Reynald yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa tertegun, napasnya tercekat melihat pemandangan itu. Farrel tak sempat bereaksi. Kedekatan Nayla begitu tiba-tiba, dan sebelum dia sempat menikmati, bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir perempuan itu. Hangat. Lembut. Tapi penuh tekanan yang menuntut, seolah Nayla tak sekadar mencium—melainkan menunjukkan kepemilikan.
Farrel membuka matanya lebar-lebar, terasa ada konflik besar dalam dirinya. Detik-detik itu seolah melambat. Rasa canggung, marah, dan bingung bercampur menjadi satu. dia merasa tertahan oleh kekacauan yang ditimbulkan Nayla. Tapi tubuhnya tak bergerak, hanya diam membeku di tempat.
“Lo pikir gue bakal nyerah? cuma karena lo bilang enggak mau balikan, Rel?” suara Nayla terdengar rendah dan penuh emosi ketika dia akhirnya menarik diri. Senyum dingin terukir di wajahnya. “Kita itu enggak selesai. Never will.”
Farrel menyeka bibirnya, raut wajahnya penuh campuran rasa kesal dan kecewa. “Lo pikir ini cara buat gue mau balik sama lo?” katanya dingin, suaranya bergetar tipis.
“Apa pun yang bakal gue lakuin,” jawab Nayla sambil melipat tangan di dadanya, “lo bakal inget gue. Mau lo terima atau enggak, gue bakal tetap jadi bagian dari hidup lo, Rel.”
Reynald akhirnya melangkah maju, matanya tajam menatap Nayla. “Udah cukup, Nay,” suaranya tegas namun tenang. “Jangan pake cara kayak gini.”
Nayla melirik Reynald, lalu tertawa kecil. “Kenapa? Lo takut Farrel enggak bakal nolak gue kali ini?” katanya tajam.
Farrel akhirnya menatap Nayla dengan sorot mata yang berbeda—bukan cinta, bukan amarah. Hanya kelelahan. Dia mendekati Nayla, menatapnya dalam-dalam. “Gue enggak takut sama lo, Nay. Gue cuma capek. Kalau lo masih punya harga diri, berhenti di sini.”
Mendengar itu, Nayla terdiam sejenak. Tapi senyumnya kembali merekah, penuh arti. Dia melangkah mundur sambil menatap Farrel dengan pandangan tajam. “Kita lihat aja, Rel. Lo bakal nyari gue lagi suatu hari nanti.”
Tanpa menunggu balasan, Nayla berbalik pergi, meninggalkan Farrel dan Reynald yang masih terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Farrel menatap punggung Nayla yang mulai menjauh dengan pikirannya dipenuhi campuran rasa muak dan bingung. Namun sebelum suasana hening itu benar-benar menyelimuti ruangan, langkah-langkah kecil yang terdengar tergesa menghentikan semuanya.
Keira berdiri di pintu markas dengan raut wajah terkejut, matanya menatap pemandangan yang baru saja dilihatnya. Sejenak, dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, hingga akhirnya ia berlari keluar dari markas.
"KEIRA!"seru Farrel, lalu mengejar Keira yang baru saja melihat kejadian yang tidak pantas dilihat.
"Nayla benar benar gila kali ini."ketus Reynald, sambil melihat Farrel yang sedang mengejar Keira.
Saat Farrel mengejar Keira kebawah, dan ia berhasil menggenggam perempuan tersebut hingga memberhentikan langkah kakinya.
"Gue bisa jelasin semuanya Kei."sahut Farrel, dengan nafas yang berat ia langsung memeluk Keira dari belakang.
"Kei, semua yang Lo lihat kejadian nya bukan seperti itu."ucap Farrel, namun Gadis itu hanya bisa mengais dipelukan Farrel.
Entah apa yang dipikirkan perempuan itu, rasanya campur aduk, ada banyak hal yang tak terduga saat ia bersama Farrel. Namun tak bisa dipungkiri ia sudah mulai merasa nyaman saat bersama laki laki yang ia sebut troublemaker.
Perempuan itu menggenggam lengan Farrel, untuk melepaskan pelukan ditubuhnya. Saat ia berhasil melakukan itu, ia berbalik arah menoleh ke arah laki laki yang memeluknya. Keira hanya menatap Farrel sangat dalam seperti penuh arti tatapannya. namun mulutnya tidak bisa membuka lebar apa yang ia rasakan.
Tanpa peringatan, Farrel menarik Keira mendekat dan mencium bibirnya. Hujan yang deras menutupi segalanya, membasahi tubuh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)
Fiksi RemajaSEMESTA bertemu dengannya adalah ketidaksengajaan yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh. apakah luka ini sudah benar benar sembuh? ntahlah rasanya ia ada ruang tersendiri di dalamnya. Semesta kumohon, pertemuan pertama yang membuatku jatuhc...
