TIME

57 24 0
                                        

Butuh waktu, untuk melewati lembaran baru.

Happy reading!

Farrel melangkah cepat menuju ruang UKK. Setibanya di depan pintu, ia terdiam sejenak. Napasnya masih tersengal, campuran emosi, panik, dan rasa bersalah berkecamuk dalam dadanya. Ia genggam erat gagang pintu, lalu membukanya perlahan.

Di dalam, Keira sedang duduk di ranjang kecil, ditemani Salma, Gabby, dan Elina. Wajahnya tampak pucat, pipinya memerah bekas tamparan. Salma langsung berdiri saat melihat Farrel muncul.

"Lo ngapain ke sini?" tanya Salma tajam.

Farrel tidak menjawab. Tatapannya langsung tertuju pada Keira-gadis yang kini duduk lemah, namun tetap mencoba tegar.

Keira dan Farrel saling bertatapan. Namun tak satu kata pun keluar dari mulut mereka. Hanya keheningan yang memenuhi ruangan.

"El, tolong temani Keira ke toilet sebentar," ujar Salma tiba-tiba. Gabby dan Elina langsung mengangguk, kemudian membantu Keira berdiri dan membawanya keluar dari ruangan sebentar.

Kini tersisa Salma dan Farrel.

"Gue tahu lo mau lihat Keira," ucap Salma lirih, namun tajam. "Tapi keadaan ini semua ada andil lo, Rel."

"Gue gak tahu Nayla bisa sampai segila itu," balas Farrel, suaranya parau. "Gue bahkan gak ngerti kenapa Keira harus sampai disakitin kayak gitu."

Salma menatap Farrel lama. "Lo tahu apa yang paling nyakitin? Keira diam. Dia gak mau nyalahin siapa-siapa. Bahkan dia masih nutupin semua luka, demi nggak bikin lo ngerasa bersalah."

Farrel terdiam. Perkataan Salma bagai tamparan keras di wajahnya.

"Jauhi Keira, Rel. Gue harap ini yang terakhir kalinya Nayla menyakiti Keira lagi." Setelah berkata begitu, Salma berbalik dan membuka pintu. "Gue kasih lo waktu sebentar. Tapi kalau Keira gak mau ketemu, lo harus terima."

Farrel mengangguk pelan. Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Keira masuk sendirian, dengan langkah perlahan.

Farrel berdiri. "Keira..."

Keira hanya memandangnya, tanpa berkata apa-apa.

"Aku minta maaf," ucap Farrel pelan, menunduk. "Aku gak tahu harus mulai dari mana. Tapi... aku gak bisa diam saat tahu kondisi kamu."

Keira menarik napas dalam. "Aku baik-baik aja, Rel."

"Enggak," potong Farrel. "Lo gak baik-baik aja. Dan gue tahu itu."

Keira tersenyum kecil, penuh luka. "Tapi aku harus terlihat kuat, kan? Karena kalau aku jatuh... gak akan ada yang bisa bangunin aku lagi."

Farrel melangkah maju, tapi Keira mengangkat tangan, memberi isyarat untuk tidak terlalu dekat.

"Aku butuh waktu, Rel. Buat sembuhin semua ini. Luka, trauma, semuanya."

Farrel mengangguk, meski jelas berat baginya. "Gue akan nunggu. Sampai kapan pun itu, gue akan tetep di sini."

Keira hanya menunduk. Ia tak sanggup menatap mata Farrel terlalu lama.

SEMESTA & LUKANYA (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang