenernya kenapa kau tadi menangis?" Tanya Reynand.

"Tadi aku bermimpi bahwa a-arlan sudah tiada" ucap ana di akhiri lirihan di kalimat akhirnya.

"Astaga Ana kau terlalu banyak pikiran setelah Arlan pergi ke jepang, dia tidak akan kenapa napa lagipula Arthur selalu ada dengannya kan?" Ucap Reynand, Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Reynand.

"Bagaimana jika kita ke perusahaan Arlan supaya kau tidak khawatir lagi padanya" Tawar Delon, Ana mengangguk akan ajakan dari Delon.

"Aku akan bersiap" ucap Ana lalu ia pergi ke atas untuk bersiap pergi











Vote janlup

Arlan (Selesai Dirombak)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang